Bayi baru lahir memang belum memiliki sistem imunitas tubuh yang kuat. Tidak heran jika bayi baru lahir akan sangat rentan terkena penyakit yang bahkan mengancam jiwa. Tidak heran jika banyak para orang tua yang dibuat khawatir dan juga gelisah ketika memiliki bayi baru lahir. Pasalnya, terdapat banyak sekali bayi yang harus merasakan sakit akibat terserang suatu penyakit.

Terlepas dari kekhawatiran pada ibu, tentunya hal tersebut memang terbilang wajar karena bayi baru lahir memang memiliki kekebalan tubuh yang belum sempurna. Saat ini banyak sekali jenis penyakit yang rentan menyerang bayi baru lahir sehingga menjadi sebuah teror yang benar-benar harus Anda waspadai. Mulai dari penyakit luar yang menyerang kulit si kecil hingga penyakit yang menyerang bagian dalam tubuh si kecil.

Tentunya kita semua tahu bahwa kuit bayi memang masih sangat sensitif sehingga memiliki kemungkinan besar baginya untuk terserang berbagai jenis penyakit kulit. Namun, keadaan seperti ini janganlah membuat Anda menjadi khawatir. Alangkah baiknya jika Anda mencari cara untuk mencegah dan juga mengatasi adanya kemungkinan besar penyakit tersebut menyerang manusia. Untuk itu, penting bagi Anda untuk mengetahui beberapa jenis penyakit yang rentan menyerang bayi seperti yang akan kami sajikan pada poin di bawah ini!

Baca juga: 20+ Cara Memperbanyak ASI Secara Alami Yang Terbukti Paling Ampuh

Penyakit Yang Rentan Menyerang Bayi

penyakit yang rentan menyerang bayi

Penyakit yang menyerang bayi memang tidak bisa dideteksi dengan sangat mudah. Kondisi ini tentunya dapat terbilang bahwa penyakit bayi memang menjadi salah satu penyakit yang sangat sulit untuk diketahui. Pasalnya, bayi tidaklah seperti orang dewasa yang bisa merasakan adanya ketidaknyamanan yang terjadi pada tubuh. Namun, hal ini berbeda dengan bayi dimana bayi tidak akan mengatakan apa yang ia rasakan kepada orang tuanya. Dengan menangis dan juga rewel yang dapat menjadi tanda bahwa ia memiliki masalah pada kesehatannya.

Maka dari itu, kita sebagai orang tua memang harus lebih peka terhadap apa yang dirasakan oleh si kecil. Bayi yang sering rewel dan juga menangis dapat menjadi tanda bahwa ia mengalami sesuatu yang bermasalah pada tubuhnya. Berikut ini kami sajikan beberapa jenis penyakit yang rentan menyerang bayi yang harus Anda waspadai!

Lihat juga: Cara Mengobati Air Ketuban Yang Terminum Oleh Bayi Berikut Bahayanya

Penyakit kuning

Jenis penyakit pertama yang sangat umum terjadi dan banyak menyerang bayi ialah penyakit kuning. Penyakit kuning ini akan menyerang bayi yang ditandai dengan warna kulit bayi yang menguning disertai dengan mata. Penyakit ini terjadi karena ada gangguan pada fungsi hati bayi. Kondisi ini disebabkan oleh zat bilubirin atau pigmen kuning yang ada di dalam sel darah merah bayi meningkat sehingga membuat seluruh kulit bayi menguning.

Pada umumnya, penyakit kuning ini akan hilang dalam kurun waktu selama 2 minggu. Namun, ada juga kasus penyakit kuning yang terjadi pada bayi bahkan berlangsung dalam waktu yang sangat lama. Penyakit kuning yang terjadi pada bayi biasanya disebabkan oleh kurangnya asupan ASI pada tubuh bayi. Jika kondisi ini sudah terjadi, maka tidak heran jika bayi enggan meminum ASI. Pertolongan pertama yang bisa Anda lakukan untuk mengatasi penyakit kuning pada bayi ialah dengan memberikan asupan ASI sebanyak-banyaknya dan juga sesering mungkin. Anda juga bisa menjemur bayi setiap pagi sekitar jam 8 selama kurang lebih 15 menit agar fungsi hati dapat bekerja dengan baik.

Eksim susu

Mungkin banyak bayi yang mengalami kondisi seperti ini dimana sering dikaitkan dengan percikan ASI yang menimpa pada pipi bayi. Hal ini menyebabkan  bayi mengalami penyakit eksim yang pada umumnya terdapat pada pipi bayi. Namun, anggapan tersebut hanyalah mitos dimana penyakit eksim susu dapat disebabkan oleh tiga faktor. Kondisi kulit bayi yang kering, cuaca yang cukup panas kotor dan berdebu serta adanya faktor keturunan dari orang tuanya  yang kemungkinan besar akan menimpa bayinya.

