Beberapa hal diketahui dapat mempengaruhi produksi ASI. Penting bagi ibu menyusui untuk mengetahui apa saja faktor yang mempengaruhi produksi ASI.

Memberikan ASI atau menyusui bayi adalah tugas dan kewajiban seorang ibu. Seperti yang kita ketahui, ASI dikenal sebagai makanan terbaik untuk bayi karena mengandung gizi komplit yang dibutuhkan oleh bayi. ASI adalah satu-satunya makanan bayi selama enam bulan awal kehidupan bayi.

Ibu tentunya ingin perkembangan dan pertumbuhan buah hatinya optimal, serta kebutuhan gizi yang dibutuhkan terpenuhi. Ibu akan berupaya untuk memberikan ASI yang terbaik pada buah hatinya dan menjaga agar ASI tetap berkualitas. Ibu akan memberikan ASI kapan pun dan dimana pun ketika bayinya membutuhkan.

Faktor yang mempengaruhi produksi ASI

Agar bayi mendapatkan cukup ASI, maka penting bagi ibu untuk menjaga produksi ASI. Mengenai produksi ASI itu sendiri, ada beberapa hal yang dapat mempengaruhinya. Apa saja faktor yang mempengaruhi produksi ASI? Untuk mengetahuinya anda bisa simak pembahasan di bawah ini.

Faktor yang Mempengaruhi Produksi ASI

1. Makanan

Kualitas dan produksi ASI dipengaruhi oleh makanan yang ibu konsumsi sehari-hari. Selama masa menyusui, ibu harus mengkonsumsi makanan yang sehat, beragam dan mengandung gizi yang seimbang. Jika pola makan ibu tidak tepat dan ibu tidak mengkonsumsi makanan sehat, maka akibatnya produksi ASI akan menjadi terpengaruh. Terdapat berbagai jenis makanan yang dapat mempengaruhi produksi ASI, di antaranya yaitu daun katuk, sayuran hijau, daun pepaya dan lain sebagainya.

2. Keadaan Psikis dan Emosi Ibu

Keadaan psikis dan emosi ibu dapat mempengaruhi refleks pengaliran susu. Refleks ini berperan untuk mengontrol perintah, yang mana perintah tersebut dikirim oleh hipotalamus yang terdapat pada kelenjar bawah otak. Apabila ibu mengalami cemas, tegang, stres, dan kebingungan maka ASI tidak dapat turun dari alveoli menuju ke puting. Keadaan ini biasanya akan terjadi pada awal-awal menyusui, ketika refleks pengaliran susu belum dapat befungsi dengan sepenuhnya. Refleks pengaliran susu itu sendiri dapat berfungsi dengan baik apabila ibu dalam keadaan tenang, nyaman, rileks dan tidak tegang atau merasa cemas. Anda dapat mendengar suara tangisan bayi atau selalu memikirkannya sehingga dapat membantu refleks air susu bekerja. Efeknya produksi ASI akan terbantu.

3. Frekuensi Menyusui

Apabila bayi menyusu semakin sering, maka produksi ASI akan semakin banyak. Selain menyusui langsung, anda juga dapat memerah ASI dengan pompa ASI. Apabila menyusui bayi jarang dilakukan, ASI pun tidak akan dihisap oleh bayi anda yang akan berpengaruh pada pengeluaran ASI.

4. Pemakaian Alat Kontrasepsi

Penggunaan alat kontrasepsi harus ibu perhatikan selama masa menyusui. Pasalnya, pemakaian alat kontrasepsi yang tidak tepat dapat mempengaruhi produksi ASI.

5. Usia Kehamilan Saat Melahirkan

Usia kehamilan dapat mempengaruhi produksi ASI. Bayi yang lahir kurang bulan atau prematur keadaannya sangat lemah dan membuat ia kesulitan ketika menghisap payudara ibu untuk mendapatkan ASI. Sehingga keadaan ini akan menyebabkan produksi ASI menjadi lebih rendah dibandingkan dengan ibu yang melahirkan bayi normal atau cukup bulan. Penyebab bayi prematur belum mampu menghisap ASI dengan optimal karena lemah, berat badan yang rendah dan belum sempurnanya organ tubuh bayi.

