Penyebab Gangguan Pernafasan Pada Bayi Baru Lahir

Beberapa hal diketahui dapat menyebabkan gangguan pernafasan pada bayi baru lahir. Untuk menghindarinya, penting bagi anda mengetahui apa saja yang menyebabkan gangguan pernafasan pada bayi baru lahir.

Bayi baru lahir tubuhnya masih lemah dan rapuh. Perawatan terhadap bayi baru lahir harus benar-benar dilakukan dengan teliti untuk menghindari beberapa kemungkinan yang akan terjadi. Bayi baru lahir belum terbiasa dengan dunia barunya, sehingga bayi baru lahir membutuhkan waktu untuk beradaptasi agar ia dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan selain kandungan ibunya.

Agar dapat mengambil nafas dengan sempurna, bayi baru lahir membutuhkan perjuangan yang lebih. Namun, keadaan tertentu dapat menyebabkan masalah atau gangguan pernafasan pada bayi baru lahir. Karena akibat gangguan nafas tersebut dapat membuat bayi tersengal-sengal atau mengeluarkan suara mendengus.

Gangguan Pernafasan Pada Bayi Baru Lahir

Ketika mendapati bayi anda mengalami gangguan pernafasan, maka sebaiknya segera bawa ia ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang lebih tepat dan cepat. Ada beberapa penyebab gangguan pernafasan pada bayi baru lahir yang harus anda ketahui. Berikut ini penyebab gangguan pernafasan pada bayi baru lahir yang dapat anda simak:

Penyebab Gangguan Pernafasan Pada Bayi Baru Lahir

Infeksi

Masalah pernafasan pada bayi baru lahir dapat disebabkan karena infeksi. Gangguan pernafasan yang merupakan infeksi biasanya diikuti dengan demam, dan penyebabnya yaitu oleh bakteri Streptokus. Bakteri ini bisa masuk ke dalam tubuh bayi yang baru dilahirkan karena bakteri ini muncul dari vagina ibu.

Berdasarkan American Congress of Obstetricans and Gynecologist menyatakan bahwa proses kelahiran melalui vagina ibu dapat menyebabkan demam pada bayi yang baru dilahirkan. Dimana bakteri tersebut rentan menyebabkan infeksi pernafasan pada bayi baru lahir.

Lahir Prematur

Bayi yang lahir kurang bulan atau prematur memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan pernafasan. Sebuah zat yang disebut dengan surfaktan akan muncul pada usia kehamilan 31 minggu. Dimana zat ini membantu paru-paru untuk menyerap oksigen. Selain itu zat tersebut pun akan membantu paru-paru untuk mengembang, mengambil nafas saat dilahirkan dan membuat bayi bisa bernafas sendiri tanpa dibantu oleh plasenta. Namun, jika zat surfaktan tersebut kurang, maka akibatnyar bayi prematur butuh waktu agar dapat bernafas dengan normal.

Konsumsi Obat Penenang Sebelum Melahirkan

Untuk menghilangkan nyeri menjelang persalinan, biasanya ibu mengkonsumsi obat yang membantu mengatasi rasa nyeri tersebut yang didapatkan dari bidan atau dokter yang menangani persalinan. Konsumsi obat nyeri tersebut tidak boleh dilakukan dengan sembarangan, yang mana konsumsinya harus benar-benar diperhatikan. Jika terdapat kesalahan terhadap konsumsi obat tersebut, maka akan menyebabkan obat masuk ke dalam plasenta, kemudian akan masuk ke dalam aliran darah janin. Apabila obat yang dikonsumsi terlalu dekat diberikan sebelum waktu kelahiran, maka akan meningkatkan risiko bayi mengalami masalah pernafasan. Dimana obat yang dikonsumsi tersebut dapat mempengaruhi sistem pernafasan bayi.

Kadar Gula Darah Rendah

Jika ibu memiliki kadar gula tinggi, maka ibu akan berpotensi melahirkan bayi dengan kadar gula darah rendah. Dimana keadaan kadar gula darah rendah dapat meningkatkan risiko gangguan pernafasan pada bayi. Bayi yang lahir dari ibu yang memiliki riwayat penyakit diabetes, akan membuat bayi untuk memproduksi insulin lebih tinggi. Kadar gula darah akan menjadi mendadak rendah pada saat tali plasenta putus. Dimana keadaan inilah yang akan menyebabkan timbulnya masalah pernafasan pada bayi baru lahir.

