Tongue tied menjadi salah satu penyebab bayi sulit menyusu. Untuk itu, penting mengenal seputar tongue tied pada bayi mulai dari gejala, pengobatan dan komplikasi.

ASI merupakan kebutuhan utama atau asupan penting bayi, sehingga ibu akan selalu memberikan ASI yang terbaik untuk buah hatinya. Pemberian ASI eksklusif dari awal kehidupan bayi hingga enam bulan pertama kehidupannya sangat disarankan, karena ASI memiliki banyak manfaat.

Namun, ketika mendapatkan ASI dengan menyusu langsung dari payudara ibunya, seringkali bayi mengalami kesulitan ketika menyusu. Keadaan ini sering kali menyebabkan ibu bingung mengetahui penyebabnya. Keadaan ini membuat proses menyusui menjadi terhambat.

Tongue Tied Pada Bayi

Ketika si kecil mengalami kesulitan ketika menyusu, bisa jadi penyebabnya karena bayi anda mengalami tongue tied. Tongue tied itu sendiri merupakan keadaan dimana terdapat kelainan pada organ mulut sehingga pergerakan lidah dan mulut menjadi sulit. Kelainan seperti ini selain menyebabkan bayi kesulitan saat menyusu, juga membuat terganggunya proses makan, menelan, bahkan kemampuan berbicara bayi menjadi terhambat.

Normalnya, selaput bernama lingual frenulum yang letaknya di bawah lidah terhubung dengan dasar mulut. Akan tetapi, pada kasus tongue tied, selaput ini memiliki ukuran yang lebih pendek dan mengalami pelekatan pada sisi bagian bawah ujung lidah serta dasar mulut.

Tongue tied yang dialami oleh bayi akan menyebabkan perlekatan antara mulut bayi dan payudara ibu saat menyusu menjadi tidak sempurna. Sehingga keadaan ini akan menyebabkan bayi tidak mendapatkan cukup ASI, dan kemungkinan besar bayi akan frustasi saat menyusu.

Karena ketidaksempurnaan perlekatan antara mulut bayi dan payudara ibu, maka bayi otomatis akan menghisap udara lebih banyak. Akibatnya perut bayi akan menjadi kembung dan tidak jarang jika si kecil mengalami kolik pada bayi. Tidak hanya itu, keadaan ini juga akan membuat puting payudara ibu menjadi sakit karena ASI tidak dihisap habis, selain itu puting ibu akan terasa sakit karena perlekatan yang terjadi tidak sempurna.

Gejala Tongue Tied Pada Bayi

Bayi yang mengalami tongue tied akan menunjukan gejala atau tanda-tanda seperti berikut ini:

  • Bayi akan mengalami kesulitan ketika mengeluarkan lidah dengan melewati gigi bagian depan bawah.
  • Bayi kesulitan mengangkat lidahnya sehingga akan menyentuh gigi bagian atas.
  • Bayi sulit menggerakan lidah dari sisi satu ke sisi yang lainnya.
  • Bayi dengan kelainan tongue tied lidahnya kemungkinan berbentuk hati atau terdapat lekukan pada ujung lidah.

Apabila bayi anda mengalami kesulitan saat menyusu, berbicara atau makan, serta gejala lainnya yang mengganggu, maka anda bisa segera membawanya ke dokter.

Bagaimana Cara Mengatasi Tongue Tied Pada Bayi?

Pengobatan tongue tied itu sendiri memiliki pendekatan dan penanganan yang berbeda-beda. Bahkan mengenai masalah ini masih menimbulkan perdebatan antara para ahli. Beberapa orang ahli merekomendasikan untuk tetap menunggu, harapannya agar lingual frenulum merenggang dengan sendirinya. Sedangkan untuk para ahli yang lainnya menyarankan untuk segera melakukan tindakan guna mengurangi gejala atau kesulitan, khususnya untuk bayi baru lahir.

