Penyebab Sindrom Edward – Berbagai kelainan pada bayi tentunya sangat banyak terjadi. Tidak terkecuali Sindrom Edward yang sering menyerang pada bayi yang tentunya memiliki dampak yang sangat buruk bagi perkembangan bayi. Untuk lebih jelasnya, kami sajikan beberapa hal mengenai penyebab Sindrom Edward pada bayi di bawah ini. Yuk kita simak saja!

Kelainan pada bayi tentunya menjadi menjadi sebuah permasalahan yang cukup besar terutama bagi orangtua. Bayi yang memiliki kelainan pada saat lahir tentunya menjadi sebuah tugas yang cukup berat bagi kita untuk membuat kondisi tersebut lebih baik. Kelainan pada bayi tentunya disebabkan oleh berbagai faktor yang tentu tidak kita sadari sebelumnya. Salah satunya yaitu Sindrom Edward yang rentan menyerang bayi.

Sebagian besar orangtua mungkin belum bahkan tidak mengenal apa itu Sindrom Edward. Namun satu hal yang pasti bahwa sindrom ini merupakan salah satu kelainan pada bayi yang memiliki dampak yang sangat buruk bagi tumbuh kembang bayi. Bagaimanapun juga, kelainan pada bayi tentunya menjadi satu hal yang membuat para orangtua merasa sangat khawatir. Untuk itu, Anda sebagai orangtua diwajibkan untuk mengenal dan juga mengetahui apa itu Sindrom Edward yang akan kami jelaskan pada poin selanjutnya. Baca juga: Bahaya Penyakit Tetanus Pada Bayi | Definisi, Gejala, Penyebab & Pengobatan

Apa Itu Sindrom Edward

penyebab sindrom edward

Mengenal Sindrom Edward tentunya menjadi salah satu yang wajib Anda ketahui. Pasalnya, Sindrom ini merupakan salah satu sindrom yang rentan menyerang bayi. Sindrom Edward ialah salah satu kelainan kongenital yang terjadi pada bayi di dalam kandungan. Sindrom ini juga dikenal dengan sebutan trisomi 18.

Jika seorang bayi terserang Sindrom Edward tentunya dapat diketahui dengan berbagai tanda kelainan seperti tangan, kepala, jantung, cacat pada telinga, ginjal dan juga gangguan tumbuh kembang pada bayi yang lebih lambat dibanding dengan usianya. Salah satu ciri khas yang menandai bahwa bayi terserang Sindrom Edward ialah telapak tangan pada jari yang terlihat saling tumpang tindih tidak seperti pada keadaan bayi pada umumnya. Lihat juga: 26 Makanan Pelancar ASI Untuk Ibu Menyusui Yang Harus Anda Ketahui

Perlu Anda tahu bahwa Sindrom Edward terjadi saat bayi masih di dalam kandungan atau biasa dikenal dengan kelainan bawaan lahir. Sindrom ini tentunya salah satu kelainan genetik kedua yang terjadi setelah trisomi 21 atau lebih yang disebut dengan Sindrom Down. Seorang bayi yang terserang Sindrom ini memang jarang terjadi, namun jika menyerang bayi tentunya menjadi hal yang sangat serius.

Sindrom ini pertama kali diperkenalkan oleh John Hilton Edward yang menyebutkan bahwa Sindrom ini yakni trisomi 18 yang disebabkan adanya penambahan salah satu kromoson pada satu pasangan nomor 18. Karena Sindrom Edward merupakan kelainan yang sangat langka dan jarang terjadi, setidaknya kasus ini terjadi pada 1 dari 5000 kelahiran. Wanita yang hamil pada usia senja tentunya sangat rentan terkena serangan Sindrom Edward ini. Meskipun bayi yang terkena Sindrom Edward ini memiliki kelainan yang fatal saat dilahirkan, namun tidak jarang juga yang tidak bisa diselamatkan. Jika dilahirkan pun, bayi yang terjangkit Sindrom Edward hanya bisa bertahan selama 1 bulan setelah dilahirkan.

Terlepas dari hal tersebut tentunya ini menjadi sesuatu hal yang harus Anda waspadai dan juga cegah dengan sebaik mungkin. Karena tentunya tidak ada orangtua yang menginginkan sesuatu hal yang buruk terjadi kepada bayinya. Terlebih jika bayi yang dilahirkannya terkena salah satu penyakit yang menyebabkan kecacatan bahkan meninggal dunia.

Jenis-Jenis Sindrom Edward

Sindrom Edward tentunya tidak hidup dengan hanya memiliki satu jenis. Namun, terdiri dari beberapa jenis yang pastinya memiliki perbedaan dari satu jenis pada jenis lainnya. Pembagian jenis Sindrom Edward tersebut tentunya berdasarkan pada banyaknya kromosom yang muncul dalam satu kehamilan dalam jumlah yang sangat berlebih. Jenis-jenis Sindrom Edward tersebut, diantaranya:

Trisomi 18 Mosaik

Salah satu jenis Sindrom Edward yang paling ringan ialah trisomi 18 Mosaik. Jenis sindrom ini tentunya beberapa sel yang mempunyai sel 18. Hal ini tentunya menjadi sebuah parameter bahwa semakin sedikit sel dan jumlah kromosom yang berlebih, semakin ringan pula keadaan sindrom Edward.

Meskipun terbilang ringan, namun jika seorang bayi terkena sindrom ini tetap saja ia memiliki perbedaan dengan bayi lainnya. Pada umumnya, bayi yang selamat dan hidup dengan Sindrom Edward tentunya memiliki tumbuh kembang yang sangat lambat dibanding dengan usianya. Namun, bayi yang terkena Sindrom Edward tentunya dapat bertahan hidup setidaknya pada saat satu tahun pertama. Setidaknya hanya sedikit anak yang dapat bertahan hidup hingga awal dewasa meski ia mengidap Sindrom Edward ini.

Trisomi 18 Parsial

Sindrom Edward jenis kedua ini tentunya jenis sindrom menengah dan lebih parah dibandingkan dengan trisomi mosaik 18. Trisomi parsial 18 ini dapat terjadi karena sebagian kromosom 18 tambahan yang telah muncul di dalam sel. Keadaan tersebut tentunya sangat berpengaruh terhadap janin di dalam kandungan. Parah atau tidaknya, hal ini bergantung pada bagian kromoson 18 yang muncul pada sel tersebut.

Trisomi 18 penuh

Jenis Sindrom Edward yang terakhir terbilang sangat parah dan paling umum terjadi. Trisomi 18 penuh tentunya sebuah kondisi dimana keseluruhan bagian kromoson 18 tambahan berada pada semua sel pada tubuh bayi. Tentunya, ini merupakan jenis sindrom Edward yang sangat parah dan juga sangat berdampak buruk bagi kesehatan bayi.

