Alopecia areata merupakan salah satu masalah rambut bayi yang dapat menyebabkan kebotakan.
Merawat bayi merupakan pengalaman dan momen yang begitu menyenangkan untuk para orangtua. Orangtua memiliki peran besar dalam merawat buah hatinya dengan penuh tanggung jawab dan kasih sayang. Perawatan yang tepat akan menjadikan bayi sehat atau terhindar dari masalah kesehatan. Semua bagian tubuh bayi, tidak terkecuali rambut perlu diperhatikan oleh orangtua.

Rambut anak yang indah, sehat dan lebat tentu menjadi dambaan setiap orangtua. Agar rambut anak seperti yang diharapkan, maka orangtua dapat melakukan perawatan yang terbaik dan dapat dilakukan sejak dini. Namun, terkadang masalah yang menyerang rambut anak kerap kali terjadi. Salah satu masalah rambut anak yang dapat dialami oleh si kecil yaitu alopecia areata. Alopecia areata itu sendiri merupakan masalah kekebalan yang dapat menyebabkan bagian di kepala mengalami kebotakan. Keadaan ini sebenarnya jarang terjadi pada anak di bawah berusia 18 bulan dan sering terjadi pada masa kanak-kanak, bahkan bisa muncul pada usia berapapun.

Apabila bayi anda mengalami masalah rambut yang satu ini, maka sistem kekebalan tubuh bayi bisa saja menyerang folikel rambut. Serangan yang terjadi dapat mengkerutkan folikel, kemudian produksi rambut akan menjadi sangat lambat. Akibatnya tidak ada rambut yang terlihat selama berbulan-bulan atau hingga bertahun-tahun. Kebotakan yang dialami oleh bayi anda dapat sebagian atau seluruh bagian kulit kepala.

Alopecia Areata

Apa Penyebab Alopecia Areata?

Penyebab alopecia areata itu sendiri sebenarnya tidak diketahui dengan pasti. Berdasarkan peneliti, genetik memiliki kaitan dan berperan serta menjadi penyebab keadaan ini. Diketahui, satu dari lima orang dengan masalah ini diduga mempunyai anggota keluarga dengan penyakit yang sama.

Risiko seseorang mengalami alopecia areata akan lebih tinggi jika keluarga memiliki riwayat demam, asma pada bayi, eksim atopik, diabetes anak-anak, atau penyakit auto imun yang lainnya. Namun, faktor luar diduga dapat menyebabkan keadaan ini seperti misalkan virus.

Kebanyakan orang beranggapan bahwa rambut rontok biasanya terjadi karena keadaan stres atau tertekan. Namun, lain halnya dengan alopecia areata yang tidak sama sekali memiliki kaitan dengan stres.

Mendeteksi Alopecia Areata Pada Bayi

Untuk mengetahui penyebab kerontokan pada bayi karena alopecia areata yaitu, apabila bayi anda berusia kurang dari 6 bulan, dimana ia kehilangan rambutnya, maka penyebabnya kemungkinan besar bukanlah karena alopecia areata. Pada usia kurang dari 6 bulan, bayi kehilangan rambutnya dianggap sebagai keadaan yang normal.

Namun, apabila usia bayi lebih dari 6 bulan, serta terlihat gumpalan rambut rontok, oval, botak, maka bisa saja penyebabnya karena alopecia areata. Ketika bayi anda mengalami masalah rambut yang satu ini, maka kulit kepalanya cenderung terlihat halus. Bahkan terlihat bagian rambut yang pendek.
Tumbuh kembali atau tidaknya rambut bayi karena alopecia areata sebenarnya tidak dapat diprediksi. Namun, apabila area botak pada kepala bayi kurang dari setengah kulit kepala, maka kesempatan rambut untuk tumbuh masih tetap ada. Akan tetapi, dibutuhkan waktu yang cukup lama atau bahkan hingga bertahun-tahun.

Gejala Alopecia Areata

Gejala umum dari masalah ini yaitu kulit kepala mengalami kekosongan rambut alias botak. Bagian yang memiliki kekosongan ini biasanya memiliki bentuk bulat atau bahkan oval.

Pengobatan Alopecia Areata

Sebenarnya belum ada obat untuk mengatasi alopecia areata. Namun, ada obat yang dapat membantu memicu tumbuhnya rambut baru. Apabila anda khawatir mengenai jumlah rambut anak yang rontok, maka anda dapat berkonsultasi langsung dengan dokter kulit.

Penyebab Kebotakan Lainnya Pada Bayi

Sebenarnya, selain alopecia areata kebotakan pada bayi dapat disebabkan oleh keadaan yang lainnya seperti misalkan:

Tinea Capitis

Tinea capitis atau lebih sering disebut dengan kadas kulit kepala merupakan suatu keadaan yang disebabkan oleh infeksi jamur dan sering dialami oleh anak. Keadaan ini akan terlihat seperti kulit bersisik pada kepala anak yang tidak ditumbuhi oleh rambut. Area kulit kepala yang terkena masalah ini biasanya memiliki bentuk oval atau bundar.