6. Anatomi Payudara

Ukuran payudara tidak mempengaruhi produksi ASI, karena yang mempengaruhi produksi ASI yaitu jumlah kelenjar air susu dalam payudara ibu. Meskipun ukuran payudara ibu kecil, tetapi kelenjar air susunya banyak, maka ibu tetap bisa menghasilkan ASI yang banyak.

7. Merokok dan Konsumsi Alkohol

Merokok merupakan salah satu kebiasaan buruk yang akan menimbulkan banyak efek negatif, khususnya pada ibu menyusui. Merokok akan mempengaruhi jumlah ASI yang ibu produksi karena akan mengganggu hormon prolaktin dan oksitosin. Ketika merokok maka dapat menstimulasi pelepasan hormon adrenalin. Dimana pelepasan hormon adrenalin tersebut dapat menghambat pelepasan hormon oksitosin. Begitu pun dengan minuman yang mengandung alkohol, minuman ini dapat mempengaruhi produksi ASI.

8. Pengaruh Obat-Obatan

Obat-obatan yang dikonsumsi ibu selama masa menyusui mengandung hormon yang dapat mempengaruhi hormon oksitosin dan prolaktin. Dimana kedua hormon ini berfungsi untuk pengeluaran dan pembentukan ASI. Jika kedua hormon ini terganggu, maka akibatnya pembentukan dan pengeluaran ASI pun akan mengalami hambatan.

9. Kemampuan Bayi Menghisap ASI

Hisapan bayi ketika menyusu mempengaruhi produksi ASI. Namun, ada saatnya dimana hisapan bayi menjadi tidak efektif lagi. Beberapa hal yang menyebabkan hisapan bayi menjadi tidak efektif di antaranya yaitu karena teknik pelekatan yang tidak tepat, serta struktur rahang atau mulut bayi yang tidak sempurna. Jika hisapan bayi efektif maka rangsangan ke otak akan menjadi optimal yang akan memerintahkan memproduksi hormon oksitosin dan hormon prolaktin.

10. Perawatan Payudara

Perawatan payudara penting dilakukan selama ibu hamil. Perawatan yang tepat dapat membuat produksi ASI menjadi lancar. Perawatan yang dilakukan akan merangsang payudara dan akan mempengaruhi hypopise supaya mengeluarkan hormon estrogen, progesteron dan oksitosin dalam jumlah yang lebih bayak lagi. Dimana hormon oksitosin dapat menyebabkan terjadinya kontraksi di sel lain yang berada di sekitar alveoli. Efeknya air susu atau ASI akan turun mengalir ke puting dan akhirnya bayi dapat menghisapnya.

Itulah beberapa faktor yang dapat mempengaruhi ASI. Sebisa mungkin cukupi kebutuhan ASI buah hati tercinta agar pertumbuhan dan perkembangannya berjalan optimal.

3 Jenis ASI Berbeda Untuk Bayi – ASI memiliki tiga jenis yang berbeda, yakni kolostrum, ASI transisi (transition milk), dan ASI matur (mature milk).

Makanan bayi yang terbaik dan tepat untuk tumbuh kembangnya yaitu ASI atau air susu ibu. ASI eksklusif diberikan pada bayi hingga usia bayi 6 bulan. Setelah 6 bulan, asupan bayi dilengkapi dengan MPASI atau makanan pendamping ASI.

ASI diproduksi oleh ibu menyusui untuk memenuhi semua kebutuhan nutrisi bayi dalam beberapa bulan pertama kehidupannya. ASI bukan sekedar cairan putih yang dikonsumsi oleh bayi. Faktanya, ASI memiliki tiga tahap atau tiga jenis yang berbeda, yakni kolostrum, ASI transisi dan ASI matur.

3 Jenis ASI Berbeda

3 Jenis ASI Berbeda Untuk Bayi

Kolostrum

Kolostrum merupakan ASI yang pertama kali dikeluarkan oleh kelenjar payudara ibu ketika hari pertama hingga hari keempat. Kolostrum memiliki sifat kental, serta warnanya tidak putih seperti ASI pada umumnya, melainkan berwarna kekuningan karena cairan ini mengandung beta karoten. Kolostrum sangat dibutuhkan oleh bayi karena memiliki banyak manfaat.