Ketiga faktor tersebut tentunya menjadi penyebab dimana bayi mengalami yang namanya eksis susu. Jenis penyakit ini tentunya bisa menimpa setiap bayi yang membuat kulit bayi menjadi sangat kasar dan juga kemerahan pada pipi. Tidak heran jika kondisi ini membuat bayi merasa gatal dan membuat bayi merasa tidak nyaman.

Ruam popok

Penyakit selanjutnya yang menyerang bayi ialah terjadinya ruam popok pada bayi. Ruam popok ini ialah suatu kondisi dimana adanya bercak merah dan bentol yang terjadi pada sekitar bokong bayi. Kondisi ini pada umumnya disebabkan oleh terlalu lamanya popok dipakai bayi. Kulit bayi yang sensitif tentu menyebabkan kulit bayi mengalami gesekan sehingga terjadinya iritasi pada bokong bayi.

Terdapat beberap hal dimana kondisi ini terjadi pada bayi diantaranya bayi alergi pada bahan popok, kulit bayi sering terkena air seni dan tinja dalam waktu yang cukup lama dan popok kain memakai jenis pencuci atau pemutih dengan  kandungan zat yang tinggi serta tidak dibilas dengan sempurna sehingg masih meninggalkan deterjen ataupun sabun. Hal ini menyebabkan bayi merasa tidak nyaman karena rasa gatal yang hebat. Alangkah baiknya jika Anda rutin dalam mengecek apakah air seni bayi sudah penuh dan apakah bayi buang air besar ataukah tidak.

Penyakit Apnea

Jenis penyakit ini memang menjadi penyakit yang benar-benar harus Anda waspadai. Jenis penyakit ini termasuk pada jenis penyakit yang sangat rentan menyerang bayi terutama bayi baru lahir. Apnea ini diketahui sebagai suatu jenis penyakit yang membuat bayi tiba-tibatidak bernapas dalam hitungan detik. Jenis penyakit ini tentunya akan membuat para orang tua khawatir.

Kondisi bayi yang  terkena penyakit apnea ini akan mengalami kulit pada area mulut berubah menjadi kebiruan karena menderita oksigen. Penyakit apnea ini juga disebabkan oleh beberapa hal yakni terjadinya pertumbuhan syaraf yang belum sempurna dalam mengatur sistem pernapasan bayi dan saluran pernapasan bayi yang terhambat. Tidak heran jika bayi akan mengalami pernapasan yang terhenti selama beberapa detik.

Batuk pilek

Jenis penyakit yang satu ini tentu tidak heran jika menyerang bayi. Hal ini dikarenakan hampir setiap bayi akan sangat rentan terkena penyakit batuk pilek. Penyakit jenis ini tentunya akan disertai dengan demam. Pada umumnya, batuk pilek ini akan menyerang bayi dalam waktu 2-3 hari bahkan lebih. Meskipun hanya sebentar, namun kondisi ini harus Anda waspadai karena akan membuat bayi menjadi rewel dan tidak nyaman.

Jika bayi Anda mengalami batuk pilek bahkan lebih dari seminggu disertai dengan muntah dan tidak ingin menyusu. Inilah saatnya Anda untuk membawanya ke dokter agar dapat ditangani dengan sangat baik oleh dokter. Penyakit batuk pilek yang menyerang bayoi dapat menjadi gejala bahwa gangguan pencernaan pada bayi terganggu.

Perut kembung

Banyak sekali bayi yang mengalami penyakit seperti ini dimana perut bayi mengalami kembung. Seperti yang kita tahu bahwa bayi memiliki perut yang menonjol. Namun, jika perut bayi bengkak dan keras, ini menjadi tanda bahwa bayi Anda mengalami kembung. Kondisi ini tentunya tidak bisa lepas dari adanya gas yang berlebihan pada perut bayi. Kondisi ini biasanya disebut dengan konstipasi. Namun tentunya bengkak yang terjadi pada perut si kecil bisa menjadi indikasi dimana adanya gejala penyakit serius pada tubuh bayi.

Kulit bayi kebiruan

Jenis penyakit yang satu ini tentunya sangat rentan terjadi pada bayi. Kulit kebiruan ini dapat terjadi pada area tangan, kaki, lidah dan juga mulut bayi. Warna kulit kebiruan yang terjadi pada bayi akan hilang dengan sendirinya. Akan tetapi, jika warna kulit pada bayi tidak kunjung normal, maka segeralah konsultasi pada dokter anak untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut sehingga Anda bisa mengetahui  gejala penyakit yang terjadi pada tubuh bayi.