Gaya Hidup Ibu yang Tidak Sehat

Pasokan oksigen selama bayi dalam kandungan sangat bergantung terhadap tali plasenta. Jika ibu membiasakan gaya hidup yang tidak sehat, seperti misalkan tidak memperhatikan asupan makanannya yang menyebabkan kurang gizi, serta tidak lepas dari kebiasaan merokok, maka akibatnya akan membuat janin dalam kandungan kekurangan oksigen. Keadaan ini secara refleks akan membuat bayi mengeluarkan mekonium ke dalam cairan ketuban. Dimana saat bayi dilahirkan, mekonium tersebut dapat menghambat sistem pernafasan bayi. Untuk menghilangkan mekonium dalam tubuhnya, bayi membutuhkan waktu. Karena seperti itu, saat masa kehamilan penting bagi setiap ibu untuk selalu menjaga kesehatannya, menjauhkan kebiasaan buruk dan memperhatikan asupan makanan agar dampaknya tidak diterima oleh bayi.

Pola Nafas Bayi Baru Lahir

Kenali pola nafas bayi baru lahir seperti berikut ini:

Bernafas Cepat

Ketika anda mendapati bayi bernafas dengan normal, kemudian nafasnya cepat dan bernafas dengan norma kembali. Meskipun sebenarnya belum diketahui penyebabnya, tetapi pola nafas ini masih dianggap normal.

Normalnya, frekuensi nafas bayi yang baru lahir berkisar antara 40-60 tarikan dalam permenit. Namun, saat bayi mengalami kepanasan atau menangis, maka frekuensi nafasnya akan naik menjadi 60 tarikan permenit. Bayi akan terlihat seperti terengah-engah. Apabila ia sudah tidak kepanasan atau berhenti menangis, maka frekuensi nafasnya akan kembali normal.

Berhenti Bernafas

Mendapati bayi berhenti bernafas tentunya akan sangat khawatir. Pada saat tidur, nafas bayi tiba-tiba berhenti selama 5-10 detik, kemudian ia akan kembali bernafas lagi. Keadaan periodic breathing ini normal dialami bayi, terutama pada bayi yang lahir prematur.

Grok Grok

Paru janin ketika dalam kandungan terisi oleh cairan amnion atau ketuban. Pada saat ibu mengalami kontraksi dan bayi melalui jalan lahir, maka akan terjadi penekanan pada paru sehingga akan menyebabkan cairan amnion keluar. Untuk proses yang selanjutnya, mekanisme tubuh si kecil akan membersihkan amnion dari paru-paru, juga jalur pernafasannya. Dimana karena hal inilah yang menyebabkan nafas bayi menjadi berbunyi. Keadaan ini dianggap normal dan sudah dapat diatasi sebelum bayi dibawa pulang ke rumah.

Selain amnion, pada saluran pernafasan bayi terdapat lendir. Dimana lendir tersebut berfungsi untuk saringan yang mencegah debu dan kuman masuk ke dalam paru-paru. Apabila suhu dingin atau menggunakan AC, maka lendir tersebut akan mengental sehingga saat bernafas akan terdengar bunyi. Jika bayi mengalami alergi atau infeksi, lendir akan semakin bertambah yang akan mengganggu pernafasan bayi. Untuk mengetahui cara penanganannya, anda dapat melakukan konsultasi dengan dokter.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera bawa bayi anda ke dokter apabila ia memperlihatkan tanda-tanda seperti ini:

  • Cuping hidung bayi terlihat mengembang dan mengempis, kemudian nafas bayi berat dan bayi menarik dada kuat yang menandakan bahwa bayi menggunakan otot bantu agar bisa bernafas.
  • Frekuensi nafas bayi melambat, lidah dan bibir bayi kebiruan. Dimana keadaan ini menandakan bayi kekurangan oksigen.
  • Nafas bayi terdengar merintih, dimana keadaan ini tandanya terdapat masalah pada sistem pernafasannya.

Hal yang Harus Dilakukan

  • Penting bagi anda untuk memperhatikan frekuensi nafas bayi, serta gerakan naik turunnya dada.
    Anda dapat memasang baby monitor, sehingga jika anda tidak berada dekat dengan bayi, anda bisa dengan cepat memberikan respon ketika terdengar suara bayi batuk atau menangis.
  • Untuk meningkatkan sistem daya tahan tubuh bayi, anda dapat terus menyusuinya. Menyusui bayi juga dapat memperkaya antibodi dalam tubuh bayi. Dimana keadaan ini dapat membuat bayi terhindar dari penyakit atau infeksi yang akan menyerang sistem pernafasan bayi.
Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *