Stroke dapat dialami oleh bayi baru lahir. Karena seperti itu, penting untuk mengetahui gejala dan pencegahan stroke pada bayi baru lahir.

Stroke merupakan masalah kesehatan yang umumnya dialami oleh orang tua atau usia lanjut. Namun, sebenarnya stroke itu sendiri dapat terjadi dalam setiap titik perjalanan hidup seseorang, mulai dari bayi, anak-anak hingga bayi yang baru dilahirkan sekalipun. Stroke pada bayi baru lahir atau pada kehidupan pertama bayi biasanya tidak disadari oleh orang tua.

Stroke merupakan keadaan ketika aliran darah menuju otak tiba-tiba menurun atau berhenti. Keadaan ini dapat menyebabkan terjadinya kerusakan pada otak. Stroke itu sendiri terdapat dua jenis, yakni stroke hemoragik dan stroke iskemik.

Stroke Pada Bayi Baru Lahir

Stroke hemoragik merupakan stroke yang terjadi pada saat pembuluh darah yang dekat atau yang berada dalam otak pecah, sehingga akan menyebabkan perdarahan pada otak.

Sedangkan stroke iskemik yaitu stroke yang terjadi pada saat aliran darah menuju otak berkurang. Keadaan ini biasanya disebabkan karena adanya pembekuan atau disebut dengan trombus yang terjadi pada salah satu pembuluh darah yag terdapat pada otak. Stroke iskemik yang terjadi pada anak-anak atau khususnya bayi baru lahir terdiri dari dua jenis, yakni trombosis sinovenous dan stroke iskemik arteri. Trombosis sinovenous merupakan keadaan dimana terdapat gumpalan darah pada salah satu pembuluh darah pada otak. Sedangkan stroke iskemik arteri adalah keadaan dimana terdapat pembekuan dalam arteri otak.

Stroke yang dialami oleh bayi baru lahir umumnya lebih tinggi dibanding dengan bayi yang berada pada masa pertumbuhan atau anak-anak. Setelah bayi melewati periode baru lahir, risiko terjadinya stroke akan lebih kecil.

Penyebab dan Faktor Pemicu Stroke Pada Bayi Baru Lahir

Persalinan merupakan salah satu hal yang memiliki risiko terjadinya stroke pada bayi yang baru dilahirkan. Ketika proses melahirkan, maka ketegangan akan terjadi pada kepala bayi. Stres yang terjadi pada vena dan arteri pada kepala bayi akan menyebabkan terbentuknya gumpalan, akibatnya stroke akan terjadi.

Bayi baru lahir memiliki darah lebih tebal dibandingkan dengan orang dewasa sekalipun, ini disebabkan karena sel darah merah bayi lebih banyak dibandingkan dengan orang dewasa. Karena seperti itu, keadaan ini bisa saja mengarah pada pembekuan. Beberapa hari pertama setelah dilahirkan, masalah dehidrasi bisa terjadi, yang mana keadaan ini juga dapat menyebabkan pembekuan darah.

Terdapat beberapa faktor yang dapat membuat risiko stroke lebih tinggi pada bayi baru lahir seperti berikut:

  • Apabila bayi baru lahir mengalami cacat lahir, seperti adanya lubang pada jantungnya, maka keadaan ini akan memudahkan gumpalan darah untuk melalui bagian tubuh bayi yang lainnya, kemudian melalui jantung, dan menuju ke otak.
  • Terdapat riwayat keluarga yang memiliki masalah terhadap pembekuan darah. Dimana faktor risiko ini lebih tinggi pada bayi baru lahir.
  • Mengalami infeksi yang serius seperti meningitis pada bayi atau sepsis. Keadaan ini dapat mengarah pada pembekuan darah.

Pencegahan Stroke Pada Bayi Baru Lahir

Stroke pada bayi baru lahir banyak terjadi saat kehamilan. Langkah pencegahan yang bisa dilakukan yaitu dengan memastikan janin menerima aliran darah sehat ketika berada di dalam rahim. Ibu hamil sebaiknya memperhatikan asupan nutrisinya, konsumsi makanan yang baik dan sehat, serta hindari merokok dan keadaan yang dapat menyebabkan dehidrasi.

Apabila ibu hamil memiliki riwayat pembekuan darah, maka sebaiknya ibu segera memeriksakan diri untuk memastikan apakah ibu membawa masalah genetik yang dapat menyebabkan bayi mengalami pembekuan atau tidak. Apabila dokter memastikan bahwa bayi yang dikandung memiliki masalah ini, dokter dapat melakukan langkah untuk menangani keadaan ini.