Gangguan pernapasan

Jenis penyakit yang satu ini tentunya sangat rentan dan juga berisiko terjadi pada bayi baru lahir. Gangguan pernapasan pada bayi baru lahir biasanya terjadi pada bayi yang lahir prematur. Pada umumnya, butuh wakti sekitar beberapa jam pada bayi untuk bisa bernapas dengan sempurna. Namun, ada juga bayi yang mengalami kesulitan ketika bernapas.

Kondisi tertentu mungkin dapat diatasi dengan memberinya tetasan saline atau larutan garam. Akan tetapi, ada beberapa kondisi dimana Anda harus membawa si keci ke dokter diantaranya kulit kebiruan yang tidak kunjung pudar, munculnya bunyi dengkuran ketika sedang bernapas, frekuensi napas yang cepat dan hidung yang tampak mengembang dan juga mengempis.

Muntah

Muntah dapat digolongkan menjadi salah satu penyakit yang rentan menyerang bayi. Pada bayi yang normal mungkin akan mengalami yang namanya muntah setelah minum susu serta kondisi perut yang penuh. Namun berbeda ketika terjadi pada bayi baru lahir dan mengalami muntah. Biasanya kondisi muntah pada bayi terjadi karena bayi mengalamialergi susu atau intoleransi glukosa. Jika hal ini terjadi, maka Anda harus merangsang bayi agar bersendawa untuk mengurangi gejala penuh pada perut bayi.

Berat badan bayi di bawah ideal dengan kondisi bayi yang sering muntah tentunya menjadi gejala dimana Anda harus memeriksakan si kecil ke dokter. Anda juga perlu mengamati pada muntah bayi. Jika warna muntah bayi hijau, kemungkinan besar terjadi infeksi pada sistem pencernaan bayi. Selain itu, gangguan pencernaan pada bayi juga bisa membuat bayi mengalami muntah yang cukup berlebihan.

Demam

Jenis penyakit selanjutnya yang rentan menyerang bayi baru lahir ialah demam. Demam yang terjadi pada bayi baru lahir memang menjadi tanda bahwa sistem imunitas tubuh bayi sedang menyerang dan melawan infeksi yang kemungkinan besar akan masuk ke dalam tubuhnya. Demam dalam batas normal memang tidak perlu penanganan yang khusus. Namun jika bayi mengalami demam di atas 38,8 derajat celcius, maka dikhawatirkan dapt memicu terjadinya kejang pada tubuh bayi.

Infeksi telinga

Mungkin kita sering melihat bayi menyentuh telinga dan tampak rewel. Kondisi ini tentunya menyebabkan bayi merasa tidak nyaman. Jenis penyakit ini tentunya bisa menjadi indikasi bayi mengalami infeksi telinga.

Diare

Salah satu penyakit yang biasa menyerang bayi ialah diare. Penyakit ini tentunya menjadi penyakit yang sering dialami oleh bayi. Kondisi ini tentunya membuat bayi akan dehidrasi sehingga Anda perlu memeriksakan diri ke dokter anak untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Kolik

Jenis penyakit selanjutnya yang sering menyerang bayi ialah kolik. Kolik terjadi pada bayi yang disebabkan oleh terjadinya alergi terhadap susu formula. Pada umumnya, kebanyakan kasus kolik juga bisa sembuh dengan sendirinya hingga mencapai usia 3 bulan.

Penyakit kulit

Jenis penyakit pada bayi baru lahir yang sering terjadi ialah penyakit kulit. Pada kulit bayi baru lahir tentunya sangat sensitif sehingga sangat berisiko terkena beberapa kondisi diantaranya:

– Dermatitis seborhoik

Jika terjadi penyakit kulit pada bayi baru lahir tentunya Anda bisa menggunakan sampo dan cucilah rambut bayi setiap hari.

– Ruam pokok

Penyakit kulit yang terjadi pada bayi yang disebabkan oleh ruam pokok. Anda tentunya dapat mencegah popok secara rutin. Anda tentunya dapat menggunakan krim serta cucilah popok dengan menggunakan deterjen dengan menggunakan pewarna dan juga pewangi.

Cedera saat lahir

Pada bayi baru lahir tentunya sering mengalami cedera yang disebabkan oleh bengkoknya tulang selangka, otot lemah dan juga lain sebagainya. Sedangkan pada kebanyakan kasus, bayi bisa pulih dengan sangat cepat sehingga jangan terlalu mencemaskan keadaan bayi.