Kolostrum berwarna kuning keemasan karena mengandung tinggi lemak dan sel-sel hidup. Kolostrum adalah cairan yang dapat membersihkan usus bayi, membersihkan mekonium sehingga mukosa usus bayi baru lahir dapat segera bersih, sehingga bayi dapat segera mendapatkan ASI.

Kandungan yang paling tinggi dalam kolostrum yaitu antibodi. Dimana kandungan antibodi ini dapat menjadi tameng untuk bayi pada saat kondisi bayi masih lemah. Protein yang terkandung di dalam kolostrum lebih tinggi dibandingkan dengan protein yang terkandung dalam susu matur. Meskipun hanya mendapatkan sedikit kolostrum bayi akan lebih lama merasa kenyang. Pasalnya, jenis protein globulin dalam kolostrum membuatnya lebih padat atau pekat.

Di dalam kolostrum kandungan hidrat arang masih rendah. Keadaan ini disebabkan karena selama tiga hari pertama aktivitas bayi masih sedikit sehingga tidak membutuhkan kalori lebih banyak. Dalam kolostrum total kalori hanya 58kal/100 ml kolostrum. Kolostrum tinggi akan kandungan mineral, khususnya natrium, klorida, dan kalsium. Vitamin yang larut di air pada kolostrum lebih sedikit. Dalam lemak yang terkandung pada kolostrum mengandung lebih banyak lisotin dan kolestrol. Karena seperti itu, bayi terlatih lebih dini untuk mengolah kolestrol. Dalam tubuh bayi kolestrol membentuk enzim untuk mencerna kolestrol. Karena terdapat tripsin inhibitor, maka hidrolisis protein pada usus menjadi kurang sempurna. Keadaan ini sangat baik karena dapat melindungi bayi dari alergi.

Kolostrum untuk bayi memiliki banyak manfaat kolostrum di antaranya seperti berikut ini:

  • Kolostrum membantu dalam meningkatkan antibodi atau kekebalan tubuh bayi terhadap penyakit. Kolostrum mampu mengurangi risiko sindrom kematian mendadak pada bayi.
  • Kolostrum mampu mempengaruhi pertumbuhan sel otak bayi.
  • Membantu mengajarkan bayi menyusu dan melatih ibu agar terampil dalam menyusui.
  • Membantu dalam mengganti atau meremajakan sel kulit yang sudah mati.
  • Karena begitu banyaknya manfaat kolostrum untuk bayi, maka jangan sampai buah hati anda melewatkan kesempatan ini.

ASI Transisi

ASI transisi atau transitional milk dalam waktu empat hari menggantikan kolostrum setelah proses persalinan. ASI transisi ini mengandung lemak tinggi, vitamin, laktosa, serta lebih banyak kalori dibandingkan dengan kolostrum.

ASI transisi ini berlangsung selama sekitar 2 minggu. Dalam masa ASI transisi payudara ibu menyusui akan terasa lebih kencang, lebih besar dan terasa sakit serta membuat tidak nyaman. Untuk meredakan rasa sakit pada payudara, ibu menyusui dapat dengan rutin menyusui bayinya.

ASI Matur

ASI matur merupakan ASI yang muncul sesudah ASI transisi. Dimana ASI matur ini akan keluar pada akhir minggu kedua setelah proses persalinan. ASI matur teksturnya lebih cair, dibandingkan dengan ASI transisi, ASI matur lebih banyak mengandung air.

Di dalam ASI matur terkandung air sekitar 90 % dan 10 % karbohidrat, lemak, protein yang dibutuhkan oleh bayi untuk pertumbuhannya, serta untuk pasokan anergi.

ASI matur terbagi menjadi dua tipe, yakni foremilk dan hindmilk. Foremilk itu sendiri terjadi ketika awal menyusui yang mengandung air, protein dan mineral. Sedangkan hindmilk terjadi saat akhir menyusui yang mengandung kadar lemak lebih tinggi.

Foremilk dan hindmilk keduanya sama-sama penting untuk bayi. Bayi harus mendapatkan kedua jenis ASI tersebut dengan seimbang. Karena seperti itu sebaiknya sebelum payudara kempes ibu tidak mengubah posisi menyusui atau memindahkan bayi untuk menyusu ke payudara yang lainnya. Ketika menyusui sebaiknya susui bayi hingga bayi merasa puas dan melepaskan sendiri. Akan tetapi, jika bayi melepaskan puting dari mulutnya, namun ia terlihat belum puas, sebaiknya sendawakan terlebih dahulu dan berikan kembali ASI pada payudara yang sama.

