Dampak Positif dan Negatif Bayi Tidur Tengkurap – Melihat si kecil tidur dengan nyenyak akan tentu membuat orangtua merasa tenang. Apalagi saat posisi bayi tidur tengkurap biasanya mereka akan terlihat lebih menggemaskan. Akan tetapi, sebenarnya ada kontroversi yang besar dari posisi bayi tertidur dengan tengkurap. Mari simak dampak positif dan negatif bayi tidur tengkurap.

Bayi yang tidur dengan nyenyak dan mendapatkan posisi tidur yang nyaman akan tentu membuat orangtua tenang melihatnya. Kondisi bayi yang tertidur dengan pulas bisa mengindikasikan bahwa tubuhnya terasa nyaman. Hal ini pun dapat menjadi tanda yang baik bahwa bayi anda jauh dari masalah penyakit yang membuat tubuhnya tidak nyaman.

Ada cukup banyak posisi tidur yang akan dipelajari oleh bayi sesuai dengan perkembangannya. Salah satunya adalah kondisi tengkurap bayi bayi. Melihat bayi tidur dengan posisi tengkurap bisa sangat menyenangkan dan menggemaskan.

Akan tetapi, disamping ini ada banyak kontroversi mengenai posisi tengkurap pada tidur bayi. Nah, untuk mengetahui seperti apa saja hal tersebut. Mari kita simak dampak positif dan negatif bayi tidur tengkurap. Penasaran seperti apa? Simak informasinya dibawah ini. Baca juga: Ketahui Gejala Epilepsi yang Sering Terjadi Pada Bayi

Dampak Positif dan Negatif Bayi Tidur Tengkurap

Dampak Positif dan Negatif Bayi Tidur Tengkurap

Tidur atau bermain dengan posisi tengkurap bisa jadi mengindikasikan kemampuan baru yang bisa dikuasai oleh si kecil. Akan tetapi, disamping itu kondisi tengkurap pada bayi pun bisa menimbulkan bahaya yang cukup kontroversial. Mari simak dampak positif dan negatif bayi tidur tengkurap dibawah ini.

Dampak Positif Bayi Tidur Tengkurap

Posisi tengkurap pada tidur bayi sebenarnya bisa bermanfaat dalam menstimulasi kekuatan otot tubuh bayi. Selain beberapa manfaat tersebut, dibawah ini adalah manfaat lain dari posisi tengkurap pada bayi.

Melatih otot Bagian Leher

Manfaat pertama dari tidur dengan posisi tengkurap pada bayi adalah melatih otot-otot tubuh yang terkait. Salah satunya adalah otot pada bagian leher. Hal ini dikarenakan pada posisi tidur yang seperti ini maka secara tidak langsung akan menstimulasi bayi untuk dapat mengangkat bagian kepalanya.

Hanya saja, hal lain yang perlu anda perhatikan adalah bahwa kegiatan ini akan baru aman setelah bayi menginjak usia 4 bulan lebih. Sementara itu, bayi dibawah usia ini akan mungkin berisiko saat dibiarkan dalam posisi tengkurap seorang diri.

Memperkuat Bagian Paru-Paru Bayi

Posisi tidur tengkurap akan dapat membantu pembentukan tulang pada bagian paru-paru bayi menjadi lebih kuat. Hal ini dikarenakan pada posisi ini bagian paru-paru bayi akan berkenaan dengan matras. Tulang paru-paru bayi yang kuat akan dapat membuat fungsi paru-parunya lebih baik.

Dampak Negatif Bayi Tidur Tengkurap

  • Selain memiliki manfaat yang cukup baik, posisi tidur tengkurap pada bayi pun dapat sebabkan masalah yang cukup serius. Hal inilah yang membuat kondisi ini menjadi begitu controversial. Beberapa dampak tersebut diantaranya:
  • Posisi tidur tengkurap pada bayi sebabkan tekanan pada bagian rahang bayi. Kondisi ini bisa mungkin mempersempit bagian pernapasannya. Dimana hal ini bisa sebabkan bayi sulit bernapas.
  • Teori lain menyebutkan bahwa kondisi tidur tengkurap adalah salah satu penyebab sindrom kematian mendadak pada bayi (SIDS).