 

Ciri-Ciri Penyakit Sindrom Edwards (ES)

Tentunya, bayi yang terkena Sindrom Edward akan memiliki beberapa karakteristik yang pastinya menjadi sebuah ciri bahwa seorang bayi terkena Sindrom Edward. Berikut ini kami sajikan beberapa ciri jika bayi terkena Sindrom Edward, diantaranya:

  1. Adanya defisiensi pertumbuhan pada bayi
  2. Kesulitan untuk bernapas
  3. Malformasi pada ginjal
  4. Terjadinya keterbelakangan perkembangan dan juga mental
  5. Keadaan usus yang menonjol di luar tubuh dan atresia esofagus
  6. Mengalami cacat jantung struktural pada saat lahir diantaranya patent ductus arteriosus, cacat septum ventrikel dan defek septum atrium.
  7. Arthrogryposis yaitu adanya gangguan otot yang menyebabkan kontraktur sendi beberapa saat setelah lahir.

Itulah beberapa ciri jika seorang bayi terkena Sindrom Edward yang patut Anda ketahui.

Penyebab Sindrom Edward

Tentunya, setiap kelainan yang terjadi pada bayi bisa disebabkan oleh beberapa hal. Seperti pada bayi yang terkena Sindrom Edward diantaranya:

Kelainan Kromosom

Penyebab pertama jika seorang bayi terjangkit Sindrom Edward ialah adanya kelainan kromosom. Pada manusia normal jumlah kromosom berjumlah 46 buah yang diantaranya 22 pasang kromosom somatik dan 1 pasang kromosom kelamin. Namun, ada juga beberapa kasus dengan variasi jumlah kromosom yang biasa dinamakan dengan aneuploidi.

Pada seseorang yang terkena kasus aneuploidi tentunya dapat mengakibatkan variasi pada jumlah kromosom. Hal ini menyebabkan adanya pasangan kromosom yang kekurangan dan menyisakan kromosom biasa atau yang sering disebut dengan monosomi. Akan tetapi, tidak jarang juga yang mempunyai kelebihan kromosom yang nantinya mengakibatkan pasangan kromosom mempunyai 3 kromosom yang biasa dikenal dengan sebutan trisomi. Pada kelainan 3 kromosom inilah yang mengakibatkan seorang bayi terkena Sindrom Edward. Pada umumnya, bayi yang terkena Sindrom Edward memiliki tambahan pasangan pada kromosom nomor 18. Hal ini tentunya dapat menimbulkan masalah pada seseorang yang menderita Sindrom Edward tersebut. Tambahan kromosom tersebut tentunya dapat menyebar ke hanya sebagian sel atau juga ke sel somantik. Dampak dari tambahan sel kromosom tersebut tentunya sangat bervariasi tergantung dari kromosom dan juga riwayat generik tersebut berperan.

Faktor usia pada ibu

Faktor usia memang menjadi salah satu penyebab seorang bayi terkena Sindrom Edward. Tentunya, ibu yang mengandung bayi di atas usia 35 tahun sangat rentan mengalami kromosom yang lebih besar jika dibandingkan dengan ibu hamil yang masih muda. Hal ini tentunya disebabkan oleh perbedaan usia sel telur perempuan yang masih muda dan juga sudah tua.

Tidak bisa dipungkiri bahwa wanita terlahir dengan memiliki sejumlah sel telur di dalam ovariumnya. Namun, sel telur tersebut jumlahnya tidak akan bertambah dan justru akan berkurang setiap bulannya. Kondisi ini tentunya dapat menyebabkan sel telur bisa dibuahi oleh sperma, akan tetapi jika tidak dibuahi, maka perempuan akan mengalami siklus menstruasi setiap bulannya.

Sel telur yang sudah matang tentunya dilepaskan oleh ovarium setiap bulannya. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu sel telur pada wanita pun akan semakin berkurang dan bergantung pada usia wanita tersebut. Sel telur pada usia 50 tahun tentunya sel telur akan semakin berkurang dan begitulah seterusnya. Akibat yang ditimbulkan dari kelainan kromosom ini tentunya seringkali terjadi karena adanya penuaan yang telah terjadi pad sel telur atau jumlah kromosom yang salah ketika terjadinya pembuahan. Hal ini dikarenakan wanita yang sudah tua akan sangat rentan terjadi kesalahan ketika mengalami proses mitosis atau meiosis.

Gejala Sindrom Edward Pada Bayi

Setelah kita mengetahui penyebab dan juga cara memastikan sindrom Edward pada bayi. Tentunya, kita dihadapkan pada beberapa gejala yang kemungkinan timbul jika seorang bayi terkena sindrom Edward. Berikut ini beberapa gejala yang timbul jika seorang bayi terkena Sindrom Edward, diantaranya:

1. Bayi sering mengalami sembelit

Gejala pertama yang mungkin timbul jika seorang bayi terkena sindrom Edward ialah sering mengalami sembelit. Sembelit tentunya diakibatkan oleh keadaan otot yang sangat buruk. Jika seorang bayi terkena sindrom Edward dan bisa bertahan hidup tentunya ia akan mengalami sembelit seumur hidupnya.

Akibatnya bayi sangat rewel karena merasa tidak nyman ketika buang air besar. Kondisi ini juga menyebabkan bayi merasakan kelelahan yang sangat luar biasa. Pada umumnya obat anti gas, susu formula khusus, obat pelunak feses dan juga supositoria sangat diperlukan untuk melakukan perawatan pada bayi yang terkena sindrom Edward. Akan tetapi, enema tidak harus diberikan kepada bayi karena bisa mengubah komposisi cairan yang ada di dalam tubuh. Hal ini dikarenak enema dapat menguras elektrolit pada tubuh bayi dan juga mengubah komposisi cairan di dalam tubuh.

2. Berat badan bayi lahir rendah

Pada bayi yang terkena Sindrom Edward tentunya ditandai pula dengan berat bayi lahir rendah. Hal ini juga akan terlihat pada bayi yang terlihat lemah ketika ia sedang menangis. Kelainan sindrom Edward tentunya memiliki masalah ketika bayi menerima asupan makanan dan juga mengalami kegagalan ketika berkembang.

Bayi yang terkena sindrom Edward memang sudah memiliki berat yang cukup rendah dibandingkan dengan kesehatan yang lainnya. Pada beberapa kondisi kemungkinan bayi memang sangat lemah dan juga dapt bertahan hidup hanya 2-3 bulan saja. Ada juga bayi yang dapat bertahan hidup meski hanya 2-3 bulan saja. Sangat tipis kemungkinan bayi dapat bertahan hidup hingga 1 tahun, meski mereka mengalami kelainan pada mental dan juga fisik.

3. Kelainan fisik pada bayi yang tidak sempurna

Bagi bayi yang menderita kelainan sindrom Edward tentunya memiliki bentuk fisik tubuh yang sempurna. Kelainan bentuk fisik tubuh ini tentunya ditandai dengan kecacatan pada bagian rahang dengan bentuk yang cukup kecil atau micrognathia, bentuk kepala yang begitu kecil ditambah dengan bagian ubun-ubun bayi yang terlihat menonjol, terjadinya lipatan pada kelopak mata yang sedikit sempit, mengalami bibir sumbing serta langit-langit ditambah dengan kondisi hidung yang terbalik, jempol tangan mengarah ke bagian belakang, tulang dada yang pendek, kuku jari bayi yang terkadang tidak ada sama sekali, tangan yang terkepal, testis pada bayi yang tidak turun dan biasanya kaki yang sedikit pengkor.