Sariawan

Penyakit yang sering terjadi pada bayi baru lahir ialah sariawan. Sariawan tentunya dapat menyerang bayi baru lahir yang tentu dapat disebabkan oleh jamur. Anda tentunya bisa berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pengobatan antijamur yang dapat membuat kondisi menjadi lebih baik.

Cara Meningkatkan Sistem Kekebalan Tubuh Bayi

Tubuh bayi memang akan rentan terkena berbagai jenis penyakit. Untuk itu, diperlukan cara yang tepat untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh bayi. Berikut ini beberapa cara yang bisa Anda gunakan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh bayi, diantaranya:

Penuhi nutrisi bayi

Cara pertama yang bisa Anda lakukan ialah dengan memberikan nutrisi pada bayi. Hal ini memang sangat penting untuk Anda karena nutrisi tersebut akan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Alangkah baiknya jika Anda memberikan buah dan juga sayur yang mengandung jeruk dan juga wortel.

Berikan waktu tidur bayi secukupnya

Sistem kekebalan tubuh bayi dapat meningkat jika memiliki pola tidur yang cukup. Selama bayi tidur tentunya bayi akan membangun sel-sel baru yang ada pada tubuh bayi. Bayi yang memiliki pola tidur sekitar 16-18 jam perharinya dapat memiliki waktu tidur yang cukup sehingga dapat meningkatkan sistem imunitas tubuh bayi.

Berikan ASI eksklusif

Asupan paling penting yang bisa Anda berikan pada bayi ialah dengan memberinya asupan ASI eksklusif. Hal ini dikarenakan ASI dapat membunuh bakteri yang dibutuhkan oleh tubuh bayi. Selain itu, ASI juga dapat melindungi tubuh bayi dari berbagai infeksi yang dapat menyerang tubuh bayi.

Terapkan pola hidup bersih

Cara selanjutnya yang bisa Anda lakukan ialah dengan menerapkan pola hidup bersih. Pada bayi baru lahir tentunya Anda dapat menyerang bakteri dan juga virus. Anda tentunya dapat membiasakan cuci tangan sebelum memberikan makanan pada bayi. Cara ini tentunya untuk menghindari kemungkinan adanya infeksi dan juga bakteri.

Tetap menjaga pola hidup bersih dan juga sehat memang menjadi salah satu kewajiban bagi Anda. Bagaimanapun juga, Anda tentunya harus memberikan asupan gizi dan juga nutrisi agar tubuh bayi tetap kuat dan dapat terhindari dari berbagai jenis penyakit yang dapat menyerang bayi. Itulah beberapa jenis penyakit yang rentan menyerang bayi terutama bayi baru lahir. Selamat mencoba!

Cara Mengobati Air Ketuban Yang Terminum Oleh Bayi – Kejadian mengenai bayi yang menelan air ketuban tentu bsia saja terjadi dan bahkan memang banyak terjadi. Hal ini tentunya membuat Anda sebagai orang tua akan khawatir akibat apa yang ditimbulkan dari air ketuban yang terminum oleh bayi. Di bawah ini kami sajikan beberapa cara mengobati air ketuban yang terminum oleh bayi!

Seperti yang kita tahu bahwa air ketuban memnag menjadi salah satu bagian dari kehamilan yang paling penting bagi bayi. Ketika bayi masih di dalam rahim tentunya membutuhkan satu cairan amnion yang berfungsi untuk melindungi bayi dari goncangand dan juga bahaya lainnya. Air ketuban memang sangat diperlukan untuk menjaga bayi di dalam kandungan. Untuk itu, cairan ini memang sangat penting sehingga kita sebisa mungkin harus menjaga cairan ini tetap stabil.

Dapat dipastikan jika jumlah cairan di dalam janin tersebut berkurang, maka bisa membahayakan bayi di dalam kandungan. Kondisi yang berbahaya bagi bayi juga terjadi ketika bayi kelebihan cairan ketuban. Meskipun memang pada dasarnya bayi akan meminum air ketuban dan juga membuang urin. Namun, jika kehamilan sudah memasuki usia 40 minggu, tentunya ada risiko bayi keracunan air ketuban. Dampak yang ditimbulkan dari bayi yang meminum air ketuban terlalu banyak tentunya akan memiliki sindrom aspirasi mekonium dan ini memang berdampak buruk bagi perkembangan janin di dalam kandungan.  Untuk itu, berikut kami sajikan beberapa fakta, cara mengobati air ketuban yang terminum oleh bayi setelah dilahirkan serta bahaya yang akan timbul. Yuk kita simak berikut ini! Baca juga: 8 Cara Agar Anak Tidak Makan Junk Food Serta Pengaruh Buruknya Terhadap Perkembangan Anak