Itulah dia beberapa dampak yang bisa didapatkan dari posisi tidur tengkurap pada bayi. Para ahli menyarankan untuk anda yang boleh membiarkan bayi tidur tengkurap sebaiknya dilakukan pada saat bayi berusia lebih dari 4 bulan. Sebaliknya, sebelum usia ini bayi tidak disarankan tidur dalam keadaan tengkurap. Sebab hal ini bisa sangat berbahaya untuk keselamatannya.

Mengenal Jenis Hidrosefalus Gangguan Kepala Besar Pada Bayi – Penyakit atau keluhan yang terjadi pada bayi akan tentu membuat anda para orangtua dibuat khawatir dengan kondisi ini. Apalagi saat menjumpai ukuran kepala bayi yang terlihat leih besar. Lantas apakah penyebab kepala besar tidak normal pada bayi? Mari simak dibawah ini.

Anda mungkin pernah menjumpai anak bayi yang baru saja berusia beberapa pekan atau beberapa bulan mengalami pembesaran kepala yang tidak normal. Kondisi seperti ini tentu membuat anda bertanya-tanya apa yang sebenarnya membuat si kecil bisa mengalami kondisi seperti ini.

Banyak orang mengatakan bahwa kondisi kepala besar pada bayi adalah hal yang wajar sebab pada umumnya akan dapat kembali dengan normal. Hanya saja, bagaimana bila rupanya pembesaran kepala ini tidak segera usai. Justru sebaliknya, ukuran kepala buah hati malah semakin hari terlihat semakin membengkak dan membesar.

Lalu apa sebenarnya yang membuat kondisi ini dapat terjadi pada bayi? Nah, untuk lebih jelasnya mari kita simak beberapa halnya dibawah ini.

Mengenal Jenis Hidrosefalus Gangguan Kepala Besar Pada Bayi

Mengenal Jenis Hidrosefalus Gangguan Kepala Besar Pada Bayi

Kondisi pembesaran ukuran kepala pada bayi dikenal dengan sebutan penyakit hidrosefalus. Kondisi penyakit ini adalah penyakit yang menyerang organ otak pada anak. Penderita hidrosefalus mengalami penumpukan cairan didalam otaknya. Dimana kondisi ini akan berakibat pada meningkatnya tekanan pada bagian otak dengan perlahan.

Kondisi penyakit yang satu ini tentu tidak dapat diremehkan apalagi disepelekan begitu saja. Perlu penanganan dengan segera untuk penyakit hidrosefalus yang menyerang bayi, terutama bayi baru lahir. Sebab bila tidak kondisi ini akan mungkin merusak jaringan dan melemahkan fungsi otak pada anak. Bukan tidak mungkin dikemudian hari si kecil akan mengalami gangguan kognitif pada otaknya.

Kondisi hidrosefalus dapat dialami oleh orang-orang dalam berbagai usia. Hanya saja, untuk usia yang rentan terkena dengan resiko penyakit ini adalah bayi dan manula. Berdasarkan dari gejalanya, penyakit ini dikelompokan menjadi 3 jenis. Untuk lebih jelasnya lagi mari kita simak pembahasannya dibawah ini.

Pengelompokan Penyakit Hidrosefalus

Sebagaimana telah dijelaskan diatas bahwa berdasarkan gejala yang mungkin ditunjukan. Penyakit hidrosefalus terbagi kedalam 3 kelompok. Untuk mengetahui lebih dalam pengelompokan tersebut. Mari simak langsung beberapa halnya dibawah ini.

Hidrosefalus Kongenital

Untuk jenis hidrosefalus yang pertama adalah kondisi yang terjadi sejak bayi baru saja dilahirkan. Bayi yang mengalami hidrosefalus bawaan, ukuran kepalanya akan sangat besar. Kondisi ini tentu akan jauh lebih besar untuk bayi yang lahir tanpa keluhan kesehatan yang sama.

Sementara itu, untuk ciri yang dapat dikenali pada bayi yang mengalami kondisi hidrosefalus jenis ini dilihat dari bagian tertentu. Yakni bagian ubun-ubun dan fontael yang tampak menggelembung dan menegang. Kondisi seperti ini dapat terjadi akibat kulit kepala bayi masihlah sangat tipis. Dengan demikian, penggelembungan ini akan dapat membuat urat-urat pada kepala bayi terlihat dengan jelas.