4. Perkembangan buruk bagi bayi

Bayi yang menderita sindrom Edward tentunya memiliki perkembangan bayi yang lebih buruk. Perkembangan bayi yang mengalami sindrom tentunya rentan mengalami kecacatan dan juga perkembangan bayi yang sangat buruk. Selain itu, perkembangan komunikasi verbal tentunya sangat terbatas dan terkadang tidak kita mengerti.

Cara Memastikan Sindrom Edward

Tentunya, saat bayi masih dalam kandungan, seorang dokter akan memastikan kemungkinan bayi terkena sindrom Edward. Cara memastikan sindrom Edward tentunya seorang dokter akan melakukan pemeriksaan USG. Meskipun, pemeriksaan ini terbilang kurang akurat untuk mendiagnosa adanya sindrom Edward pada tubuh bayi.

Jika bayi sudah lahir tentunya dokter dapat mendiagnosa apakah bayi terkena Sindrom Edward ataukah tidak. Pada umumnya dokter akan melakukan pemeriksaan dengan cara mengamati bagian wajah dan juga anggota tubuh lainnya. Tentunya, bayi yang terkena Sindrom Edward akan ditemukan ciri pada  bagian kepala yang tampak lebih besar dan juga jari yang tumpang tindih.

Selain itu, dokter akan melakukan pemeriksaan kepada bayi baru lahir dengan pemeriksaan melalui darah untuk memastikan kondisi trisomi 18. Pemeriksaan darah yang dilakukan oleh dokter juga dapat mendiagnosis adanya kemungkinan bayi terkena Sindrom Edward. Hal ini tentunya membuat para ibu hamil untuk lebih waspada akan kehamilan yang selanjutnya.

Namun, sebelum memastikan bahwa bayi yang baru lahir terkena Sindrom Edward, pada kebanyakan bayi sudah diketahui meninggal di dalam kandungan terlebih dahulu. Atau tidak jarang juga yang meninggal setelah satu minggu pertama bayi tersebut dilahirkan. Ada juga bayi yang baru lahir pada satu tahun pertamanya, namun jumlahnya hanya sedikit sekitar 5-10% saja.

Memastikan apakah bayi terkena Sindrom Edward ataukah tidak tentunya ini menjadi salah satu tugas bagi kita diman kita dapat mencegah dan juga mengobati kelainan tersebut dengan sigap. Hal ini tidak lain ialah untuk melakukan pencegahan yang lebih kepada bayi kita.

Beberapa Penyebab Sindrom Edward mungkin belum diketahui penyebabnya. Akan tetapi kita sebagai orangtua harus melakukan pencegahan terhadap datangnya penyakit tersebut. Bagaimanapun juga, kita tidak menginginkan sesuatu terjadi kepada buah hati kita. Demikianlah beberapa penyebab, gejala dan juga cara mengatasi Sindrom Edward yang wajib kita lakukan. Semoga bermanfaat!

Penyakit Tetanus Pada Bayi – Tentunya, Anda jangan menganggap remeh akan penyakit yang satu ini. Pasalnya, penyakit tetanus mengancam sistem imunitas tubuh, terlebih pada bayi baru lahir. Maka dari itu, Anda diharuskan untuk mengetahui apa sebenarnya penyakit tetanus tersebut, penyebab, gejala dan juga cara mencegahnya. Semua topik tersebut tentunya akan kami jelaskan dibawah ini!

Siapa yang tidak ingin memiliki tubuh yang sehat dan juga tahan terhadap penyakit. Tentunya, semua orang menginginkan kondisi tersebut ada di dalam tubuhnya, tidak terkecuali pada bayi baru lahir. Akan tetapi, keinginan tersebut memang tidak selalu sesuai dengan kenyataan. Pasalnya, banyak orang yang memiliki sistem imunitas yang cukup buruk sehingga mereka mudah sakit.

Sistem imunitas tubuh yang kurang tentunya akan memudahkan bakteri dan juga virus masuk ke dalam tubuh sehingga menyebabkan tubuh tidak dapat mengendalikannya. Seperti pada salah satu penyakit yang kerap menyerang bayi dan juga anak-anak yakni tetanus neonatorum. Penyakit ini juga dapat dibilang sebagai penyakit infeksi dimana bakteri yang masuk ke dalam tubuh dapat disebabkan oleh adanya luka pada tubuh kita. Baca juga: 26 Makanan Pelancar ASI Untuk Ibu Menyusui Yang Harus Anda Ketahui

Apa Itu Tetanus?

Jika kita ingin mengetahui lebih dalam lagi apa yang dimaksud dengan tetanus, tentunya ini adalah niatan yang cukup dianjurkan bagi setiap orang. Bagaimanapun juga, mengenali akan suatu penyakit menjadikan kita lebih tahu untuk memberikan pencegahan semaksimal mungkin. Seperti yang sedikit sudah dijelaskan di atas bahwa tetanus merupakan sebuah infeksi penyakit pada luka seseorang.

Tetanus salah satu penyakit infeksi yang tergolong cukup serius dimana infeksi ini disebabkan oleh bakteriClostridium tetani. Pada umumnya, bakteri ini terdapat di dalam tanah, debu, manusia yang terinfeksi dan juga kotoran pada hewan. Bakteri tetanus yang masuk ke dalam tubuh disebabkan oleh tubuh yang terluka akibat luka bakar atau cidera. Melalui luka tersebut dimungkinkan bakteri yang masuk ke dalam tubuh lebih mudah dan langsung ke dalam peredaran darah. Lihat juga: Perkembangan Bayi 14 Bulan Yang Wajib Anda Ketahui

Bagaimanakah Tetanus Menyerang Bayi?

Lantas, bagaimana penyakit tetanus neonatirum pada bayi? Penyakit tetanus nenatorum yang rentan terjadi pada bayi tentunya dapat menyerang melalui luka [ada tali pusar. Hal ini biasanya terjadi pada bayi yang kurang mendapatkan perawatan tali pusar yang cukup baik. Biasanya terjadi di daerah terpencil dan juga pedesaaan dengan peralatan yang tidak steril.

Bakteri ini tentunya dapat menyerang luka yang sangkal ataupun luka yang dalam. Penyakit tetanus neonatorum pada bayi dapat terjadi akibat dari pemotongan tali pusar dengan menggunakan pisau atau gunting yang tidak steril. Hal ini dikarenakan juga penyakit infeksi dapat ditemukan pada pisau, besi, gunting, jarum dan juga ujung peniti terutama yang mengalami karat.

Bakteri Clostridium tetani ialah salah satu bakteri yang menghasilkan racun neurotoxin sehingga dapat menyerang sistem imunitas tubuh dan juga saraf pusat pada manusia. Penyakit tetanus nenatorum ialah suatu infeksi pada bayi baru lahir yang menyebabkan kasus kematian terbanyak pada bayi. Hal ini memang dikarenakan sistem imunitas pada tubuh bayi masih sangat rendah dan juga belum memiliki kemampuan untuk menangkal virus dan juga bakteri yang kemungkinan akan masuk ke dalam tubuh.