Tindakan operasi yang umumnya dilakukan untuk mengatasi tongue tied pada bayi, anak-anak atau dewasa di antaranya:

Frenuloplasty

Frenuloplasty, prosedur untuk menangani tongue tied ini dilakukan dengan melakukan pembiusan umum, serta menggunakan perlengkapan operasi lebih lengkap. Prosedur seperti ini biasanya dilakukan pada kasus yang lebih rumit.

Pada prosedur frenuloplasty, frenulum dilepaskan. Luka akan ditutup dengan jahitan yang kemudian akan menyatu ke bekas luka seiring dengan berjalannya proses penyembuhan. Penderita memerlukan terapi yang disebut dengan terapi paskaoperasi yang dilakukan untuk melatih pergerakan lidah, serta untuk membantu menghindari kemungkinan timbulnya komplikasi.

Frenotomy

Proses penanganan tongue tied seperti ini memanfaatkan gunting yang sudah terlebih dahulu disterilkan agar sisi bawah lidah tidak terlalu menempel dengan dasar mulut dan lidah mampu bergerak leluasa. Proses penanganan ini umumnya berlangsung cepat dan biasanya tidak akan terjadi pendarahan besar. Ini disebabkan karena tidak ada ujung saraf atau pembuluh darah di lingual frenulum. Setelah prosedur penanganan ini dilakukan biasanya bayi bisa langsung menyusu.

Komplikasi Tongue Tied

Tongue tied dapat menimbulkan komplikasi. Dimana beberapa komplikasi yang mungkin akan muncul di antaranya yaitu adanya gangguan pada perkembangan organ mulut bayi, terdapat gangguan pada proses menyusu, mengunyah, makan, menelan atau menghambat kemampuan bicara.

Anak yang mengalami keadaan ini akan mengalami kesulitan ketika melafalkan huruf-huruf tertentu. Atau keadaan ini bisa disebut dengan cadel. Kegiatan yang dilakukan dengan memanfaatkan mulut akan sulit dilakukan, seperti memainkan alat musik yang ditiup.

Kebersihan mulut karena kelainan ini akan menjadi buruk. Keadaan ini terjadi karena ada kesulitan saat membersihkan kotoran yang berada di dalam mulut. Karena seperti itu, maka kerusakan pada gigi mungkin saja akan terjadi.

Pengaruh tongue tied yang menyebabkan bayi kesulitan ketika menyusu, selain berpengaruh pada bayi juga berpengaruh pada ibu menyusui. Ibu akan merasakan sakit pada puting payudara. Bayi yang mengalami kesulitan ketika ia menghisap susu dari payudara ibunya akan menyebabkan bayi tidak cukup ASI, sehingga asupan nutrisi bayi akan berkurang dan akan berdampak pada perkembangan bayi. Setelah beberapa lama, tongue tied akan menyebabkan adanya jarak di antara dua gigi bagian depan dan bawah.

Kelainan pada tubuh bayi bisa diketahui dengan melihat langsung fisik bayi. Namun, kelainan pada tubuh bayi ada juga yang tidak nampak. Untuk itu, penting mengetahui apa saja kelainan pada tubuh bayi yang umum ditemui.

Kehamilan merupakan sebuah momen yang ditunggu-tunggu oleh setiap pasangan. Pasalnya, buah hati akan segera datang melengkapi keluarga. Tangisannya yang menggemaskan dan tubuhnya yang mungil akan senantiasa menghangatkan rumah.

Oleh karena itu, ketika kehamilan datang calon orang tua akan memberikan semua yang terbaik untuk buah hatinya. Meskipun masih berada di dalam kandungan, orang tua akan selalu menjaga kesehatan bayinya dengan melakukan pemeriksaan kandungan secara rutin, konsumsi makanan bernutrisi dan lain sebagainya.

Kelainan Pada Tubuh Bayi

Akan tetapi, setelah bayi dilahirkan ke dunia ini, tidak jarang bayi mengalami kelainan pada tubuh atau fisiknya. Dimana kelainan pada bayi penyebabnya yaitu karena adanya kelainan fungsi, metabolisme tubuh, sturuktur yang terjadi pada saat bayi dilahirkan. Keadaan seperti ini bisa kita ketahui dengan melihat langsung fisik bayi.