Selain itu, bayi yang menderita kondisi hidrosefalus ini akan mungkin memiliki mata yang terlihat seperti memandang ke bawah. Sementara otot-otot pada bagian kakinya akna terlihat kaku. Selain itu, bayi pun akan mungkin lebih rentan mengalami kejang.

Sementara itu, untuk gejala lain dari kondisi hidrosefalus bawaan ini adalah bayi yang mudah mengantuk, rewel, mual dan bahkan sulit makan. Untuk bayi baru lahir mereka akan mungkin sulit menyusu.

Hidrosefalus yang Didapat (Acquired)

Gejala yang ditunjukan untuk hidroefalus ini adalah mual dan nyeri leher. Selain itu, mudah mengantuk, penglihatan buram, bingung dan sulit menahan kemih. Kondisi ini bila tidak segera diobati akan mungkin menyebabkan koma atau bahkan kematian.

Hidrosefalus dengan Tekanan Normal

Jenis yang terkahis adalah hidrosefalus dengan tekanan yang normal. Umumnya kondisi ini lebih sering dialami manula. Gejala yang dialami diantaranya kesultan menggerakan kaki dan berjalan.

Beberapa masalah dapat dialami bayi saat tumbuh gigi. Ketahui masalah saat bayi tumbuh gigi dan solusinya.

Tumbuhnya gigi pada bayi merupakan proses normal yang terjadi saat gigi susu mulai keluar dari gusi. Meskipun sebenarnya gigi susu pada bayi sudah mulai muncul ketika bayi berada dalam kandungan. Akan tetapi, gigi baru keluar dari gusi ketika bayi berusia 6-9 bulan.

Tumbuhnya gigi merupakan salah satu penyebab bayi sering terbangun saat malam hari. Karena merasa tidak nyaman, si kecil akan mudah rewel.

Masalah saat bayi tumbuh gigi

Ketika tumbuh gigi ini terjadi pada si kecil, beberapa masalah kemungkinan akan dialami. Penting mengetahui beberapa masalah saat bayi tumbuh gigi agar anda dapat menemukan solusi yang tepat untuk mengatasinya.

Nah,berikut ini masalah saat bayi tumbuh gigi dan solusinya.

Masalah Saat Bayi Tumbuh Gigi dan Solusinya

Bayi Mengalami Demam

Sebelum gigi pertama bayi tumbuh, biasanya si kecil akan mengalami demam pada bayi. Demam yang dialami si kecil biasanya dengan temperatur rata-rata 38,3 derajat C. Apabila bayi anda mengalami demam lebih dari temperatur tersebut, maka jangan tunggu lama lagi segera bawa bayi anda ke dokter. Dokter akan memastikan apakah demam yang dialami si kecil disebabkan karena pertumbuhan gigi atau bukan.

Bertambahnya Intensitas Air Liur

Pada saat awal pertumbuhan gigi, intensitas air liur akan menjadi bertambah. Bahkan intensitasnya akan semakin bertambah lagi apabila gigi seri tengahnya mulai tumbuh. Apabila hal ini terjadi, maka anda harus selalu menyiapkan handuk kecil atau saputangan dengan si kecil. Ini dilakukan agar anda bisa segera mungkin membersihkan air liur yang mengenai area wajahnya untuk mencegah terjadinya iritasi pada kulit si kecil yang masih sensitif.

Gusi Terasa Gatal

Gusi akan terasa gatal ketika awal pertumbuhan gigi si kecil. Gatalnya gusi disebabkan karena proses perubahan pada permukaan gusi. Gusi akan menjadi bengkak dan menonjol. Agar anda bisa meredakan gatal pada gusi, anda bisa memberikan barang yang bisa si kecil gigit sehingga akan membuat keadaannya menjadi nyaman. Benda yang dapat anda berikan seperti misalkan teether atau buah, itupun jika bayi anda sudah lulus ASI eksklusif atau berusia di atas 6 bulan.