Untuk itu, penyakit tetanus neonatorum pada bayi tergolong pada penyakit yang sangat berbahaya. Penyakit tetanus pada bayi pada umumnya disebabkan oleh ibu yang tidak melakukan imunisasi TT (Tetanus Toxoid) pada saat sebelum dan juga saat hamil. Imunisasi ini memang sangat penting untuk dilakukan dengan tujuan untuk mencegah bakteri penyebab infeksi tetanus tersebut masuk ke dalam tubuh dan juga pada saat janin di dalam kandungan.

Pada beberapa kasus penyakit tetanus dapat disebabkan oleh gigitan hewan. Tidak jarang juga yang sering membersihkan gigi menggunakan peniti atau jarum yang memang rentan terkontaminasi kuman dan juga bakteri. Maka dari itu, jangan dianggap sepele akan penyakit tetanus neonatorum pada bayi karena dapat mengancam jiwa dan menyebabkan kematian. Bagi para ibu yang akan dan juga sudah mendapatkan kehamilan, tentunya jangan sungkan dan juga malas untuk melakukan imunisasi TT (Tetanus Toxoid) karena ini sebagai cara untuk mencegah infeksi tersebut menyerang tubuh kita.

Penyebab Tetanus Neonatorum

penyakit tetanus pada bayi

Tentunya, setiap penyakit ada bukan tanpa sebab. Hal ini juga berlaku pada kasus penyakit infeksi tetanus neonatorum pada bayi dimana penyebab utama penyakit ini ialah bakteri Clostridium tetani. Bakteri ini terkenal dengan bakteri penghasil racun neorotoxin yang dapat menyerang sistem saraf pusat pada manusia.

Bakteri ini tentunya dapat ditemukan pada debu, kotoran hewan, tanah dan juga polusi. Tidak jarang juga bakteri tetanus yang terdapat pada jarum, gunting dan juga besi berkarat. Pada bayi baru lahir, penyebaran tetanus neonatorum dapat melalui pemotongan tali pusar dengan menggunakan alat-alat yang tidak steril.

Beberapa penyebab lain yang dapat menyebabkan bayi terserang penyakit tetanus neonatorum, diantaranya:

  1. Melakukan proses persalinan dengan menggunakan alat-alat yang tidak steril
  2. Riwayat adanya penyakit tetanus neonatorum yang terjadi pada anak sebelumnya
  3. Adanya bakteri tetani akibat paparan bahan dan juga alat yang berpotensi mengundang bakteri penyebab tetanus neonatorum pada saat persalinan
  4. Ibu yang tidak melakukan imunisasi dan juga vaksinasi TT (Tetanus Toxoid)
  5. Kurangnya melakukan perawatan tali pusar pada bayi

Itulah beberapa penyebab seseorang terkena infeksi tetanus neonatorum yang tentu harus kita hindari semaksimal mungkin.

 Gejala Penyakit Tetanus

penyakit tetanus pada bayi

Setelah kita mengetahui apa yang dimaksud dengan tetanus dan juga penyebabnya. Tentunya, kita akan beranjak pada gejala-gejala yang mungkin akan timbul jika seseorang terserang penyakit tetanus. Pada bayi baru lahir, gejala tetanus dapat terlihat pasca 3-10 hari persalinan. Pada gejala awal pada bayi yang terkena tetanus, ia akan terus menangis, tidak mau menyusui dan juga tubuhnya mengalami demam. Akan tampak area tali pusar yang tampak memerah, kotor, meradang, dan juga tampak bengkak.

Tentu saja, jika salah satu gejala tersebut tampak pada seorang bayi dengan gejala lainnya, maka dapat dipastikan bahwa bayi tersebut terserang penyakit tetanus neonatorum. Penyakit tetanus neonatorum ini banyak ditemukan di negara-negara berkembang, sedangkan pada negara-negara maju sangat jarang terjadi. Hal ini mungkin disebabkan oleh teknik dan juga peralatan persalinan yang kurang higienis dan juga memadai. Untuk itu, jika hal tersebut terjadi pada bayi baru lahir, tentunya harus diberikan perawatan intensif. Jika tidak segera ditangani tentunya akan menyebabkan kematian dan juga mengancam jiwa.

Pada beberapa kasus penderita tetanus neonatorum, gejala awal dapat ditandai dengan adanya rasa gelisah, sakit kepala hebat, demam, nyeri dan juga kaku pada otot rahang, otot perut mengeras dan juga kejang hingga akhirnya menyerang seluruh tubuh. Gejala tersebut tentunya dapat terjadi pada hari ke 8 pasca tubuh terserang infeksi tersebut. Setelah gejala tersebut, biasanya  infeksi dapat menyerang tubuh selama 3 hari – 3 minggu.

Rasa nyeri pada tulang gigi dan juga rahang dapat menyebabkan seseorang sulit untuk membuka mulut dan juga menelan makanan. Dengan kondisi tersebut tentunya pasien akan mengalami sulit bernafas dan juga sesak sehingga mengakibatkan kematian. Penyakit tetanus bukanlah salah satu penyakit yang menular. Biasanya, penyakit tetanus terjadi pada seseorang yang tidak melakukan imunisasi dan juga vaksinasi tetanus. Untuk itu, seseorang  yang terkena penyakit tetanus harus diberikan perawatan intensif di rumah sakit.

Beberapa Gejala Penyakit Tetanus

Kronologisnya, bakteri yang menyerang tubuh melalui luka dapat mengacaukan kinerja sistem saraf pusat sehingga penderita mengalami kejang-kejang dan juga kaku pada otot. Pada beberapa kasus, penderita yang terserang penyakit tetanus tidak dapat membuka dan juga menutup rahangnya atau terkenal dengan istilah rahang terkunci (lockjaw). Beberapa gejala penyakit tetanus pada bayi dapat ditandai dengan beberapa indikasi berikut ini:

  1. Kejang yang disebabkan oleh cahaya dan juga suara ketika disentuh
  2. Mulut bayi akan terlihat kaku dan juga sulit membuka dan juga menutup ketika menyusui.
  3. Kaku pada otot tubuh dan juga spasme akan membuat tubuh bayi tampak melengkung ke belakang dan juga menegang.
  4. Otot wajah bayi dan juga rahang mulai meregang dan juga mengencang pada hari ke 2-3 setelah kelahiran.

Untuk itu, pada sebagian besar kasus tetanus neonatorum dapat terjadi antara hari ke 3-28 pasca persalinan. Meskipun jumlah kasus tetanus neonatorum pada bayi menurun, namun  harus tetap ditangani oleh bidan dan juga dokter untuk menangani penyakit tersebut pada bayi baru lahir.

Jenis-Jenis Tetanus

Tentunya, penyakit tetanus juga memiliki beberapa jenis dan juga tipe yang berbeda dan tentu memiliki gejala dan juga efek yang berbeda. Pada umumnya ada beberapa tipe dan juga jenis penyakit tetanus diantaranya tetanus umum, neonatorum, cephalic dan juga terlokalisir. Setiap jenis tetanus tersebut tentunya memiliki sifat dan juga akibat yang berbeda ketika menyerang tubuh manusia.