Indikator seimbangnya foremilk dan hindmilk bisa dilihat dari peningkatan berat badan yang baik. Selain itu, bisa juga dilihat dari warna feses bayi. Bayi sudah mendapatkan foremilk dan hindmilk seimbang apabila warna fesesnya menjadi keemasan.

ASI matur berlangsung lebih panjang, yakni hingga anda menyapih buah hati anda. Akan tetapi, seiring dengan pertambahan usia dan pertumbuhan anak anda, ia akan mulai mengkonsumsi makanan padat atau MPASI. Dimana kandungan nutrisi pada ASI, serta persediaan ASI akan mulai berubah.

Itulah 3 jenis ASI yang berbeda untuk bayi. ASI memiliki banyak manfaat untuk bayi di samping mencukupi kebutuhan nutrisi dan gizi hariannya. Oleh karena itu, berikan ASI eksklusif pada bayi hingga usia yang ditentukan, yakni 6 bulan awal kehidupannya.

Saluran ASI tersumbat merupakan salah satu masalah menyusui yang kerap kali dialami oleh ibu menyusui. Ketika keadaan ini menimpa ibu, maka rasa sakit dan tidak nyaman akan dirasakan. Oleh karena itu, penting mengetahui solusi yang tepat mengatasi saluran ASI tersumbat.

ASI merupakan makanan bayi yang memberikan cukup nutrisi yang dibutuhkan untuk perkembangan dan pertumbuhan bayi. Menyusui bayi secara langsung merupakan cara terbaik yang bisa dilakukan untuk meningkatkan ikatan batin di antara ibu dan bayi. Menyusui pada umumnya merupakan kegiatan alamiah yang dilakukan oleh ibu untuk memenuhi kebutuhan nutrisi buah hatinya. Akan tetapi, menyusui terkadang menjadi kegiatan yang menakutkan untuk ibu.

Keadaan seperti itu terjadi apabila adanya hambatan yang mempengaruhi proses menyusui, seperti misalkan saluran ASI tersumbat. Ketika saluran ASI tersumbat, maka ibu maupun bayi tidak bisa menikmati momen menyusui. Penyumbatan yang terjadi bisa disebabkan karena payudara mengalami peradangan atau terdapat penyumbatan pada saluran ASI.

Saluran ASI Tersumbat

Saluran ASI tersumbat menjadi masalah yang sering dialami oleh ibu menyusui. Dimana keadaan ini kerap menghambat proses pemberian ASI pada buah hati.

Penyebab Saluran ASI Tersumbat

Penyumbatan pada saluran ASI biasanya hanya terjadi pada salah satu payudara saja. Akan tetapi, ada pula ibu menyusui yang mengalami sumbatan pada kedua payudaranya sekaligus. Beberapa keadaan menjadi faktor penyebab saluran ASI tersumbat seperti misalkan:

  • Tidak memberikan ASI atau menyusui bayi dengan teratur dan rutin
  • Jumlah produksi ASI lebih banyak dibandingkan dengan jumlah ASI yang diminum bayi
  • Terdapat milk blister atau bintik putih yang menyebabkan lubang putih tersumbat
  • Ibu mengalami stress, anemia, kelelahan atau lemahnya sistem imun
  • Adanya tekanan yang berlebihan pada payudara ketika memerah ASI, posisi tidur yang tidak tepat, penggunaan bra yang terlalu ketat dan lain sebagainya.

Gejala Saluran ASI Tersumbat

Keadaan dimana tersumbatnya saluran ASI disertai dengan beberapa gejala tertentu. Berikut ini gejala saluran ASI tersumbat:

  • Payudara terasa sakit.
  • Pada area payudara yang tersumbat, sebagian ibu mengalami kulit yang berwarna kemerahan.Jika payudara ditekan, terasa ada bagian yang keras seperti gumpalan pada payudara.
  • Aliran ASI menjadi terhambat atau tidak lancar seperti biasanya, karena seperti itu bayi biasanya menolak menyusu.
  • Penyumbatan pada saluran ASI biasanya tidak disertai dengan demam. Akan tetapi, apabila demam terjadi anda perlu berhati-hati jika kondisi tersebut adalah mastitis pada ibu menyusui, yakni sebuah keadaan yang disertai dengan infeksi pada payudara.