Untuk mengatasi masalah rambut yang satu ini, anda dapat berkonsultasi dengan dokter. Untuk mendiagnosanya, biasanya akan dilakukan pemeriksaan mikroskopik. Dokter akan memberikan obat untuk mengatasinya. Biasanya, anak disarankan untuk menggunakan shampo anti jamur. Karena masalah rambut ini dapat menular, maka anak dilarang untuk menggunakan topi, jepit rambut, bantal atau sisir bersamaan dengan orang lain.

Telogen effluvium

Telogen effluvium merupakan keadaan stres yang disebabkan oleh berbagai hal yang dapat mengganggu siklus pertumbuhan rambut. Folikel rambut akan berhenti tumbuh dan masuk pada fase istirahat. Antara 6 sampai 16 minggu selanjutnya, kerontokan yang berlebih pada rambut akan terjadi yang dapat memicu terjadinya kebotakan pada sebagian kulit kepala atau bahkan seluruhnya.

Pertumbuhan rambut anak akan kembali terjadi sekitar 6 bulan sampai satu tahun pada saat stres yang dialami anak berakhir.

Trichotillomania

Trichotillomania merupakan keadaan dimana anak memiliki keinginan untuk menarik atau memelintir rambutnya. Trichotillomania disebabkan karena anak mengalami kecemasan atau stres.
Untuk mengatasi trichotillomania, maka anda dapat membantu anak untuk mengatasi stresnya agar kebiasaan ini hilang.

Masalah Endokrin

Pada beberapa anak, penyebab rambut rontok bisa saja karena hypothyroidism. Hypothyroidism merupakan keadaan dimana tiroid tidak memproduksi hormon yang cukup yang dibutuhkan untuk mengatur metabolisme.

Kekurangan nutrisi

Hilangnya rambut dapat juga disebabkan karena kekurangan nutrisi tertentu , meskipun jarang terjadi, seperti berikut ini:

  • Zinc. Zinc merupakan mineral penting yang dibutuhkan dalam berbagai aspek metabolisme. Mineral ini juga berperan untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan normal selama masa kehamilan, masa anak-anak, serta masa menjelang dewasa awal.
  • Vitamin H atau biotin, yang merupakan salah satu vitamin B kompleks yang dapat membantu tubuh untuk mengubah karbohidrat menjadi glukosa.
  • Hilangnya rambut juga bisa terjadi sebagai gejala terlalu banyak asupan vitamin A.
  • Kondisi hilangnya rambut dapat kembali membaik dengan sendiri seiring dengan berjalannya waktu, jika penyebabnya seperti berikut:

Mengikat Rambut

Rambut anak dapat rontok karena terlalu kencang ketika mengepang atau mengikatnya. Namun, perawatan yang tepat dapat memulihkan keadaan ini dengan sendirinya.

Gesekan

Gesekan dengan kasur biasanya akan menyebabkan area botak pada kulit kepala bayi, khususnya pada bayi berusia 3-6 bulan. Jika anak anda sudah mulai duduk, biasanya rambutnya akan kembali tumbuh.

Bayi baru lahir

Rambut rontok pada bayi baru lahir umum terjadi, keadaan ini dapat terjadi pada beberapa bulan kehidupan pertamanya. Rambut bayi akan digantikan dengan rambut permanen.

Hal yang Harus Diperhatikan

Apabila bayi anda kehilangan rambutnya, maka anda harus lebih hati hati dan waspada. Upayakan untuk selalu menjaga bayi anda agar terlindung dari sinar matahari. Ketika ke luar rumah, anda dapat memakaikannya topi atau pelindung yang lainnya.

Penyebab rambut rontok pada bayi cukup banyak. Segera bawa bayi anda ke dokter apabila anda menduga keadaan rambut rontok pada bayi dipicu karena masalah kesehatan.

Bayi hanya bisa menangis ketika merasa sakit perut karena ia belum bisa mengungkapkannya. Karena seperti itu, penting bagi anda untuk mengetahui penyebab sakit perut pada bayi berdasarkan gejala yang ditunjukan.

Sakit perut merupakan masalah kesehatan yang umum terjadi. Sakit perut bisa dialami oleh siapa saja, baik orang dewasa, anak-anak atau bahkan bayi. Sakit perut yang dialami oleh orang dewasa dan bayi tentunya berbeda. Dalam mengidentifikasikan sakit yang dirasa, orang dewasa akan lebih mudah. Lain halnya dengan bayi, dimana ia hanya bisa menangis dan membuat orang tua khawatir.

Ketika melihat bayi menangis terus menerus karena sakit perut, orang tua terkadang sulit dan bingung menentukan penyebabnya. Sehingga mereka tidak bisa menentukan solusi yang tepat untuk mengatasinya.

Penyebab Sakit Perut Pada Bayi

Oleh karena itu, ada baiknya jika anda mengetahui penyebab sakit perut pada bayi untuk mencari solusi yang tepat sesuai dengan gejala yang ditunjukan oleh si kecil.