Fakta Mengenai Air Ketuban

cara ,engobati air ketuban yang terminum oleh bayi cara ,engobati air ketuban yang terminum oleh bayi

Tentunya sebelum kita mengetahui bagaimana cara untuk mengobati air ketuban yang terminum oleh bayi. ALangkah baiknya jika kita mengetahui terlebih dahulu mengenai air ketuban. Seperti yang kita tahu bahwa air ketuban ialah salah satu cairan yang dikenal dengan istilah amnion yakni cairan yang berada pada selaput dari janin. Dalam hal ini air ketuban tentunya berperan penting dalam pertumbuhan janin di dalam kandungan.

Berikut ini beberapa fakta yang harus Anda ketahui mengenai fakta-fakta dari air ketuban, diantaranya:

– Air ketuban dapat mencegah terjadinya kekeringan yang terjadi pada tali pusat sehingga menyebabkan terhambatnya aliran oksigen pada janin

– Air ketuban dapat membuat janin bsia bergerak dengan sangat bebas

– Air ketuban juga bisa membuat cadangan dan juga sumber nutrisi sementara

– Air ketuban dapat membantu sistem pencernaan pada janin

– Air ketuban tentunya bisa berfungsi sebagai incubator pada janin

– Air ketuban dapat mengembangkan sistem pernafasan pada bayi sehingga janin bisa berkembang dengan sangat baik

– Air ketuban sebagai perlindungan janin dari bahaya yang mungkin terjadi dari luar seperti goncangan sehingga mengurangi risiko keguguran

Lihat juga: Perhatikan Pola Makan Bayi Usia 6 Bulan Agar Tumbuh Dengan Baik

Cara Mengobati Air Ketuban Yang Terminum Bayi

Bagaimanapun juga proses persalinan ialah salah satu proses yang banyak ditunggu-tunggu oleh setiap wanita. Pasalnya, ketika proses kelahiran tersebuh sudah terlewati, maka Anda akan merasa bahagia dengan hadirnya si mungil di hidup kita. Setiap orang tentunya menginginkan suatu proses persalinan yang lancar. Namun tentunya tidak semua orang bisa menghadapi proses persalinan ini dengan lancar. Untuk itu, Anda harus benar-benar menjaga proses persalinan agar tetap lancar.

Beberapa kondisi yang sering terjadi ketika proses persalinan ialah bayi yang keracunan atau meminum air ketuban. Tentunya, ini menjadi salah satu kondisi dimana Anda harus benar-benar mengkhawatirkan akan kondisi tersebut. Bagaimanapun juga, jika air ketuban terminum, maka akan berdampak buruk bagi kesehatan tubuh bati. Jika bayi sudah terlanjur meminum atau keracunan air ketuban, tentunya ada beberapa cara dan juga tips untuk mengobati bayi yang keracunan air ketuban seperti yang akan kami jelaskan di bawah ini:

Pemeriksaan Setelah Lahir

Cara pertama yang dianggap sebagai cara yang paling tepat ialah pemeriksaan bayi setelah dilahirkan. Setelah ibu melewati fase pembukaan ketika melahirkan dan bisa berhasil pada tahap pembukaan ke 10. Tentunya, ini menjadi salah satu alasan mengapa Anda harus melakukan pemeriksaan dengan teliti kepada bayi. Terlebih jika seorang ibu yang mengandung lebih dari 40 minggu, maka akan memiliki dampak yang buruk dimana ketuban sudah sangat sedikit dan akan berubah menjadi racun.

Bagaimanapun juga air ketuban yang masuk ke dalam perut bayi bisa masuk ke paru-paru sehingga menyebabkan bayi sesak nafas akibat kekurangan oksigen. Ketika bayi dilahirkan, maka dokter akan melakukan serangkaian tes apakah air ketuban tersebut masuk ke dalam perut bayi ataukah tidak. Jika memang positif, tentunya dokter akan melakukan penyedotan yang dilakukan oleh alat khusus melalui hidung dan juga mulut bayi. Kemudian dokter akan melakukan pemeriksaan untuk mengetahui detak jantung bayi, otot bayi dan juga refleks bayi. Cara pertama ini memang sangat diperlukan untuk mendeteksi lebih dini mengenai apakah air ketuban tersebut terminum oleh bayi ataukah tidak.