Cara Mengatasi Saluran ASI Tersumbat

Beberapa cara bisa anda lakukan sebagai solusi untuk mengatasi saluran ASI tersumbat seperti berikut ini:

Kompres Menggunakan Air Hangat

Langkah paling sederhana yang bisa anda lakukan untuk mengatasi saluran ASI tersumbat yaitu mengompres payudara dengan menggunakan air hangat. Pastikan air yang anda gunakan untuk mengompres tidak terlalu panas yang akan membuat kulit terluka.

Lakukan Pijatan Lembut

Apabila payudara sudah dikompres dengan menggunakan air hangat, anda bisa melakukan pijatan pada bagian payudara yang keras ke arah puting.

Susui Bayi

Agar saluran ASI kembali lancar, anda bisa menyusui terus bayi anda. Ketika menyusui bayi, usahakan posisi dagu si kecil mengarah ke bagian payudara yang tersumbat meskipun anda harus menyusui dengan berbagai posisi yang belum pernah anda lakukan.

Agar aliran ASI lebih lancar, usahakan posisi tubuh anda berada di atas dengan payudara menggantung ke arah bawah.

Perah ASI

Intinya, cara yang harus anda lakukan apabila saluran ASI tersumbat yaitu mengosongkan payudara. Jika bayi anda sudah menyusui, dimana setelah selesai masih terdapat ASI di dalam payudara, maka anda bisa memerah atau memompa ASI.

Mengganti Posisi Menyusui

Berbagai posisi menyusui bisa anda pilih. Hindari menyusui dengan posisi sama setiap kali menyusui. Dengan melakukan berbagai variasi menyusui bisa menghindari terjadinya penyumbatan pada saluran ASI. Mencoba variasi posisi menyusui dapat membantu anda menemukan posisi yang paling nyaman, baik untuk anda maupun untuk bayi anda.

Mandi Air Hangat

Selain mengompres payudara dengan menggunakan air hangat, anda juga bisa mengatasinya dengan mandi air hangat. Ketika anda mandi, aliran air akan menimpa payudara sehingga keadaan ini akan membantu meredakan rasa sakit. Selain itu, aliran air hangat yang berlanjut dapat membantu melancarkan aliran ASI.

Konsumsi Banyak Cairan

Minum banyak cairan tidak hanya akan membantu ibu memproduksi cukup ASI, akan tetapi dapat membantu mengatasi saluran air susu yang tersumbat. Apabila asupan air cukup, dapat membantu menormalkan viskositas ASI sehingga dapat meminimalisir terjadinya sumbatan. Oleh kerena itu, pastikan anda minum cukup ASI.

Istirahat

Istirahat yang cukup dapat anda lakukan karena akan mempengaruhi sistem kekebalan tubuh.
Konsultasi dengan Dokter

Jika saluran ASI tetap tersumbat meskipun anda sudah melakukan berbagai cara, maka ada baiknya jika anda pergi ke dokter untuk melakukan konsultasi agar keadaan ini bisa diatasi oleh dokter dengan tepat.

Hindari mengkonsumsi obat tanpa resep dari dokter.

Demikian cara mengatasi saluran ASI tersumbat. Beberapa cara di atas dapat membantu anda dalam memulihkan kembali keadaan payudara seperti semula sehingga proses menyusui bayi akan tetap berjalan lancar dan bayi mendapatkan cukup ASI yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangannya.

Banyak ibu mengeluh payudara sakit saat menyusui, dimana keadaan tersebut bisa saja menghambat proses menyusui. Untuk itulah, penting mengetahui penyebab dan penanganan yang tepat.

Menyusui bayi merupakan tugas seorang ibu dan wajib dilakukan, karena ASI merupakan asupan bayi yang memiliki banyak manfaat dan nutrisi yang dibutuhkan bayi untuk tumbuh kembangnya. Bayi mendapatkan ASI eksklusif dari usia 0-6 bulan, setelahnya ASI didampingi dengan MPASI atau makanan pendamping ASI.

Agar buah hatinya mendapatkan manfaat baik dari ASI, maka dari itu ibu akan memberikan ASI yang terbaik untuk bayinya. ASI yang berkualitas memiliki pengaruh besar pada bayi.

