Mengenali Ciri dan Tanda Sindrom Asperger Pada Anak – Sindrom Asperger pada anak terjadi dengan tanda mirip dengan autisme. Hanya saja, jika pada anak yang menderita sindrom autisme mereka akan mengalami kesulitan berbicara, berbahasa dan lain sebagainya. Anak dengan sindrom Asperger tidak mengalami kondisi yang satu ini.

Justru sebaliknya, mereka lebih mampu hidup normal dengan kecerdasan rata-rata. Sehingga kondisi inilah yang lebih sulit dikenali. Untuk itu, mari simak mengenali ciri dan tanda Sindrom Asperger pada anak dibawah ini.

Pada umumnya ciri yang ditunjukan oleh pengidap sindrom Asperger akan cenderung lebih mirip dengan autisme. Sehingga sebagian orang seringkali mendapatkan diagnosis yang keliru dari kondisi ini. Sindrom Asperger memang berada dalam spektrum autisme. Akan tetapi, kondisi ini seringkali dianggap sebagai autisme yang ringan. Sebab mereka yang mengidap sindrom ini tidak mengalami gejala parah pada anak autisme. Baca juga: Tips Mengajarkan Anak Menghormati Bulan Puasa

Mengenali Ciri dan Tanda Sindrom Asperger Pada Anak

Umumnya anak-anak autisme menunjukan gejala dimana mereka mengalami kesulitan berbicara, berkomunikasi, belajar dan masih banyak lagi. Akan tetapi, tidak demikian dengan anak yang menderita Sindrom Asperger. Mereka justru cenderung lebih cerdas, kreatif dan bahkan kehidupan mereka pun tidak mengalami kendala.

Nah, karena gejala yang dinampakan oleh penderita sindrom asperger nampak abu-abu. Maka mari kita simak mengenali ciri dan tanda sindrom asperger pada anak dibawah ini.

Mengenali Ciri dan Tanda Sindrom Asperger Pada Anak

Diagnosis terhadap sindrom Asperger bisa ditegakkan setelah dokter atau spesialis melakukan serangkaian test berdasarkan instrumen tertentu. Namun, umumnya mereka yang mengidap sindrom ini akan mulai menunjukkan gejala seperti:

Gangguan Berkomunikasi

Anak-anak yang menderita sindrom yang satu ini akan mulai menunjukan gejala seperti kesulitan pada saat berkomunikasi. Meskipun kemampuan berbahasa mereka nampak lancar dan bahkan piawai. Akan tetapi, pada saat berkomunikasi tentunya bukan hanya kemampuan menyusun kosa kata saja yang penting diperhatikan. Namun dalam hal ini ada ekspresi yang dibutuhkan agar kosa kata yang disusun mampu tersampaikan dengan baik.

Inilah yang terjadi dengan anak yang menderita sindrom asperger. Mereka tidak mampu mengekspresikan hal0hal yang bersifat abstrak atau bermakna ganda. Selain itu, anak dengan sindrom ini pun akan cenderung memotong pembicaraan orang lain yang dianggapnya bertele-tele.

Gangguan Interaksi Sosial

Selain bermasalah dalam hal berkomunikasi, anak yang mengidap sindrom Asperger pun akan cenderung kesulitan dalam interaksi sosialnya. Hal ini terjadi sebab mereka kerap merasa berbeda dari orang lain. Selain itu, masalah kesulitan dalam memahami atau dipahami dalam masyarakat. Cenderung membuat anak-anak dengan sindrom ini akan menarik diri dari pergaulannya. Akibatnya mereka akan lebih senang menyendiri dan tidak mengekspresikan dirinya dihadapan orang lain.

Rutinitas yang Berulang

Sama halnya dengan anak-anak yang menderita autisme. Anak yang menderita sindrom Asperger pada umumnya tidak menyukai hal-hal atau kegiatan yang berubah dan baru. Mereka akan cenderung melakukan aktivitas secara repetitif.

Kesulitan dalam menyesuaikan dengan kondisi tertentu diklaim menjadi hal yang mempengaruhi kondisi ini. Sehingga demikian, ketika orangtua merubah pola aktivitas hariannya. Maka si kecil akan cenderung kebingungan atau bahkan tidak memberikan respon yang baik pada hal-hal tersebut.

Demikianlah beberapa ciri dan tanda Sindrom Asperger pada anak yang penting untuk dipahami. Pada dasarnya kondisi sindrom asperger yang terjadi pada anak bukanlah sebuah penyakit yang akan mempengaruhi kualitas hidup si kecil. Jadi demikian, tak perlu merasa pusing atau bingung bagaimana mengobati kondisi ini. Yang diperlukan oleh buah hati anda adalah bimbingan dan kehadiran anda untuk mendukungnya.