Memberi Oksigen

Setelah bayi dilahirkan tentunya dokter akan melakukan pemberian oksigen pada bayi. Jika penyedotan sudah dilakukan pada bayi tentunya dokter akan memberikan masker khusus yang dilakukan pada bagian hidung dan juga mulut agar bayi mendapatkan oksigen yang cukup. Jika kondisi bayi bertambah buruk, maka dokter akan memasang sebuah alat pemberi tekanan oksigen dengan menggunakan CPAP yang juga sering dilakukan untuk menangani bayi asfiksia setelah bayi dilahirkan.

Penghisapan atau Suction

Meksipun memang kondisi bayi berbeda pasca meminum air ketuban. Namun, ada juga beberapa bayi yang tidak memerlukan penangan yang khusus. Tentu saja kondisi ini menyebabkan kekhawatiran pada Anda sebagai orang tua. Untuk itu, jika ketuban yang diminum oleh bayi sudah bercampur dengan mekonium, maka bisa menyebabkan bayi tidak menangis setelah dilahirkan. Untuk itu, dokter akan melakukan penghisapan kotoran dan juga cairan sampai ke bagian trakea. Langkah ini tentunya untuk mencegah paru-paru bayi yang tiba-tiba berhenti berfungsi.

Intubasi dan Ventilator

Langkah selanjutnya yang biasa digunakan untuk menyedot air ketuban pada paru-paru bayi tentunya akan dilakukan tindakan intubasi dan juga ventilator. Langkah ini tentunya bisa membantu bayi mendapatkan oksigen yang cukup baik. Langkah ini tentunya dilakukan dengan cara menempatkan sebuah tabung dari mulut bayi ke bagian saluran udara. Tabung ini tentunya bisa menghubungkan ventilator yang akan mendorong oksigen masuk ke dalam paru-paru bayi. Akibatnya, oksigen yang masuk ke dalam paru-paru bayi serta pernapasan bayi akan bekerja dengan normal kembali.

Melakukan Tindakan ECMO

Langkah yang selanjutnya tentunya dikenal dengan istilah EMCO yakni Extracorporeal Membrane Oxygenation. Ketika bayi meminum air ketuban dalam jumlah yang sangat banyak tentunya akan menyebabkan kondisi bayi bertambah parah. Ketika sudah dilakukan sebuah tindakan yakni ventilator dan juga intubasi, namun belum cukup. Tentunya, dokter akan melakukan langkah selanjutnya yakni EMCO.

Dalam tindakan ini tentunya dilakukan ketika sindrom aspirasi mekonium sangat parah. Maka, dokter akan melakukan tindakan EMCO dimana bayi akan dipasangi mesin by pass paru-paru. Mesin ini tentunya akan bekerja seperti paru-paru bayi dimana jantung dan juga paru-paru bisa beristirahat dan juga membantu agar oksigen bisa masuk langsung pada tubuh bayi agar bayi sehat kembali. Alat ini tentunya memang sangat membantu, namun juga memiliki efek yang lebih buruk dari ventilator.

Perawatan Paru-Paru Bayi

Pada umumnya bayi memang sangat rentan meminum air ketuban karena memang bayi bergerak di dalam kantong rahim. Pada bayi yang meminum air ketuban tentunya akan mengalami beberapa dampak buruk sehingga kesehatan paru-parunya menjadi terganggu. Kondisi ini juga bisa berlangsung selama kurang lebih 6 bulan sehingga tidak memerlukan perawatan yang lebih lama lagi. Hal yang paling penting untuk Anda lakukan ialah selalu merawat paru-paru bayi dengan tepat. Lakukan perintah dokter dan jauhkan dari beberapa sumber yang tentunya bisa membuat kondisi paru-paru bayi bertambah parah. Tindakan ini juga tentunya untuk mencegah infeksi pada paru-paru bayi.

Terapi Dengan Sinar Matahari

Bagaimanapun juga sinar matahari memang memiliki dampak yang cukup baik bagi perkembangan dan juga pertumbuhan bayi. Jika bayi mengalami gangguan seperti meminum air ketuban, tentunya Anda bisa melakukan perawatan dengan terapi sinar matahari. Hal ini dikarenakan paru-paru bayi memang masih sangat lemah. Kondisi ini tentunya membuat sistem kekebalan tubuh bayi menurun sehingga bayi mudah sakit. Dengan teknik penjemuran pada bayi yang dilakukan setiap pagi selama kurang lebih 15 menit. Maka Anda sudah bisa mengurangi kondisi paru-paru bayi yang buruk dengan teknik yang cukup sederhana.