Payudara Sakit Saat Menyusui

Namun di samping itu, terkadang masalah dialami ibu yang menyebabkan proses menyusui menjadi terhambat, sehingga bayi tidak mendapatkan cukup ASI. Masalah yang kerap kali dialami oleh ibu menyusui yaitu adanya rasa sakit pada payudara.

Tidak sedikit ibu yang memutuskan untuk menunda menyusui bayinya sementara waktu hingga keadaan payudaranya kembali pulih. Namun, tahukah anda memutuskan untuk tidak menyusui bayi justru akan menyebabkan bayi tidak mendapatkan asupan nutrisi dan gizi yan cukup.

Oleh karena itu, untuk mendapatkan solusi yang tepat, anda harus mengetahui terlebih dahulu penyebab payudara sakit saat menyusui. Umumnya, penyebab payudara terasa sakit saat menyusui disebabkan karena berbagai macam alasan, selain itu tingkatannya pun beragam. Berikut ini penyebab payudara sakit saat menyusui dan cara penanganannya.

Penyebab dan Penanganan Payudara Sakit Saat Menyusui

Payudara Terasa Penuh

Payudara terasa sakit dan mengalami pembengkakan terjadi karena air susu pada payudara sudah mulai penuh. Payudara umumnya memproduksi ASI berdasarkan dengan kebutuhan bayi dan bisa menyesuaikan dengan jadwal menyusui. Oleh karena itu, ketika anda menyusui bayi setiap 2 sampai 3 jam, dimana pada suatu waktu anda terlambat menyusui bayi anda, maka akibatnya payudara terasa kencang.

Payudara akan terasa penuh saat minggu pertama kelahiran. Pasalnya, bayi belum bisa menyusu pada payudara ibunya langsung dengan baik. Selain itu, bayi yang lahir kurang bulan atau prematur biasanya tidak cukup kuat untuk menghisap ASI. Begitu pun bayi yang memiliki masalah pada lidahnya.

Jika anda merasakan terdapat benjolan pada salah satu payudara, penyebabnya mungkin karena terdapat sumbatan pada saluran ASI. Untuk mengatasi keadaan ini anda bisa mengeluarkan ASI dari payudara. Apabila payudara anda terlalu keras, maka si kecil tidak akan bisa menghisapnya. Untuk itu, anda bisa mengompres payudara dengan menggunakan air hangat. Kemudian, sebelum bayi anda menyusu anda bisa mengeluarkan ASI menggunakan pompa atau tangan. Jika payudara anda sudah lebih kendur, maka ia bisa menghisapnya dengan baik.

Luka Pada Puting

Puting payudara lecet dan payudara terasa sakit seringkali terjadi pada saat posisi menyusui bayi yang tidak tepat. Untuk mendapatkan posisi menyusui yang nyaman, baik untuk anda maupun bayi cobalah untuk menyusui dengan berbagai posisi menyusui.

Obat alami untuk mengatasi puting luka yaitu air liur bayi dan ASI. Untuk mengurangi luka pada payudara, anda bisa mengoleskan sedikit ASI setelah selesai menyusui. Namun, jika puting payudara masih terasa sakit dan pecah meskipun sudah beberapa hari, ada baikya jika anda pergi ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut. Mungkin saja keadaan ini disebabkan karena infeksi.

Jamur

Mulut atau lidah bayi bisa saja mengalami jamur atau sering disebut dengan Oral Thrush atau penyakit pada mulut bayi. Jamur tersebut bisa menyebabkan infeksi pada mulut si kecil dan bisa menularkan pada puting payudara ibu.

Apabila keadaan puting sudah lecet, maka infeksi yang disebabkan oleh jamur akan lebih mudah menular ke puting. Dimana gejala yang biasanya terlihat seperti misalkan, puting berwarna merah, pink atau putih. Sakit yang akan ibu rasakan tidak hanya saat menyusui saja, akan tetapi selang beberapa waktu setelah menyusui. Agar keadaan ini bisa diatasi dengan baik, anda bisa segera pergi ke dokter.