Apabila bayi memiliki jumlah sel darah merah yang banyak, yang dapat menimbulkan terjadinya masalah selama kehamilan dan saat persalinan, maka penggumpalan darah akan cenderung terjadi pada bayi baru lahir. Untuk mencegah stroke pada bayi baru lahir, biasanya dilakukan transfusi darah parsial.
Ketika bayi lahir, keadaan dehidrasi dapat menyebabkan terjadinya gumpalan.

Tanda dehidrasi pada bayi

Apabila anda melihat tanda-tanda dehidrasi pada bayi, segeralah bawa bayi anda ke dokter.

Tanda-tanda dehidrasi pada bayi itu sendiri di antaranya yaitu:

  • Mata bayi cekung dan tidak berair
  • Mulut bayi cenderung kering
  • Kulit bayi kering
  • Ubun-ubun bayi cekung
  • Popoknya tidak diganti kurang dari enam kali, itu tandanya bayi tidak sering buang air kecil

Stroke bisa didiagnosa saat bayi masih berada dalam kandungan. Dimana keadaan ini terjadi apabila bayi mengalami cacat lahir, kemudian ibu akan melakukan tes MRI (fetal magnetic resonance imaging). Tes ini efektif dalam mendeteksi stroke yang terjadi pada bayi saat masih berada di dalam kandungan. Apabila stroke yang dialami bayi sebelum lahir tergolong berat, maka keadaan tersebut dapat dideteksi dengan USG normal selama kehamilan.

Bayi baru lahir yang kemudian mengalami kejang-kejang harus dites USG, serta CT kepala untuk melihat tanda stroke.

Meskipun dapat didiagnosa ketika masih berada dalam kandungan. Namun, stroke tidak dapat diobati hingga bayi lahir ke dunia ini. Ketika bayi lahir, memperbaiki kerusakan karena stroke tidak mungkin dilakukan. Akan tetapi, biasanya dokter akan memberikan obat untuk mencegah agar pembekuan tidak bertambah buruk.

Mewaspadai stroke yang terjadi pada bayi baru lahir penting bagi semua orang tua. Ketika anda menemukan adanya sesuatu yang salah pada bayi anda, sebaiknya segera bawa si kecil ke dokter untuk mengetahui dan memastikan lebih lanjut keadaan bayi anda.

Stroke perinatal dalam beberapa kasus dapat menyebabkan epilepsi pada anak. Dimana stroke perinatal itu sendiri memiliki hubungan dengan epilepsi. Ketahui penjelasan lainnya, mengenai penyebab stroke sebelum dan sesudah bayi lahir, serta ciri-ciri epilepsi pada bayi atau anak.

Stroke perinatal merupakan stroke yang menimpa bayi dan terjadi antara bayi masih berada di dalam kandungan dimana usia kehamilan 28 minggu, sampai usia kelahiran bayi 28 hari. Dalam beberapa kasus, stroke perinatal dapat menyebabkan epilepsi.

Lantas apa itu epilepsi? Epilepsi merupakan salah satu masalah kesehatan yang menimpa otak. Penyakit otak ini akan membuat penderitanya mengalami keadaan kejang yang jarang terjadi, serta akan terjadi tidak terduga, namun terjadi berulang. Banyak orang yang beranggapan bahwa kejang adalah keadaan tubuh bergetar atau bergerak-gerak tidak terkontrol. Akan tetapi, keadaan kejang itu sendiri sebenarnya bervariasi. Keadaan yang bisa disebut dengan kejang yaitu ketika mata menatap ke atas, dimana tatapan matanya kosong meskipun tubuhnya tidak bergetar atau bergerak, atau hanya bergetar sementara pada bagian tubuh tertentu namun tidak kehilangan kesadaran.

Stroke Perinatal

Epilepsi dapat terjadi tanpa penyebab yang diketahui. Namun, umumnya epilepsi itu sendiri dapat terjadi karena adanya kelainan dalam struktur otak, seperti misalkan adanya gangguan arteri.

Hubungan Stroke Perinatal Pada Bayi Dengan Epilepsi

Akibat stroke, cedera permanen pada otak dapat terjadi. Dimana cedera permanen ini dapat menjadi penyebab kejang yang berulang atau epilepsi. Stroke perinatal itu sendiri dianggap sebagai penyebab ke 2 kejang perinatal.