Terapi Dengan Pijat

Beberapa ahli tentunya menyarankan untuk memberikan pijatan yang cukup lembut pada tubuh bayi. Pijatan ini tentunya untuk merangsang dan juga memberikan stimulasi pada sistem tubuh bayi. Terkadang beberapa cairan ketuban bisa dimuntahkan kembali oleh bayi setelah dimuntahkan. Dapat dipastikan bahwa salhas atu manfaat dari pijat bayi ialah membuat otot dan juga sistem tubuh bayi kembali membaik.

Berikan ASI Secara Rutin

Bayi memang sangat memerlukan asaupan cairan yang satu ini yaitu ASI. Dengan memberikan ASI secara rutin dan juga sesering mungkin, maka bayi akan mudah mengeluarkan air ketuban yang sudah terminum. Hal ini dikarenakan air ketuban yang terminum oleh bayi tidak hanya masuk pada paru-paru, namun juga masuk ke dalam perut bayi dan masuk ke saluran pencernaan. Untuk itu, bayi akan sangat mudah mengeluarkan air ketuban yang bercampur dengan kotoran bayi.

Jauhkah Bayi Dari Alergi

Cara selanjutnya yang bisa Anda lakukan ialah menjauhkan bayi dari alergi. Bayi yang meminum air ketuban tentunya bisa mengalami sesak nafas ataupun mengeluarkan suara yang keras. Hal ini tentunya disebabkan oleh air ketuban yang masuk ke dalam paru-paru bayi. Namun tidak selamanya seperti itu karena kesulitan bernafas dan juga suara keras disebabkan oleh cairan ketuban saja. Hal ini tentunya bisa juga disebabkan oleh alergi. Untuk itu satu hal yang pasti Anda harus menjauhkan sumber alergi tersebut dari bayi agar bayi memiliki kualitas udara yang berkualitas.

Jangan Memberikan ASI Formula

Tentunya banyak sekali orang tua yang memberikan ASI formula karena dianggap sebagai susu tambahan bagi bayi. Namun ternyata tindakan ini tidak dibetulkan dimana Anda dilarang untuk memberikan susu formula terutama pada bayi yang meminum air ketuban. Dalam hal ini ASI memang lebih baik dibandingkan dengan susu formula karena mengandung zat antibodiyang bisa membuat tubuh agar tidak mudah sakit. Meskipun dalam hal ini bayi sudah melewati waktu yang cukup berat ketika meminum air ketuban dalam jumlah yang cukup banyak.

Beberapa pengobatan mungkin saja banyak dilakukan oleh sebagian besar orang tua yang tentu tidak masuk pada daftar caramengobati bayi yang meminum air ketuban tersebut. Namun, pastikan Anda melakukan cara tersebut untuk mengurangi agar air ketuban tidak memberikan efek yang terlalu buruk bagi tubuh bayi.

Bahaya Air Ketuban Jika Terminum Oleh Bayi

Pada umumnya ketika bayi masih di dalam kandungan tentunya hal yang bisa saja terjadi jika bayi menelan air ketuban. Akan tetapi, jika air ketuban tersebut tertelan oleh bayi, maka akan berdampak buruk bagi kesehatan tubuh bayi, terlebih jika bayi sudah mulai bernafas. Ketika bayi sudah keluar dan juga bernafas tentunya air ketuban tidak boleh tertelan atau masuk ke dalam tubuh bayi.

Terlepas dari hal tersebut tentunya ada beberapa dampak buruk yang bisa timbul karena bayi sedang mengalami nafas pertamanya. Bagaimanapun juga, air ketuban yang sudah tertelan oleh bayi mengandung kandungan meconium yang tentu sangat berbahaya bagi tubuh bayi. Berikut ini beberapa bahaya dan juga dampak buruk dari air ketuban yang tertelan oleh bayi diantaranya:

Terdapat Kandungan Meconium

Bahaya pertama yang dapat timbul jika bayi menelan air ketuban karena kandungan yang ada di dalamnya. Bagaimanapun juga, kandungan meconium ini memiliki dampak buruk bagi kesehatan bayi. Gangguan yang paling sering terjadi pada bayi yang menelan air ketuban ialah gangguan sistem pernafasan bayi. Hal ini tentunya disebabkan oleh air ketuban mengandung air seni bayi tersebut hasil dari eksresi yang berada di dalam kandungan.

Kondisi ini tentunya memiliki pengaruh yang cukup buruk bagi pernafasan dan juga paru-paru pernafasan bayi. Tidak dapat dipungkiri bahwa ketika bayi lahir, maka akan diberikan serangkaian tes dan juga asesmen untuk mengetahui kondisi bayi yang sesungguhnya, apakah bayi tersebut mengalami gangguan ataukah tidak. Jika muncul salah satu indikasi tentunya bayi akan sengaja menelan air ketuban dan mengalami gejala sesak nafas.