Mastitis

Mastitis merupakan salah satu masalah yang menimpa payudara atau disebut juga dengan infeksi payudara. Mastitis terjadi ketika saluran susu yang terhambat tidak diatasi dengan baik dan akan menyebabkan payudara terasa sakit. Infeksi payudara biasanya diiringi dengan demam. Jika keadaannya seperti ini, maka untuk mengatasi mastitis anda bisa segera pergi ke dokter. Biasanya untuk mengatasi dokter akan meresepkan antibiotik.

Agar payudara segera kosong, maka anda disarankan untuk tetap menyusui. ASI yang berasal dari payudara yang tersumbat dan mengalami mastitis tetap baik dan aman untuk si kecil. Bayi mungkin saja akan menolak menyusu dari payudara yang terasa sakit. Dimana penyebabnya bukan karena rasa ASI yang berbeda, akan tetapi tekstur payudara yang terasa lebih keras dan membuat ia tidak nyaman menyusu pada payudara tersebut.

Gigitan Bayi

Ketika mulai tumbuh gigi pada gusi bayi, setelah selesai menyusu biasanya ia lebih sering menggigit puting payudara ibunya. Jika si kecil tetap menggigit, maka anda bisa melepaskannya dengan menyisipkan kelingking ke ujung mulutnya. Masukan kelingking di antara gigi atas dan gigi bawah supaya gigitan bayi terlepas.

Vasospasm

Vasospasm merupakan sebuah kondisi yang jarang terjadi, akan tetapi dialami oleh beberapa ibu. Vasospasm itu sendiri merupakan keadaan dimana puting terasa sensitif dengan udara dingin. Pada saat bayi selesai menyusu, biasanya puting akan berubah menjadi putih, biru atau ungu, rasanya sakit seperti ditusuk.

Untuk mengatasi keadaan ini, anda bisa menjaga agar kondisi selalu dalam keadaan hangat, baik itu sebelum atau sesudah menyusui.

Beberapa jenis makanan akan menimbulkan reaksi pada bayi ketika dikonsumsi oleh ibu menyusui. Untuk itu, penting mengetahui apa saja makanan yang harus dihindari ibu menyusui.

Menyusui bayi merupakan kewajiban seorang ibu. ASI eksklusif atau air susu ibu memiliki banyak manfaat yang baik untuk bayi, maupun ibu. Berdasarkan penelitian menyatakan bahwa bayi yang tidak mendapatkan ASI rentan terhadap berbagai masalah kesehatan di antaranya yaitu paparan virus, penyakit perut, infeksi telinga dan lain sebagainya. Anak yang mendapatkan ASI sesuai dengan usia yang telah ditentukan memiliki resiko yang rendah terhadap obesitas, pengembangan alergi serta memiliki efek baik untuk kecerdasannya.

Ketika sedang mengandung, ibu hamil disarankan untuk mengkonsumsi makanan sehat dan berkualitas. Begitu pula ketika menyusui bayinya, ibu tetap harus mempertahankan pola makan yang sehat selama periode menyusui. Ibu menyusui harus bisa mengatur pola makannya sebaik mungkin dan tahu jenis makanan apa saja yang baik untuk produksi ASI dan makanan yang tidak boleh dikonsumsi yang akan berpengaruh pada bayi. Selain untuk kelancaran produksi ASI, memperhatikan asupan makanan bertujuan untuk menjaga kesehatan bayi.

Makanan yang   Harus Dihindari Ibu Menyusui

Akan tetapi sangat disesalkan, sampai saat ini masih banyak ibu menyusui yang tidak mengetahui makanan apa yang perlu dikonsumsi dan perlu dihindari dalam periode menyusui bayinya. Untuk memproduksi ASI sebanyak 600 hingga 800 ml dalam sehari, ibu menyusui membutuhkan 500 kalori di dalam tubuhnya. Tambahan kalori yang dibutuhkan oleh ibu menyusui bisa didapatkan dari makanan sehat. Akan tetapi, hal yang perlu diingat yaitu bahwa tidak selamanya makanan yang nikmat dikonsumsi ibu baik untuk bayi.

Berikut ini beberapa jenis makanan yang harus dihindari ibu menyusui.