Sebanyak 17% bayi menderita kejang perinatal pernah mengalami stroke. Dimana stroke perinatal ini terjadi 1 dari 4.000 kelahiran bayi.

Penyebab Stroke Saat Bayi Dalam Kandungan

Stroke yang terjadi saat bayi berada di dalam kandungan disebabkan oleh beberapa keadaan tertentu. Beberapa penyebab stroke sebelum bayi lahir di antaranya:

Gumpalan darah

Pada saat dua bayi atau lebih berbagi rahim yang sama, dimana salah satu bayi meninggal sebelum dilahirkan, maka gumpalan darah akan terbentuk. Dimana gumpalan darah yang terbentuk ini akan menjadi jaringan yang mati, serta dapat diserap dan mengalir dalam plasenta. Keadaan ini akan menyebabkan stroke pada bayi yang masih hidup dan belum lahir.

Kista porencephalic

Kista porencephalic terjadi ketika terdapat cairan asing mengisi rongga dalam otak, dimana cairan tersebut akan mempengaruhi aliran darah dari otak ke bagian tertentu sehingga akan menyebabkan stroke.

Perdarahan

Perdarahan berat ketika persalinan dapat menjadi penyebab stroke pada bayi. Selama proses kelahiran, ibu yang mengalami kehilangan darah dalam volume yang cukup besar, maka tekanan darah sang ibu akan turun, akibatnya tidak akan ada darah cukup yang dialirkan ke otak bayi yang belum lahir. Keadaan ini akan menyebabkan stroke iskemik.

Penyebab Stroke Setelah Bayi Lahir

Umumnya, penyebab stroke pada bayi yang baru lahir adalah:

Infeksi Katup Jantung

Pada saat katup jantung bayi terinfeksi oleh bakteri, pelet kecil yang dihasilkan oleh bakteri akan berpindah ke otak dan akan menyebabkan stroke. Selain itu, infeksi jantung pada bayi dapat menyebabkan aritmia yang akhirnya akan menjadi penyebab stroke.

Kelainan Anatomi Jantung

Kelainan fungsi dan anatomi jantung akan menyebabkan terbentuknya gumpalan darah. Dimana gumpalan darah tersebut bisa mengalir ke otak, sehingga akan menyebabkan stroke.

Penyebab lainnya

Keadaan lainnya yang dapat menyebabkan stroke pada bayi baru lahir yaitu antifosfolipida, merupakan keadaan dimana orang tua dan antibodi tidak normal lainnya dapat menjadi pemicu terbentuknya gumpalan darah. Selain itu, trauma pada saat melahirkan, orangtua yang mengalami diabetes, bedah yang dilakukan untuk memperbaiki cacat lahir pada jantung bayi dapat menjadi penyebab kejang pada bayi baru lahir.

Umumnya, sekitar 70% bayi yang mengalami stroke perinatal akan berlanjut pada keadaan epilepsi pada anak.

Untuk mendeteksi epilepsi pada anak atau bayi, beberapa kondisi fisik dapat menjadi tanda epilepsi seperti berikut:

Ciri Epilepsi Pada Bayi atau Anak

  • Pada saat serangan terjadi, bayi atau anak seringkali akan hilang kesadarannya beberapa saat. Akibatnya, bayi tidak akan sensitif pada rangsangan suara, bau atau sentuhan.
  • Mengalami kejang otot. Berdasarkan The University of Iowa Children’s Hospital, kejang adalah gejala umum yang terjadi pada semua bayi atau anak penderita epilepsi. Kejang otot itu sendiri terjadi hanya beberapa saat dan akan mereda.
  • Bayi seringkali meremas bibirnya atau memukul-mukul.
  • Terdapat kelainan pada struktur otak. Untuk mendeteksi keadaan ini dokter akan menggunakan CT (computed tomography), MRI (magnetic resonance imaging), dan PET (positron emission tomography). Dengan metode ini maka aktifitas pada otak akan terdeteksi, serta mendeteksi berbagai kelainan struktur lainnya pada otak.
  • Terdapat ketidaknormalan pada gelombang otak bayi. Untuk mengetahui keadaan ini dokter akan melakukan tes dengan menggunakan electroencephalogram (EEG). Tes ini dilakukan oleh dokter untuk merekam aliran listrik atau gelombang di otak bayi.

Beberapa cara bisa dilakukan untuk mengobati epilepsi pada bayi, anak-anak atau orang dewasa. Metode yang bisa digunakan untuk mengobati epilepsi yaitu dengan terapi obat, diet makanan, stimulasi syaraf dan operasi.