Tetanus neonatorum ialah salah satu jenis penyakit tetanus yang menyerang pada bayi baru lahir. Bakteri ini biasanya akan menyerang luka pada tali pusar bayi yang nantinya akan mulai menyerang sistem kekebalan pada tubuh bayi. Infeksi tetanus neonatorum menyerang tubuh bayi dengan sangat mudah dikarenakan sistem imunitas tubuh bayi masih sangat lemah. Proses persalinan yang terpapar beberapa penyebab penyakit infeksi tetanus kemungkinan besar bayi akan terserang penyakit tetanus neonatorum.

Tetanus yang dikatakan cephalic jika infeksi tersebut menyerang telinga bagian tengah karena telinga rentan mengalami kotoran. Tetanus jenis ini akan berpotensi menjadi tetanus berjenis umum.

Sedangkan tetanus terlokalisir dapat menyerang bagian tubuh tertentu pada manusia dan menyebabkan kejang lokal. Kondisi ini dapat terjadi pada saat tubuh mempunyai sistem kekebalan parsial terhadap bakteri dan juga racun tetanus. Untuk itu, seseorang yang tersering tetanus terlokalisir dapat mengalami kejang pada bagian tubuh tertentu. Tetanus jenis ini juga dapat berpotensi menjadi jenis tetanus umum.

Sedangkan tetanus umum ditandai dengan kejang yang dialami pada seluruh bagian tubuh yang dimulai pada rahang dan juga leher. Pada jenis tetanus umum tentunya disebabkan oleh penyebaran melalui luka dangkal dan juga luka dalam, tidak terkecuali juga pada luka bakar.

Beberapa jenis tetanus tersebut tentunya memiliki potensi yang sama untuk menyerang sistem kekebalan tubuh dan juga sistem saraf pada manusia. Terlebih jika jenis tetanus tersebut sudah berada pada tahap yang cukup berbahaya tentunya dapat mengancam keselamatan dan juga nyawa seseorang.

Pencegahan Penyakit Tetanus Pada Bayi

penyakit tetanus pada bayi

Satu langkah utama yang pasti harus Anda lakukan ialah dengan mengobati dan juga mencegah terjadinya penyakit tetanus. Pencegahan penyakit tetanus pada bayi dapat diberikan dengan melakukan vaksinasi yang merupakan vaksinasi wajib untuk diberikan kepada bayi. Imunisasi ini termasuk ke dalam 5 imunisasi wajib yakni imunisasi DPT (Difteri, Pertusis, Tetanus). Pemberian vaksinasi ini dilakukan melalui lima tahap diantaranya usia 2,4,6, 18 dan 4-6 tahun.

Pemberian vaksinasi juga harus dilakukan pada anak usia 7 tahun yang memiliki fungsi untuk memberikan perlindungan terhadap tubuh dari penyakit tetanus. Vaksinasi Td tentunya dapat diulang setiap 10 tahun untuk mempertahankan sistem imunitas dan juga kekebalan pada tubuh. Vaksinasi juga dapat dilakukan untuk membersihkan luka agar tidak terinfeksi penyakit tetanus dan juga agar luka cepat pulih. Pemberian imunoglobulin tetanus pada umumnya dianjurkan oleh bidan dan juga dokter dalam mencegah terjadinya infeksi tetanus pada luka.

Sedangkan untuk ibu sebelum dan juga saat hamil dapat dilakukan dengan imunisasi TT (Tetanus Toxoid). Pemberian imunisasi ini dilakukan agar tubuh ibu menjadi lebih kuat dan juga mencegah tubuh dari infeksi tetanus yang dapat menyerang dengan tiba-tiba. Pasalnya, bayi yang terserang tetanus juga dapat disebabkan oleh ibu yang memang sudah terinfeksi tetanus.

Melakukan pencegahan pada setiap luka dengan cara membersihkannya semaksimal mungkin untuk mencegah pertumbuhan bakteri Clostridium tetani adalah hal yang harus dilakukan. Itulah beberapa pencegahan penyakit tetanus yang dapat dilakukan agar Anda terbebas dari penyakit tetanus tiroid saat ini juga.

Pengobatan Tetanus Pada Bayi

Jika bayi atau dewasa telah terserang penyakit tetanus, tentunya melakukan pengobatan adalah satu langkah yang harus dilakukan. Jika tidak ditangani dengan segera, maka tetanus akan menjadi pembunuh yang lambat laun akan menyebabkan kematian. Pada umumnya, seseorang yang terkena penyakit tetanus akan melakukan perawatan yang cukup intensif di rumah sakit. Akan tetapi, ada beberapa hal dapat dilakukan yang pastinya sesuai dengan instruksi dokter.

Pengobatan tetanus pada bayi dapat dilakukan dengan cara Medikamentosa melalui langkah-langkah berikut ini:

  1. Memasang jalur IV dan berikan cairan dengan dosisi yang sesuai.
  2. Memberikan diazepam sekitar 10mg/kg/hari secara IV dalam waktu 24 jam
  3. Jika jalur IV tidak terpasang, dapat digantikan dengan memasang pipa lambung, lalu berikan diazepam melalui pipa atau rektum.
  4. Dapat juga memberikan tambahan dosis 10mg/kg setiap 6 jam sekali
  5. Jika bayi mengalami frekuensi nafas yang kurang dari 30 kali/menit tanpa adanya tunjangan nafas, sebaiknya obat tersebut dihentikan.
  6. Jika bayi mengalami henti nafas, tentunya harus diberikan oksigen dengan kecepatan aliran yang sedang. Bila belum berhasil, tentunya bayi harus melakukan perawatan dengan menggunakan fasilitas NICU.
  7. Jika bayi telah mendapatkan perawatan setelah 5-7 hari, maka dosis diazepam dapat dikurangi dengan bertahap sekitar 5-10 mg/hari.
  8. Pada kondisi tertentu, kemungkinan diperlukan vencuronium untuk mengontrol spasme.

Berikan pada bayi Human Tetanus Immuniglobulin 500 U IM pada saat pemberian antitoksin tetanus sebelum melakukan tes kulit.

Pencegahan dan juga pengobatan penyakit tetanus pada bayi tentunya harus dilakukan semaksimal mungkin. Penyakit tetanus pada bayi memang sangat berbahaya yang pastinya akan mengancam nyawa dan menyebabkan kematian pada bayi. Demikianlah beberapa poin yang dapat kami jelaskan mengenai bahaya penyakit tetanus pada bayi. Pastikan untuk mencegah penyakit tersebut agar jauh dari tubuh kita. Semoga bermanfaat!

Saat ini pemerintah Indonesia sedang menyerentakkan imunisasi campak dan rubella untuk anak-anak diseluruh Indonesia. Karena pentingnya imunisasi ini, pemerintah mengajak instansi kesehatan untuk turun langsung ke lingkungan masyarakat terutama posyandu dan sekolah.