Makanan yang Harus Dihindari Ibu Menyusui

Makanan Pedas

Makanan berbumbu dan memiliki cita rasa pedas merupakan makanan yang sangat menggoda. Terlebih lagi jika didukung dengan cuaca yang tepat. Hasrat untuk mengkonsumsi makanan pedas tersebut akan semakin tergugah. Hanya saja perlu diketahui, makanan pedas seperti kari, cabai, kayu manis dan paprika tidak baik untuk kesehatan maupun untuk sistem pencernaan bayi. Mengetahui seperti itu, sangat disarankan ibu menyusui untuk menghindari atau mengurangi konsumsi makanan pedas. Ini bertujuan untuk menjaga kesehatan dan sistem pencernaan bayi.

Brokoli

Brokoli merupakan salah satu sayuran yang kaya akan nutrisi dan manfaat. Di dalam brokoli terdapat kandungan antioksidan yang baik untuk tubuh. Akan tetapi, brokoli dan kembang kol akan menyebabkan terjadinya masalah pada sistem pencernaan bayi. Dimana bayi akan mengalami mulas dan ia sering buang angin karena perutnya kembung. Di dalam brokoli terkandung gas, sehingga bayi akan terus menerus buang angin. Oleh karena itu, sebaiknya hindari atau kurangi konsumsi brokoli selama anda dalam periode menyusui. Untuk mengganti kandungan yang terdapat pada brokoli, anda bisa menggantinya dengan wortel atau bayam.

Soda dan Kafein

Soda dan kafein merupakan jenis minuman yang berpengaruh pada ASI. Anda bisa menghindari minuman ini untuk kesehatan bayi dan menjaga agar ASI tetap berkualitas. Kafein merupakan zat yang diserap oleh usus. 99% kafein yang dikonsumsi langsung diserap oleh darah. Kemudian darah akan mendistribusikannya ke seluruh bagian dalam tubuh, tidak terkecuali otak. Sebaliknya, zat kafein sulit dikeluarkan oleh tubuh melalui urin. Khususnya pada orang dewasa, untuk mengeluarkan kafein di dalam tubuh dibutuhkan waktu selama kurang lebih 5 hingga 6 jam. Sedangkan untuk bayi membutuhkan waktu 14 jam. Ini disebabkan karena kafein yang masuk ke dalam tubuh bayi sulit dimetabolisme oleh tubuhnya. Oleh karena itu, demi kesehatan bayi maka segera atur dan kurangi asupan minuman ini.

Gandum

Gandum merupakan salah satu sumber asam folat yang bermanfaat untuk tubuh. Dimana asam folat itu sendiri merupakan salah satu komponen yang dibutuhkan oleh bayi. Di dalam gandum juga terkandung serat. Gandum itu sendiri bisa diperoleh dari sereal gandum atau roti. Apabila setelah anda mengkonsumsi gandum, si kecil menangis terus menerus dan terdapat darah pada tinjanya, maka itu berarti anda memiliki alergi terhadap gandum. Jika terjadi keadaan seperti itu, maka anda bisa segera memeriksakan diri ke dokter.

Jeruk

Jeruk memiliki manfaat untuk meningkatkan energi ibu menyusui. Akan tetapi jeruk mengandung asam yang tinggi. Dimana asam pada jeruk ini akan mengganggu sistem pencernaan bayi yang masih belum sempurna pada usia tertentu. Apabila ibu menyusui terlalu banyak mengkonsumsi jeruk maka kemungkinan besar bayi akan menjadi rewel atau mengalami ruam popok. Oleh karena itu, ada baiknya jika anda mengurangi konsumsi jeruk. Untuk mendapatkan vitamin C, anda bisa mengganti buah jeruk dengan buah yang lainnya seperti misalkan mangga, jambu merah dan pepaya.

Makanan yang Dapat Memicu Alergi

Anda harus mengingat kembali apakah anda atau suami anda memiliki riwayat alergi atau tidak. Jika memiliki riwayat alergi, maka anda harus hati-hati terhadap makanan yang akan memicu timbulnya alergi pada bayi. Ketika si kecil mengalami alergi, maka anda harus memeriksa kembali makanan apa yang anda konsumsi sehingga untuk ke depannya bisa dihindari.

Produk Susu

Ibu menyusui harus hati hati ketika memilih produk susu. Keju atau es krim bisa saja menyebabkan alergi pada bayi. Selain itu, biasanya sebagian bayi intoleran terhadap susu formula.
Itulah beberapa jenis makanan yang perlu dihindari ibu menyusui. Semoga bermanfaat.