Bayi Kehilangan Nafsu Makan

Karena rasa yang tidak nyaman pada gusinya, kemungkinan besar bayi kehilangan nafsu makannya. Jika si kecil tidak nafsu makan dalam waktu yang lama, maka hal ini dapat mempengaruhi sistem pencernaannya. Tidak sedikit dari mereka mengalami gangguan pencernaan, salah satunya diare. Untuk mengatasi masalah ini atau mengembalikan nafsu makan si kecil, anda bisa membuat menu makanan yang berkreasi sehingga dapat meningkatkan nafsu makan si kecil.

Gigi Berlubang

Gisi susu bayi membutuhkan perawatan, sama halnya dengan gigi orang dewasa. Apabila tidak dibersihkan, maka sisa makanan, kuman dan kotoran dapat menyebabkan masalah gigi yang berlubang pada anak. Untuk menghindari masalah ini, anda dapat membersihkan gigi si kecil dengan menggunakan sikat gigi dengan rutin atau sebanyak dua kali sehari. Untuk sikat gigi, sebaiknya pilih sikat gigi dengan pegangan yang panjang, kepala sikat yang kecil, sikat lembut dan ujung sikat bulat. Anda harus mengganti sikat gigi setiap 10-12 minggu sekali atau hingga bentuk sikat tidak baik. Untuk pasta gigi, sebaiknya pilihlah pasta gigi yang bebas fluoride, serta aman jika tertelan. Pasalnya, bayi belum bisa meludah.

Hematoma Pada Gusi

Saat bayi tumbuh gigi, tidak menutup kemungkinan bayi mengalami pendarahan pada bagian bawah gusi. Ciri-ciri dari masalah ini yaitu terdapat gumpalan berwarna kemerahan pada gusi bayi bagian bawah. Akan tetapi, anda jangan terlalu khawatir. Pasalnya, keadaan ini dapat segera sembuh dengan cara mengompresnya dengan menggunakan es batu yang sudah dibungkus dengan kain kecil.

Rewel

Pada saat giginya tumbuh dan menekan area gusinya, maka si kecil akan merasakan sakit dan tidak nyaman. Akibat dari keadaan ini si kecil bisa saja menjadi lebih mudah rewel. Anda harus mengerti akan kesakitan yang dialami oleh si kecil. Apabila si kecil terus menerus menangis, maka anda bisa mengalihkan perhatiannya dari rasa sakit dengan mengajaknya bermain atau memberikannya mainan untuk digigit.

Perawatan Gigi Pada Bayi

Meskipun giginya belum lengkap, tetapi penting untuk melakukan perawatan yang dimulai sejak dini, bahkan sejak gigi pertama bayi tumbuh.

  • Waktu yang tepat membersihkan gigi bayi yaitu setelah selesai makan atau sebelum tidur.
  • Gunakan sikat gigi khusus bayi dengan sikat yang lembut. Gunakan pula sedikit pasta gigi khusus bayi.
  • Hindari membiasakan memberi makanan yang manis manis pada bayi. Pasalnya, gula yang tertinggal dapat meningkatkan risiko karies gigi.
  • Selain itu, hindari pula kebiasaan membiarkan botol susu bayi tetap berada pada mulut saat ia tertidur.

Itulah beberapa masalah saat bayi tumbuh gigi. Beberapa keadaan perlu anda waspadai, bawa si kecil ke dokter apabila si kecil mengalami demam lebih dari temperatur 38,3 derajat Celcius dan demam berlangsung lebih dari 1 hari, bayi sering menarik telinga, mengalami diare pada bayi, gigi pertama si kecil belum tumbuh saat usinya 12 bulan, terlihat tanda adanya kerusakan gigi, ditemukan kelainan pada rahang atau mulut bayi, gigi permanen anak tumbuh saat gigi susu belum tanggal.

Tidak sedikit bayi yang memiliki kelainan bentuk pusarnya, seperti misalkan pusar bodong. Pusar bodong merupakan keadaan pusar yang menonjol. Ketahui apa penyebab dan bagaimana perawatan pusar bodong pada bayi.

Salah satu masalah pada bayi yang sering ditemui yaitu pusar bodong. Pusar bodong itu sendiri merupakan keadaan dimana pusar tidak rata dengan perut atau menonjol. Dimana tonjolan tersebut bisa mencampai diameter sekitar 5 cm. Dalam istilah medis, pusar bodong itu sendiri disebut sebagai istilah hernia umbilikalis.