Saking pentingnya Pemerintah Indonesia menyampaikan Pencanangan Kampanye Imunisasi Measles Rubella (MR) harus mendapatkan dukungan bail dari lembaga kesehatan ataupun dari masyarakat. Terlebih, Presiden berpesan kepada  masyarakat agar tidak menganggap remeh penyakit campak dan rubella ini. Faktanya, kedua penyakit ini sangat mengancam kesehatan manusia terutama manusia.

Imunisasi ini bertujuan untuk melindungi anak-anak Indonesia dari penyakit berbahaya yang menyebabkan kelainan bawaan pada bay, gangguan indera penting, kelainan jantung dan kekurangan mental pada saat kehamilan. Baca juga: ciri-ciri orang hamil

Imunisasi Campak dan Rubella

imunisasi campak dan rubella

Mengingat pentingnya imunisasi campak dan rubella membuat sejumlah masyarakat tidak melewatkan pencanangan pemerintah ini. Namun, terdapat beberapa orangtua yang belum mengeti apa pentingnya dan bagaimana resikonya jika tidak melakukan imunisasi ini kepada anaknya. Bahkan, ada beberapa orangtua yang justru tidak peduli akan imunisasi yang dilakukan oleh Pemerintah ini, tentu dengan berbagai alasan.

Untuk itu, orangtua harus mengetahui terlebih dahulu apa sebabnya mereka harus memberikan imunisasi campak dan rubella untuk anaknya. Sebelum kita berlanjut mengenai pentingnya imunisasi campak dan rubella, alangkah lebih baiknya kita mengenal terlebih dahulu apa itu campak dan rubella.

Apa itu Campak?

Penyakit campak adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus rubeola dan biasanya menyerang sistem pernapasan pada seseorang. Virus ini awalnya tidak akan menimbulkan apa-apa, namun setelah berdiam dalam sistem pernapasan, maka gejala-gejala awal mulai tampak pada tubuh seseorang. Jenis virus ini merupakan virus yang menular melalui berbagai cara seperti bersin, batuk ataupun berupa sentuhan. Virus ini tersebar melalui udara sehingga dapat bertahan hidup diluar selama 2 jam. Virus ini dapat menempel pada gagang pintu, pintu toilet atau benda apapun yang ada di sekitar kita. Virus ini biasanya menyerang anak-anak terutama anak yang mulai memasuki pra-sekolah dan SD, namun terdapat beberapa pula kasus virus yang menyerang orang dewasa.

Apa itu Rubella?

Virus rubella atau yang lebih dikenal dengan campak Jerman juga merupakan penyakit yang menular dan ditandai dengan ruam merah seperti gejala pada penyakit campak. Penyebab utama pada penularan virus rubella ini dapat melalui butiran liur dari penderita ketika mereka batuk atau bersin. Berbagi makanan dan minuman dengan penderita atau menyentuh bagian tubuh penderita bahkan memegang benda yang terkena virus rubella tentu akan menular dan sangat berdampak buruk pada tubuh seseorang. Baca juga: Apa Itu Imunisasi Pentabio dan Manfaatnya?

Gejala-Gejala Penyakit Campak dan Rubella

imunisasi campak dan rubella

Penyakit campak disebabkan oleh virus rubeola (bukan rubella/campak Jerman) yang menginfeksi sistem pernapasan manusia sehingga menimbulkan gejala-gejala lain seperti flu, batuk dan demam secara bersamaan. Bila seseorang terkena rubeola, maka akan tampak ruam merah atau coklat kemerahan yang hampir memenuhi seluruh tubuhnya. Gejala seperti batuk, deman dan sakit tenggorokan akan berlangsung selama 2-3 hari.

Sedangkan gejala virus rubella tidak berbeda jauh pula dari gejala penyakit campak/rubeola. Virus rubella biasanya muncul sekitar 2-3 minggu setelah tubuh terkena virus. Gejala yang sering timbul akibat dari tubuh terserang gejala rubella diantaranya demam tinggi, hidung tersumbat, hilangnya nafsu makan, telinga yang membengkak, hilangnya nafsu makan, kelenjar getah bening, sakit kepala hebat, sendi-sendi bengkak, ruam merah pada kulit tubuh dan nyeri pada wanita usia muda.

Pada umumnya ruam menyerang area wajah dan belakang telinga terlebih dahulu sebelum menyebar keseluruh tubuh lainnya. Biasanya virus ini akan menular selama empat hari sebelum gejala-gejala lain muncul dan akan hilang dengan sendirinya setelah ruam merah dan coklat hilang.

Akibat Penyakit Campak dan Rubella

imunisasi campak dan rubella

Dikenal sebagai virus yang sangat berbahaya, campak dan rubella tentunya akan menyerang tubuh manusia kapan saja. Setelah mengetahui gejala-gejala yang ditimbulkan oleh virus ini, maka akan sangat dimungkinkan virus ini menyebabkan penyakit lain bagi tubuh manusia.

Beberapa akibat yang disebabkan oleh penyakit campak dan rubella diantaranya:

1.Infeksi

Salah satu akibat yang disebabkan oleh penyakit campak dan rubella adalah infeksi pada tubuh manusia. Infeksi ini dapat berupa apa saja terutama infeksi pada telinga dan mata. Infeksi pada telinga disebabkan oleh penumpukan cairan yang terjadi terutama bagian belakang gendang telinga. Infeksi pada telinga dapat menyebabkan keluar cairan dari telinga. Infeksi pada telinga ditandai oleh gejala lain seperti sakit telinga hebat, badan lemas dan demam tinggi.

Sedangkan infeksi pada mata merupakan salah satu komplikasi dari virus rubeola dan rubella dimana kondisi mata menjadi sangat merah. Biasanya, kondisi ini diperparah dengan mata yang mengeluarkan cairan lengket pada bulu mata dan tentunya mata menjadi tidak nyaman ketika melihat.

2. Dehidrasi

Akibat dari penyakit campak dan rubella yang kerap terjadi yaitu tubuh seseorang mengalami dehidrasi yang disebabkan kadar air dalam tubuh menurun. Hal ini dikarenakan oleh penderita yang mengalami diare dan muntah dalam intensitas waktu yang sering. Penyakit ini yang menyebabkan keseimbangan tubuh menjadi terganggu karena kekurangan mineral seperti garam dan gula. Tentunya, ketika Anda mengalami dehidrasi, Anda akan merasa sangat kehausan dan mulut kering serta urin yang berwarna sangat gelap.

3. Pneumonia

Akibat dari penyakit campak yang rentan terjadi adalah pneumonia dimana menyebabkan peradangan terjadi pada bagian jaringan paru-paru. Jika virus rubeola dan rubella telah menyerang paru-paru, ini dapat dikatakan sebagai kondisi yang lebih parah sehingga menyebabkan infeksi paru-paru yang lebih parah.

Infeksi parah ini disebabkan oleh peradangan pada kantung udara pada paru-paru. Gejala-gejala yang timbul jika virus ini sudah menyerang peru-paru seseorang, diantaranya detak jantung berdetak sangat kencang, sesak nafas, demam tinggi, badan menggigil, batuk kering dan berdahak dalam waktu yang lama, tidak nafsu makan dan dada terasa sakit saat bernafas.