Meskipun begitu, kelainan juga ada yang tidak nampak. Sehingga tidak sedikit ibu yang tidak menyadari kelainan pada anaknya tersebut.

Beberapa kelainan umum ditemui pada bayi. Untuk mengetahui lebih jelas akan apa saja kelainan pada tubuh bayi tersebut, penting untuk menyimak penjelasan di bawah ini.

Kelainan Pada Tubuh Bayi yang Umum Ditemui

Wajah

Penting bagi orang tua untuk mengamati wajah sang buah hati setelah ia lahir ke dunia ini. Amatilah apakah wajah bayi anda simetris atau tidak. Untuk mengetahuinya, anda bisa melakukan pengamatan ketika si kecil sedang tertawa atau menangis. Apabila pada saat si kecil menangis anda melihat bibirnya tidak simetris, dimana sudut bibirnya miring, keadaan tersebut merupakan tanda bahwa ada kelumpuhan yang terjadi pada saraf 7. Sedangkan jika ketidaksimetrisan tersebut terlihat pada lidah, maka tandanya terdapat kelumpuhan pada saraf 12. Jika seperti ini, maka anda bisa melakukan konsultasi langsung pada ahli saraf untuk mengetahui apakah ada bentuk penanganan atau lain sebagainya.

Kepala

Sejak lahir sampai usia bayi 1 tahun biasanya pengukuran lingkar kepala dilakukan secara berkala. Pengukuran lingkar kepala dilakukan dari dahi hingga belakang kepala. Lingkar kepala bayi yang normal sekitar 32 sampai 37 cm.

Apabila lingkar kepala bayi lebih dari 37 cm, maka penyebabnya yaitu hidrosefalus atau keadaan dimana adanya penumpukan cairan otak yang disebabkan karena terdapat gangguan pada aliran cairan di otak. Gangguan ini akan membuat cairan menjadi bertambah banyak, kemudian akan menekan jaringan otak yang terdapat di sekitarnya. Sebagai langkah untuk menangani masalah ini yaitu dengan melakukan pembedahan untuk memperbaiki saluran pembuangan cairan pada otak.

Sedangkan jika ukuran lingkar kepala bayi kurang dari 32 cm, keadaan ini disebut dengan mikrosefali. Dimana mikrosefali merupakan kelainan pada pertumbuhan tengkorak kepala bayi, akibatnya kepala penderita terlihat lebih kecil dari ukuran kepala normal. Kelainan ini dapat menjadi tanda bahwa terdapat ketidaksempurnaan yang terjadi pada perkembangan otak. Selain itu, ukuran kepala bayi yang kecil bisa menjadi pertanda bahwa sutura atau bagian tengkorak bayi sudah menutup sebelum waktunya. Jika keadaan ini terjadi, maka harus segera konsultasi pada dokter. Sutura menutup sebelum waktunya akan menyebabkan terhambatnya perkembangan otak si kecil.

Selain kedua kelainan tersebut, ada juga kelainan pada kepala bayi lainnya yang disebut dengan kepala peyang atau asimetris. Dimana kelainan ini disebabkan karena adanya tekanan saat proses persalinan. Tulang tengkorak bayi masih lunak ketika ia lahir. Tekanan pada jalan lahir ketika bayi dilahirkan dapat mempengaruhi bantuk kepala bayi. Selain itu, posisi bayi saat tidur hanya pada satu sisi saja akan membuat bagian kepala yang mengalami penekanan menjadi bertambah pipih. Untuk mengatasi bentuk kepala peyang, bisa dilakukan dengan merubah posisi tidur bayi. Ketika bayi tidur, usahakan posisi kepalanya simetris atau tidak miring ke kiri maupun miring ke kanan. Kelainan bentuk kepala bayi ini akan kembali normal dengan sendirinya.