Mengenal Sindrom Asperger Pada Anak – Bila anda menemui anak yang sangat cerdas dan memiliki bakat yang luar biasa. Namun mereka cenderung pemalu dan sulit berinteraksi dengan orang lain. Bisa jadi si kecil mengidap sindrom asperger. Banyak orang menyalah artikan sindrom asperger dengan sindrom autisme. Kekeliruan ini perlu segera diperbaiki agar orangtua paham penanganan anak sesuai dengan kondisi yang mereka alami.

Sindrom asperger untuk pertama kali ditemukan pada tahun 1941 oleh seorang bernama Hans Asperger. Setelah itu, sindrom tersebut resmi menjadi diagnosis medis yang berada dalam golongan gangguan spektrum autistik (GSA) di tahun 1981.

Di Indonesia sendiri belum ada data pasti yang menunjukan prevelensi penderita sindrom asperger. Akan tetapi, rata-rata diseluruh dunia tercatat ada 4 dari 1.000 pasien yang mengidap sindrom yang satu ini.

Sementara itu dari data yang dirangkum, kebanyakan pasien yang menderita kondisi ini adalah laki-laki dibandingkan dengan perempuan. Lalu apa sebenarnya sindrom asperger pada anak? Mari simak dibawah ini. Baca juga: Pahami Gejala Infeksi Saluran Kemih Pada Anak

Mengenal Sindrom Asperger Pada Anak

Mengenal Sindrom Asperger Pada Anak

Sindrom Asperger berada dalam spektrum autisme. Adapun gejala atau ciri-ciri yang ditunjukkan dari kondisi ini adalah autisme yang amat mirip. Kondisi inilah yang seringkali membuat diagnosis seringkali keliru.

Akan tetapi, pada sindrom asperger kondisi ini dianggap sebagai autisme yang ringan. Mereka tidak mengalami kesulitan dalam belajar, berbahasa maupun memproses informasi seperti yang dialami oleh penderita autisme.

Justru sebaliknya, anak dengan sindrom Asperger akan cenderung terlihat lebih cerdas dan menunjukan bakat yang luarbiasa. Bahkan kecerdasan mereka bisa melebihi rata-rata.

Tak seperti penderita autisme. Mereka yang mengalami sindrom asperger lebih cenderung mampu menjalani aktivitasnya seperti biasa. Hanya saja, adakalanya mereka mengalami kesulitan untuk dapat menyesuaikan diri.

Perlu diketahui bahwa diagnosis dari sindrom asperger sudah dapat diketahui sejak anak berusia 3 tahun. Akan tetapi, beberapa orang baru akan mulai menunjukan gejala saat mereka masuk usia pendidikan akademik. Seperti mislakan sekolah, remaja atau bahkan saat si kecil beranjak dewasa.

Mereka yang mengalami sindrom Asperger akan cenderung rentan dengan gangguan perkembangan mental. Hal ini bisa mungkin mengakibatkan persepsi dan pola pikir yang berbeda dengan orang kebanyakannya.

Apa Penyebab Sindrom Asperger?

Sebenarnya hingga sampai saat ini, belum ada penelitian atau research pasti yang menyatakan pemicu dari sindrom asperger pada anak dapat terjadi. Hanya saja, para ahli percaya bahwa kondisi ini antara lain dipengaruhi karena faktor lingkungan dan genetik.

Jadi demikian, anak yang menderita sindrom asperger bisa jadi mendapatkan kondisi ini sebagai kondisi warisan dari keluarga atau saudaranya. Ketika anda mendapati si kecil mengalami kondisi ini. Coba periksa kembali apakah dari silsilah keluarga anda ada yang menderita kondisi serupa atau tidak. Bila tidak, maka kondisi ini dikembangkan akibat dari lingkungan.

Penanganan Sindrom Asperger

Pada dasarnya kondisi ini bukanlah gangguan penyakit atau disabilitas yang akan dapat memepengaruhi kualitas hidup si penderita secara negatif. Tak berarti pula mereka yang didiagnosis menderita sindrom ini maka kehidupan si buah hati tidak akan berkembang dengan baik layaknya orang lain.

Banyak anak yang menderita sindrom asperger mampu tumbuh dewasa dan membangun karir. Tak sedikit diantara mereka bahkan mampu memimpin diri mereka sendiri dan hidup dengan normal. Jadi demikian, tak perlu terlalu khawatir dengan kondisi ini anda hanya perlu memberikan perhatian penuh pada si buah hati.