4. Kejang

Kejang pada umumnya terjadi karena disebabkan oleh virus rubeola pada campak. KOndisi ini terjadi karena penderita mengalami demam yang sangat tinggi. Hal ini tentu bukanlah hal sepele karena dapat menyebabkan tubuh menjadi sangat kaku dan kehilangan kesadaran. Biasanya anak-anak rentan terjadinya kejang yang ditandai dengan buang air kecil saat kejang. Tentu, Anda jangan mengabaikan kondisi ini, segeralah periksakan ke dokter jika keluarga Anda mengalami kondisi ini utnuk mendapatkan perawatan intensif.

5. Penyakit Hepatitis

Selain menyebabkan penyakit ringan, penyakit campak dan rubella juga menyebabkan penyakit dengan tingkat yang lebih parah seperti hepatitis. penyakit campak dan rubella yang tidak ditangani dengan serius akan berdampak pada munculnya penyakit hepatitis. Hal ini disebabkan virus sudah menyerang liver yang berakibat infeksi.

Gejala lain dari hepatitis sebagai akibat dari penyakit campak dan rubella diantaranya tubuh kelelahan, urin berwarna gelap, mata dan kulit menjadi kuning, nafsu makan yang kurang, rasa sakit pada sendi dan otot, dan sakit pada perut. Penyebaran virus pada tubuh yang terkena hepatitis membuat kondisi tubuh  seseorang menjadi lebih parah.

6. Gangguan Kehamilan yang Berat

Efek dari campak dan rubella tentu tidak kalah berbahaya pada sebuah kehamilan. Jika seorang ibu hamil terkena campak, maka harus dilakukan perawatan yang intensif untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti:

– Keguguran

Tidak diragukan lagi bahwa campak dan rubella menyebabkan seorang wanita hamil akan mengalami keguguran. Ini disebabkan oleh virus yang menyerang janin ketika didalam kandungan. Tentu, virus ini menyerang sistem perkembangan janin dan menyebabkan janin merasakan kesakitan bahkan menimbulkan kematian.

– Berat bayi lahir rendah

Campak dan rubella yang menyerang ibu hamil dapat menyebabkan resiko berat bayi lahir rendah. Virus yang menyerang janin merusak semua nutrisi yang harusnya disalurkan kepada janin sehingga perkembangan janin terganggu.

– Kelahiran prematur

Dimungkinkan jika seorang ibu terkena campak dan rubella akan melahirkan bayi prematur yang membuat kesehatan dan keselamatan bayi terganggu.

Itulah beberapa akibat dari penyakit campak dan rubella yang harus Anda perhatikan agar semua akibat itu tidak terjadi pada keluarga Anda.

Pentingnya Imunisasi Campak dan Rubella

imunisasi campak dan rubella

Setelah kita mengetahui apa itu campak dan rubella, gejala-gejala yang timbul dan akibat yang ditimbulkan dari campak dan rubella, apakah Anda masih berpikir bahwa imunisasi campak dan rubella itu tidak penting? Maka, tentu kita mulai berpikir bahwa sebenarnya imunisasi campak dan rubella itu sangat penting untuk dilakukan.

Hal ini sesuai dengan Pemerintah Indonesia yang mencanangkan imunisasi campak dan rubella agar anak-anak Indonesia terbebas dari penyakit dan virus yang sangat berbahaya dan tentu dapat mengancam keselamatan jiwa. Untuk itu seyogianya kita harus mendukung program Pemerintah yang tidak lain untuk keselamatan dan kesehatan anak kita sendiri.

Manfaat Imunisasi Campak dan Rubella

Berikut kami sajikan beberapa manfaat yang bisa Anda dapatkan setelah melakukan imunisasi campak dan rubella, diantaranya:

  1. Merangsang terbentuknya imunitas tubuh dari penyakit campak, rubella dan gondong
  2. Kekebalan tubuh anak Anda menjadi lebih kuat
  3. Mencegah dari penyakit berbahaya seperti hepatitis dan pneumonia
  4. Memberikan perlindungan kepada ketiga penyakit secara bersamaan
  5. Perlindungan terhadap ibu hamil dari dampak buruk campak dan rubella yang dapat menyebabkan kelainan bawaan pada bayi bahkan menyebabkan kematian
  6. Terhindar dari berbagai virus yang dapat menyerang tubuh manusia terutama pada anak-anak dalam masa pra-sekolah dan SD.
  7. Memberikan proteksi pada tubuh agar terhindar dari penyakit yang dapat menyerang kapan saja

Jika Anda ingin memberikan perlindungan tersebut kepada keluarga Anda, tentunya Anda harus melakukan imunisasi campak dan rubella ini. Hal ini dikarenakan tidak ada pengobatan dan pencegahan alternatif untuk terhindar dari penyakit yang berat selain pemberian imunisasi campak dan rubella. Untuk itu, mari kita berikan perlindungan terbaik bagi keluarga terutama anak Anda dengan memberikan imunisasi campak dan rubella yang saat ini tengah dilakukan.

Demikianlah beberapa poin yang dapat kami sajikan untuk mengupas permasalahan dan keraguan dari  orangtua terhadap imunisasi campak dan rubella. Tentu, kita sangat berharap mendapatkan hal yang terbaik bagi keluarga kita agar terhindar dari berbagai virus dan penyakit yang dapat mengancam keselamatan jiwa seseorang. Satu hal lagi, jangan lupa untuk mengantar keluarga Anda terutama anak Anda untuk mendapatkan imunisasi campak dan rubella yang khusus dan gratis dari Pemerintah. Semoga bermanfaat!

Mengetahui Gejala Hemolitik Pada Bayi – Penyakit hemolitik pada bayi dikenal juga dengan sebutan HDN. Penyakit ini terjadi ketika bayi dalam kandungan ibu memiliki golongan darah yang berbeda dengan ibunya. KOndisi penyakit ini akan mungkin beresiko untuk bayi baru lahir. Bahkan pada kondisi tertentu masalah ini akan dapat menyebabkan kematian bayi. Setelah membahas mengenai penyakit ini, lantas apakah gejala hemolitik pada bayi dan seperti apa penanganannya? Simak dibawah ini.

Meski sudah berusaha keras menjaga kehamilan agar sehat dan berkualitas. Namun masalah seringkali terjadi, seperti halnya penyakit hemolitik pada bayi baru lahir. Kondisi penyakit ini dapat terjadi ketika golongan darah ibu tidak cocok dengan janin yang dikandungnya.

Kondisi ini pada dasarnya dapat terjadi ketika sel darah janin mengandung antigen yang tidak dimiliki oleh sang ibu. Ketika sel darah merah janin melewati bagian plasenta dan masuk ke aliran darah sang ibu. Maka kondisi ini akan memicu tubuh ibu menghasilkan antibodi. Antibodi inilah yang akhirnya menemukan jalan menuju aliran darah janin dan menghancurkan sel darah merahnya.  Baca juga: Perbedaan Gumoh dengan Muntah Pada Bayi

Mengetahui Gejala Hemolitik Pada Bayi

Lalu sebenarnya apa saja gejala yang dapat menandai kondisi penyakit ini? Maka mari kita simak beberapa halnya dibawah ini.