Mendapati pusar bayinya menonjol atau bodong, tentu saja kekhawatiran menyelimuti hati orangtua. Berbagai pertanyaan muncul dibenak pikiran mereka. Apaka pusar bodong berbahaya? Apakah dapat disembuhkan? Apa pengaruhnya terhadap bayi? Dan lain sebagainya.

pusar bodong pada bayi

Penyebab Pusar Bodong Pada Bayi

Ketika berada dalam rahim ibu, janin mendapatkan suplai oksigen dan nutrisi dari ibu melalui pembuluh darah atau yang disebut dengan vena dan arteri umbilikalis atau tali pusat. Dimana pembuluh darah tersebut masuk dengan melalui pusar atau bulatan kecil yang berada pada perut bayi.
Setelah bayi terlahir, maka pembuluh darah tersebut kemudian akan digunting oleh dokter atau bidan dan hanya menyisakan tangkainya saja. Tangkai tersebut akan mengering, lepas atau puput dalam waktu 1-2 minggu, yang mana pada akhirnya akan tersisa pusar.

Pada saat puput, tampilan pusar bayi memang akan menonjol. Namun, pada sebagian besar bayi tonjolan tersebut akan lebih besar dari biasanya yang disebabkan karena penutupan cincin pusar pada bgian dalam pusar itu sendiri tidak sempurna. Keadaan seperti ini dapat terjadi pada saat pembentukan organ tubuh bayi ketika masa kehamilan trimester pertama. Berdasarkan penelitian yang dilakukan menunjukan, bahwa keadaan pusar bodong pada bayi juga dipengaruhi karena faktor genetik.

Adakah Cara Untuk Membuat Pusar Bodong Kembali Masuk?

Sebenarnya tidak ada cara yang bisa dilakukan untuk mengembalikan bentuk pusar ke dalam. Meskipun ada sebagian orang yang menyatakan bahwa bentuk pusar yang menonjol dapat dirubah agar bisa kembali masuk ke dalam, seperti misalnya dengan menindih pusar menggunakan uang logam di atasnya. Namun, diketahui hal tersebut tidak akan membuahkan hasil.

Bentuk pusar bayi sebenarnya tidak memiliki kaitan dengan pemotongan tali pusat atau hal hal lainnya yang dilakukan, baik itu oleh dokter, bidan atau anda sendiri. Bentuk pusar sebenarnya merupakan hasil pertemuan tepi pusat bayi dengan perutnya. Apabila bentuk pusar bayi anda sudah terlanjur bodong maka tidak ada cara yang bisa anda lakukan untuk merubah bentuknya.

Akan tetapi, ada kondisi yang akan membuat pusar bayi menjadi tidak bodong lagi dengan sendirinya. Itupun apabila pusar bodong pada bayi disebabkan karena hernia umbilikalis atau hernia pusar. Tonjolan yang muncul dapat disebabkan karena tali pusar tidak sempurna tertutup sesaat setelah bayi lahir. Hernia umbilikalis biasanya tidak akan menyebabkan masalah. Dan saat bayi berusia 12 tahun sampai 18 tahun, benjolan tersebut akan menghilang.

Hernia umbilikalis biasanya dapat menimbulkan rasa sakit, itupun apabila area tali pusar dengan sendirinya tidak menutup setelah anak berusia 3 atau 4 tahun. Untuk mengatasinya, anda bisa berkonsultasi dengan dokter.

Ciri-Ciri Pusar Bodong

Ciri-ciri pusar bodong itu sendiri yaitu pusar menonjol dengan diameter 1 sampai 5 cm. Akan semakin terlihat ketika bayi menangis, kemudian mengecil apabila bayi sudah tenang.

Bagaimana Cara Merawat Pusar Bodong Pada Bayi?