Mata

Anda harus mengetahui ukuran normal mata bayi dari pertama si kecil dilahirkan sampai usianya setahun. Saat dilahirkan diameter mata bayi normal umumnya 16 mm. Dimana ukuran mata bayi akan bertambah sampai 3,8 mm pada saat usianya setahun. Untuk kornea mata bayi memiliki ukuran atau diameter 10 mm. Sedangkan jika kornea mata lebih besar, bisa menjadi pertanda adanya gangguan yang menimpa matanya seperti misalkan glaukoma. Selain itu, bisa juga tanda hipertiroid apabila diiringi dengan gejala lainnya seperti misalkan tangan bayi selalu berkeringat berlebihan dan terlihat gemetar.

Leher

Perhatikan apakah leher bayi bisa menengok atau tidak. Jika bayi anda hanya mampu menengok ke satu sisi, anda tidak perlu merasa khawatir. Pasalnya, keadaan ini biasanya disebabkan karena adanya kelainan pada otot dan akan menghilang setelah usia bayi 8 sampai 10 minggu. Akan tetapi, jika keadaan ini menimpa bayi hingga usianya lebih dari 10 minggu, sebaiknya segera konsultasi pada dokter karena ditakutkan leher bayi mengalami kelainan.

Daun Telinga

Posisi telinga dan mata seharusnya sejajar pada saat dilakukan penarikan garis horizontal dari mata ke arah daun telinga. Apabila posisi telinga lebih rendah atau berada di bawah garis horizontal, maka kemungkinan bayi mengalami sindrom tertentu dan memerlukan penanganan yang khusus.
Apabila telinga bayi nampak terlipat saat ia dilahirkan, keadaan ini biasanya akan normal kembali dalam hitungan hari. Keadaan ini terjadi karena terdapat tekanan jalan lahir. Tapi, jika daun telinga bayi anda menempel pada kulit kepala, diperlukan tindakan untuk memisahkannya. Anda bisa konsultasi pada dokter akan kelainan tersebut.

Namun, bila hanya terlihat sedikit tonjolan pada daun telinga, anda jangan terlalu merasa khawatir. Pasalnya, kelainan bentuk ini masih pada tahap normal. Begitu pun dengan bentuk telinga yang terlalu kecil atau terlalu besar. Dimana keadaan ini umumnya memiliki kaitan dengan genetik.

Bibir

Salah satu kelainan pada bibir yaitu bibir sumbing. Bibir sumbing itu sendiri merupakan keadaan dimana terdapat ketidaksempurnaan penyambungan bibir atas tepat di bawah hidung. Bibir sumbing itu sendiri dikenal dengan celah bibir. Kelainan yang menimpa bibir ini biasanya diiringi dengan

terdapatnya celah pada langit mulut.
Bibir sumbing dapat menyebabkan gangguan berbicara, bayi akan kesulitan pada saat makan dan menyebabkan infeksi telinga pada bayi.

Tangan

Jika jari berlebihan, maka anda harus waspada. Kelebihan jari pada sekitar ibu jari dapat menjadi tanda terdapat kelainan pada jantung atau darah. Sedangkan jika kelebihan jari terjadi di sekitar kelingking, tidak menandakan keadaan apapun dan hanya kelainan bentuk.

Kaki

Kaki bayi berbentuk O atau X merupakan kelainan yang memiliki kaitan dengan posisi bayi saat berada di dalam kandungan. Kelainan pada kaki bayi ini bisa disebabkan karena bagian kaki terimpit. Akibatnya akan menyebabkan kelainan bentuk kaki atau telapak kaki.

Sedangkan jika kaki bayi tidak simetris atau panjang sebelah bisa menjadi pertanda adanya kelainan pada pinggul bayi.

Itulah beberapa kelainan pada tubuh bayi yang umum ditemui. Penting untuk memperhatikan fisik bayi anda guna mengetahui apakah kelainan tersebut dialami oleh bayi anda atau tidak. Jika anda menemukan kejanggalan, anda bisa langsung konsultasi pada dokter.