Penyebab Sakit Perut Pada Bayi dan Cara Mengatasi

Kolik

Kolik atau disebut juga dengan sakit perut biasanya sering dialami oleh bayi berusia antara 10 hari sampai tiga bulan. Penyebab kolik itu sendiri sampai saat ini tidak diketahui. Akan tetapi, diketahui kolik merupakan hasil kontraksi cepat dan berat pada usus, akibatnya akan menimbulkan rasa sakit.
Sakit yang dirasa oleh si kecil ketika menderita kolik yaitu ketika sore hari menjelang malam hari dan awal malam hari. Karena rasa sakit ini, bisa saja disertai dengan tangisan, buang gas lebih sering, kaki ditarik mendekati dada, dan bayi cenderung lebih rewel dibandingkan dengan biasanya.

Sebagai langkah untuk mengatasi kolik pada bayi, anda bisa melakukan berbagai pendekatan seperti, mengayunkan bayi dengan perlahan-lahan, membedong bayi dengan nyaman dalam selimut, menggendong bayi sambil berjalan atau memberikan dot pada bayi.

Flu Perut atau Gastroenteritis

Penyakit ini biasanya memiliki hubungan dengan muntah dan diare. Sakit perut yang datang dan pergi biasanya terjadi. Pada kebanyakan kasus, flu perut pada bayi yang disebabkan oleh virus tidak memerlukan pengobatan khusus karena akan hilang dengan sendirinya dalam waktu seminggu atau lebih. Rasa sakit yang muncul biasanya hanya berlangsung antara satu atau dua hari, kemudian rasa sakit akan menghilang. Akan tetapi lain halnya dengan kasus yang disebabkan oleh parasit Giardia lamblia.

Dimana parasit ini akan menyebabkan nyeri periodik dengan berulang, serta tidak terlokalisasi hanya pada bagian perut yang satu saja. Sakit perut ini bisa terjadi hingga beberapa minggu atau bahkan bulan. Efeknya nafsu makan akan hilang dan penurunan berat badan akan terjadi.

Untuk mengatasi sakit perut ini, sebaiknya anda segera membawa si kecil ke dokter. Pasalnya, pengobatan yang tepat lebih efektif untuk mengatasi sakit perut yang menyertainya.

Sembelit

Salah satu gejala yang ditimbulkan karena sembelit yaitu sakit perut. Akan tetapi, gejala paling umum yang disebabkan oleh sembelit yaitu intensitas buang air besar menjadi kurang. Tinja yang dikeluarkan biasanya akan lebih keras dan kering seperti pada keadaan normal. Bayi akan merasa tidak nyaman pada saat buang air besar.

Untuk mengatasi keadaan ini, anda bisa memberikannya cukup cairan. Apabila keadaan sudah semakin parah, obat pelunak tinja bisa diberikan atau anda bisa segera membawanya ke dokter.

Alergi Susu

Apabila bayi anda muntah, diare, muncul ruam dan terdapat tinja pada darah setelah mengkonsumsi susu, bisa saja itu disebabkan karena alergi susu. Dalam keadaan ini, protein yang terdapat pada susu sedang direspon oleh tubuh si kecil.

Meskipun bayi anda mengalami alergi susu, akan tetapi anda tetap harus memberikannya kalsium guna menunjang tumbuh kembangnya.

Kembung

Perut kembung terkadang sulit untuk diidentifikasikan. Ketika keadaan ini menimpa, biasanya si kecil hanya bisa rewel dan menangis karena merasa tidak nyaman terdapat gas di dalam perutnya. Biasanya gas yang terdapat di dalam perut bayi disebabkan karena ia mengkonsumsi sayuran seperti kol atau pemanis buatan. Jika penyebabnya karena makanan, untuk selanjutnya anda bisa menghindarinya.

Intususepsi

Intususepsi merupakan keadaan langka yang menjadi penyebab bayi sakit perut. Intususepsi merupakan penyakit perut yang umum dialami oleh anak berusia di bawah 2 tahun. Masalah ini terjadi ketika salah satu bagian usus terselip ke bagian usus yang lainnya dan terperangkap. Usus akan menjadi tersumbat dan menyebabkan sakit yang parah.

Ketika keadaan ini terjadi, biasanya si kecil akan sering menangis dan kaki sering ditarik ke arah perutnya. Hal ini biasanya akan diikuti dengan periode tenang dan tidak mengalami sakit apapun, serta sering tidak mengalami stress. Selain itu, si kecil juga mungkin akan muntah dan fesesnya berwarna gelap, berdarah dan berlendir. Rasa sakit yang muncul sering parah dan dengan periode menjerit dan tenang atau lesu. Untuk mengetahui penyebab sakit perut karena masalah ini anda perlu membicarakannya dengan dokter anak.

Ketika dilakukan pemeriksaan, dokter akan memberikan sinar X-ray yang disebut dengan barium enema atau enema udara. Melakukan tes ini juga dilakukan tidak hanya untuk diagnosis saja, akan tetapi melepaskan usus yang terjebak. Apabila prosedur ini tidak mampu melepaskan usus yang terjebak atau terlilit, maka operasi diperlukan untuk mengatasi keadaan ini.