  • Melakukan perawatan terhadap tali pusat bayi baru lahir sangat penting. Pasalnya, di sana terdapat celah yang dapat menimbulkan infeksi. Cara untuk merawat tali pusat bayi yaitu dengan membersihkannya menggunakan kasa steril dan alkohol, terlebih lagi pada bagian yang dekat dengan dinding perut.
  • Apabila sudah selesai, anda dapat menutup pusar dengan menggunakan kasa steril.
  • Meskipun pusar sudah puput, tetapi anda tetap harus membersihkan dan merawatnya. Waktu yang tepat untuk membersihkan pusar bayi yaitu saat memandikannya yakni dengan menggunakan sabun dan bersihkan bagian dalamnya agar tidak ada air.
  • Hindari memegang pusar bayi dengan tangan kotor. Sebelum merawat bayi, sebaiknya tangan dalam keadaan bersih.
  • Anda dapat mencium pusar bayi setiap hari untuk mengetahui aromanya. Apabila tercium bau busuk, maka pusar bayi anda terinfeksi dan anda harus segera membawa si kecil ke dokter.

Apakah Gurita Dapat Mengatasi Pusar Bodong?

Orangtua jaman dulu biasanya memakaikan gurita pada bayinya dengan tujuan agar pusar bayinya tidak bodong dan bayi tidak masuk angin. Namun, sebenarnya bayi tidak perlu dipakaikan gurita. Jika mau, maka penggunaan gurita tersebut dilakukan selama tali pusat belum puput untuk menghindari terjadinya gesekan terhadap proses penyembuhan lukanya. Akan tetapi, ketika memakaikan gurita pada bayi sebaiknya jangan mengikatnya terlalu kencang. Pasalnya, apabila ikatan terlalu kuat maka bagian diafragma akan tertekan sehingga akibatnya bayi akan mudah muntah. Karena bayi masih menggunakan pernafasan perut, maka akan mengganggu gerak pernafasan bayi. Selain itu, volume perut bayi masih kecil, tekanan yang disebabkan karena ikatan gurita dapat membuat perkembangan organ bagian dalam tertahan.

Sedangkan untuk pusar bodong, apabila bayi memiliki bakat bodong meskipun dipakaikan gurita maka pusarnya akan tetap bodong.

Nafas bayi berbunyi grok-grok sebenarnya dianggap sebagai keadaan normal. Namun, kondisi tertentu perlu diwaspadai.

Beberapa keadaan yang dialami oleh bayi terkadang membuat para orangtua merasa khawatir atau risau. Salah satu masalah yang sering dikeluhkan oleh orangtua yaitu nafas bayi berbunyi dengan suara grok-grok. Selain mengkhawatirkan, keadaan ini juga terkadang membuat orangtua kasihan terhadap bayinya karena tidak nyaman dan mengalami kesulitan bernafas.

Nafas bayi berbunyi grok-grok seringkali dianggap karena dokter tidak membersihkan lendir dengan baik dan benar saat bayi dilahirkan. Bahkan beberapa pendapat lainnya menyatakan bahwa bayi meminum air ketuban, yang mana sisanya tidak dibersihkan dengan baik. Pernyataan tersebut dianggap sebagai pendapat yang keliru. Pasalnya, apabila dalam pertolongan terhadap bayi saluran pernafasannya tidak dibersihkan dengan sempurna, maka akibatnya bayi akan mengalami sesak nafas hebat atau bahkan tidak dapat bertahan hidup.

Nafas-Bayi-Berbunyi-Grok-Grok

Apa Penyebab Nafas Bayi Berbunyi Grok-Grok?

Nafas berbunyi grok-grok pada bayi sehat umumnya disebabkan karena produksi lendir yang meningkat pada saluran pernafasan. Produksi lendir yang meningkat pada saluran pernafasan dapat disebabkan karena infeksi virus, adanya benda asing yang masuk ke dalam saluran pernafasan, atau debu. Keadaan ini dianggap normal dialami oleh setiap orang, baik itu bayi, anak-anak yang usianya lebih tua ataupun orang dewasa.

Orang dewasa mampu dengan mudah mengeluarkan lendir melalui batuk atau bersin. Lendir yang terdapat dalam saluran pernafasan ini akan dibawa keluar oleh suatu mekanisme yang disebut dengan mukosilier. Mukosilier ini bisa diibaratkan sebagai petugas kebersihan yang berada pada saluran pernafasan. Lendir yang terdapat pada saluran pernafasan ini akan sampai pada tenggorokan, bahkan akan kita telan dengan tidak sadar. Apabila jumlah lendir lebih banyak, maka refleks batuk akan terangsang. Sehingga kita akan batuk dengan tujuan mengeluarkan gumpalan lendir.