Mengetahui Gejala Hemolitik Pada Bayi

Penyakit hemolitik pada bayi pada dasarnya akan dapat ditemukan setelah gejala utama pada saat kehamilan dan kelahiran ditemukan. Gejala yang dialami akan berbeda pada setiap bayi. Namun dibawah ini adalah beberapa gejala paling umum yang dapat dijumpai.

Gejala Selama Kehamilan

Bukan hanya pasca kelahiran, selama masa kehamilan adapula beberapa kondisi yang akan dapat menjadi tanda dari kondisi HDN atau penyakit hemolitik pada bayi. Beberapa hal tersebut diantaranya adalah:

  • Ketika ibu hamil melakukan pemeriksaan melalui proses amniosentesis, cairan amnion atau cairan ketuban. Maka akan ditemukan kondisi cairan ketuban yang berwarna kuning. Selain itu, cairan dalam ketuban pun umumnya mengandung bilirubin yakni cairan yang dibuat oleh hati.
  • Ketika melakukan pemeriksaan USG, bagian hati dan limpa atau bahkan jantung janin akan nampak lebih membesar dan membengkak.
  • Pemeriksaan USG pun akan dapat menunjukan cairan yang terkumpul pada bagian perut, paru-paru dan juga kulit kepala bayi.

Beberapa kondisi diatas akan mungkin mengindikasi adanya kemungkinan penyakit hemolitik pada bayi. Ketika ibu mengalami kondisi ini pada saat melakukan pemeriksaan dengan dokter. Pada umumnya dokter akan langsung melakukan penanganan untuk mengatasi kondisi yang satu ini. Dengan demikian, rajinlah melakukan check up kesehatan.

Gejala Setelah Kelahiran

Selain kehamilan, pada saat kelahiran bayi ke dunia beberapa gejala akan mungkin dialami. Beberapa kondisi ini diantaranya adalah:

  • Bayi yang terlihat pucat seperti orang yang mengalami anemia
  • Penyakit kuning pada bayi akan muncul. Kondisi ini dipengaruhi akibat cairan amnion atau ketuban yang berwarna kuning.
  • Adanya pembesaran limpa dan hati pada bayi baru lahir.
  • Adanya pembengkakan dibawah kulit (edema) yang terjadi dengan kondisi yang lebih parah.

Ketika mendapati kondisi seperti diatas maka penting sekali untuk segera mengkonsultasikan masalah ini dengan dokter. Untuk anda yang melahirkan di dokter atau rumah sakit maka biasanya usai kelahiran, dokter akan melakukan pengecekan kesehatan pada bayi. Dengan begini maka biasanya kondisi keluhan semacam ini akan dapat ditemukan dengan lebih dini. Sehingga demikian, penanganan yang diberikan pun akan jauh lebih cepat dan efektif.

Perbedaan Gumoh dengan Muntah Pada Bayi – Seringkali tidak sedikit ibu yang menghadapi kekeliruan pada gumoh dan muntah bayi. Kekeliruan ini penting sekali untuk diluruskan dengan baik. Karena bisa jadi muntah pada bayi menjadi pertanda adanya gangguan pencernaan atau kesehatan pada tubuhnya.

Bayi anda setelah selesai menyusu, lantas beberapa saat kemudian mengeluarkan kembali ASI tersebt dari bagian mulutnya. Kondisi ini seringkali membuat ibu kebingungan apakah hal ini adalah gumoh atau muntah pada bayi?

Mengetahui perbedaan gumoh dan muntah pada bayi menjadi hal penting yang perlu diperhatikan dengan baik. Hal ini dikarenakan muntah pada bayi bisa mengindikasikan adanya gangguan kesehatan pada tubuhnya. Untuk itu, mari simak apa perbedaan gumoh dengan muntah pada bayi dibawah ini. Baca juga: Apa Itu Penyakit Hemolitik Pada Bayi Baru Lahir?

Perbedaan Gumoh dengan Muntah Pada Bayi

Perbedaan Gumoh dengan Muntah Pada Bayi

Berbeda halnya dengan muntah yang dirasakan, gumoh pada bayi tidak terlihat seperti muntah. Umumnya pada muntah bayi akan terlihat kepayahan menahan rasa sakit pada perutnya. Hal ini tentu tidak terjadi pada gumoh. Gumoh pada bayi hanya berupa keluarnya air susu dari mulutnya tanpa membuat bayi terlihat sakit atau mengeluh.

Selain itu, perbedaan ini akan nampak terlihat pada bayi yang muntah. Pada kondisi muntah bayi akan terlihat rewel dan menangis. Ia pun akan cenderung terlihat seperti orang yang kesakitan. Bahkan si kecil pun akan mengalami penurunan berat badan yang drastis.

Pada saat muntah usia disusui, si kecil akan mungkin terlihat berusaha dengan kuat untuk mengeluarkan susu dari mulutnya pada saat ia muntah. Namun berbeda pada gumoh yang akan nampak lebih tenang seolah ia menumpahkan susu secara tidak sengaja. Lantas apa itu gumoh? Mari simak dibawah ini.

Apa Itu Gumoh?

Gumoh pada bayi adalah sebuah kondisi yang normal dan hampir setiap bayi mengalami haln yang serupa. Biasanya pada usia tiga bulan pertamanya, si kecil akan mengalami kondisi gumoh yang sering. Baru pada saat 1 tahun, gumoh akan berhenti dengan sendirinya.

Kondisi gumoh pada bayi dapat terjadi sebab terdapat katup esofagus dan lambung yang berfungsi agar makanan yang masuk kedalam bagian lambung tidak naik ke atas. Nah, pada saat katup tersebut terbuka maka makanan yang sudah masuk kedalam lambung dan ketika katup tertutup maka makanan tidak akan naik kembali keatas. Fungsi katup inilah yang belum terbentuk dengan sempurna pada bayi. Sehingga membuat makanan dapat kembali ke atas.

Bukan hanya itu, bayi yang memiliki ukuran lambung yang kecil pun akan mengalami kondisi ini. Hal inilah yang menyebabkan makanan yang sudah masuk kedalam lambung naik kembali keatas. Kondisi inilah yang kita kenal dengan sebutan gumoh pada bayi.

Lalu Bagaimana Mencegah Gumoh Pada Bayi

Ada beberapa hal yang dapat anda lakukan untuk mencegah agar gumoh pada bayi tidak terjadi. Beberapa hal ini dapat kita simak dipoin-poin dibawah ini.

  • Pastikan si kecil dalam posisi tegak setelah selesai meng-ASI
  • Jangan berikan ASI terlalu banyak
  • Biarkan si kecil untuk bersendawa usai meng-ASI
  • Hindari tekanan pada bagian perut bayi pada saat ia meng-ASI
  • Biarkan bayi anda tidur telentang

Demikianlah beberapa informasi menarik yang dapat kami sampaikan kali ini. Semoga informasi mengenai perbedaan gumoh dan muntah pada bayi diatas akan dapat memberikan anda manfaat dan wawasa yang lebih banyak dan lebih luas seputar merawat bayi.