Berbeda halnya dengan bayi, pada bayi untuk mengeluarkan lendir cukup sulit dilakukan karena mukosilier atau reflek mengeluarkan lendir pada bayi belum begitu baik. Terlebih lagi posisi bayi baru lahir yang selalu tidur.

Sedangkan suara grok-grok yang keras pada bayi disebabkan karena sistem pernafasan bayi yang kecil sehingga dapat terdengar dengan jelas. Seiring dengan bertambahnya usia, maka nafas bayi yang berbunyi grok-grok tersebut akan hilang dengan sendirinya karena sistem pernafasan bayi akan semakin membesar.

Intinya, terdapatnya lendir pada sistem pernafasan bayi dianggap sebagai keadaan yang wajar, yang terpenting tidak mengganggu aktivitas bayi dan bayi tetap semangat minum ASI, berat badannya normal, tidak muntah, lendir bening dan tidak bau. Yang mana nafas seperti itu dianggap wajar.

Kapan Harus Waspada?

Anda harus waspada apabila nafas bayi tidak wajar. Beberapa kondisi tertentu menuntut orangtua untuk lebih waspada terhadap bunyi nafas grok-grok pada bayi seperti berikut:

  • Nafas berbunyi grok-grok yang disertai dengan batuk pada bayi, sering bersin dan peningkatan suhu tubuh yang tinggi. Jika keadaannya seperti ini, maka anda harus segera memeriksa bayi anda ke dokter karena mungkin saja ia terserang virus flu.
  • Apabila suara nafas grok-grok pada bayi besar, terlebih lagi saat bayi menangis. Orangtua perlu waspada, apalagi jika bayi mengalami sulit tidur, dan aktivitasnya terganggu. Ini bisa menjadi tanda bahwa lendir pada saluran pernafasannya tidak wajar.
  • Sekresi lendir yang dapat mengganggu aktivitas makan dan minum bayi. Selain dapat membuat nafas bayi berbunyi grok-grok, keadaan ini juga dapat menyebabkan bayi muntah, yang pada akhirnya akan menyebabkan ia sulit makan, karena adanya lendir pada saluran makannya.
  • Apabila berat badan bayi susah naik yang disebabkan karena lendir yang berlebih.
  • Anda harus waspada jika bunyi nafas grok-grok masih dialami bayi di atas usia 6 bulan, serta bayi tetap memproduksi lendir berlebih.

Bagaimana Cara Menyedot Lendir Pada Bayi?

Berikut ini beberapa cara yang dapat anda lakukan untuk mengeluarkan lendir pada bayi:

  • Lendir sekresi itu sendiri sebenarnya berperan untuk membersihkan saluran pernafasan serta mencegah infeksi virus dan kuman dalam tubuh. Apabila lendir pada si kecil berada dalam hidung, maka anda dapat menyedotnya dengan menggunakan pipet khusus.
  • Sebaiknya hindari menyedot lendir dengan menggunakan mulut seperti yang dilakukan oleh orang tua jaman dulu, karena dapat meningkatkan risiko penularan bakteri.
  • Cara lain yang dapat dilakukan untuk mengeluarkan lendir yaitu dengan menengkurapkan bayi sambil dipangku. Anda dapat melakukannya sambil menjemurnya ketika pagi hari. Dengan cara ini biasanya lendir akan keluar dengan sendirinya.

Apakah Nafas Berbunyi Grok-Grok Pada Bayi Berbahaya?

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bunyi nafas grok-grok pada bayi muncul karena adanya lendir pada sistem pernafasan bayi. Sehingga dengan demikian, suara nafas grok-grok pada bayi tidak berbahaya. Namun, yang perlu orangtua lakukan yaitu mencari apakah terdapat hal-hal yang dapat mempengaruhi atau memperparah keadaan tersebut. Apabila ada, maka penting bagi orangtua untuk menghindarinya semaksimal mungkin.

Anda harus bisa mendeteksi penyebab keadaan ini lebih awal agar lebih mudah untuk melakukan perawatan pada bayi. Perhatikan, apakah bunyi nafas grok-grok tersebut terjadi pada saat cuaca dingin?
Penting untuk mengetahui riwayat penyakit asma pada keluarga. Apabila dalam keluarga terdapat penderita asma, maka anda dapat melakukan konsultasi pada dokter.