Sesak Nafas

Dampak buruk kedua yang bisa saja terjadi ialah bayi akan mengalami sesak nafas. Mungkin kita banyak mendapati beberapa bayi yang terkena sesak nafas meskipun baru saja dilahirkan. Gejala sesak nafas bsia disebabkan oleh air ketuban yang masuk ke dalam paru-paru bayi serta menghambat kinerja dari paru-paru bayi tersebut sehingga bayi mengalami yang namanya sesak nafas.

Bagaimanapun juga sesak nafas akan mempengaruhi kondisi si kecil ketika sudah tumbuh dewasa. Dengan adanya kondisi seperti ketika masih bayi tentunya ada kemungkinan bayi akan mengalami tumbuh kembang yang terhambat serta pernafasan yang melemah dan juga terganggu. Seperti halya penyakit asma yang kerap terjadi pada sebagaian besar anak sehingga anak sangat berat untuk bernafas.

Untuk itu memang sangat penting bagi bayi ketika dilahirkan dilakukan sejumlah tes dan juga pemeriksaan secara teliti untuk mendapatkan hasil.  Jika memang terbukti bayi mengalami keracunan air ketuban tentunya bisa dilakukan beberapa cara ataupun pengobatabn secara intensif untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan nantinya. Itulah beberapa hal-hal yang perlu Anda ketahui mengenai fakta air ketuban,  cara mengobato air ketuban jiak tertelan oleh bayi serta bahaya yang akan timbul jika bayi menelan air ketuban tersebut. Semoga bermanfaat!

Penyebab Batuk Pada Bayi – Batuk memang sering terjadi pada bayi ataupuan anak-anak. Hal ini dikarenakan batuk memang menjadi salah satu penyakit yang cukup rentan terjadi pada bayi. Untuk itu, penting bagi Anda untuk mengatahui penyebab batuk pada bayi beserta cara mengatasinya. Yuk kita langsung simak saja penjelasan kami berikut ini!

Batuk yang dialami oleh bayi tentunya akan membuat para orangtua menjadi sangat khawatir. Selain membuat kondisi kesehatan bayi buruk, batuk juga membuat bayi semakin rewel. Meskipun memang pada umumnya batuk yang terjadi pada bayi dapat berhanti dengan sendirinya, namun tetap saja batuk yang terjadi pada bayi jangan dianggap remeh. Orang tua memang sangat perlu untuk mengetahui akan penyebab dan juga cara mengatasi batuk pada bayi.

Batuk tentunya menjadi salah satu gejala yang menandakan adanya infeksi pada bakteri dan virus. Namun, penyebab batuk tentunya tergantung dari jenis batuk yang diderita oleh bayi. Hal ini tentunya orang tua dapat mengetahui lebih lanjut lagi akan jenis-jenis batuk yang terjadi pada bayi. Batuk pada bayi tentunya akan membuat tumbuh kembang bayi menjadi sangat terganggu bahkan menyebabkan adanya komplikasi pada pertumbuhan bayi Anda. Baca juga: Perhatikan Pola Makan Bayi Usia 6 Bulan Agar Tumbuh Dengan Baik

Penyebab Batuk Pada Bayi

penyebab batuk pada bayi

Batuk pada bayi tentunya tidak akan membuat bayi merasa tidak nyaman karena bayi dapat mengalami kondisi yang cukup berat. Batuk pada bayi tentunya dapat terjadi sesekali dan akan menunjukkan bahwa adanya satu penyakit tertentu. Batuk yang terjadi pada bayi tentunya berhubungan dengan kurangnya pertahanan tubuh bayi. Hal ini tentunya sistem imun yang melindungi tubuh dari lendir, infeksi dan juga penyebab iritasi masuk ke dalam tubuh sehingga menyebabkan bayi terserang batuk.

Batuk tentunya memang sangat menyiksa karena membuat bayi merasa tidak nyaman. Namun jika tidak dibatukkan, maka bakteri dan juga virus akan masuk ke dalam saluran pernapasan hingga lebih dalam lagi dan akan sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh bayi. Biasanya bayi dan juga anak-anak akan mengalai batuk selama beberapa hari bahkan berlangsung beberapa minggu jika terjadi batuk dalam kondisi yang cukup parah. Jika bayi mengalami batuk lebih dari 2-3 minggu, maka dapat dipastikan infeksi bakteri pada tubuh bayi sangatlah berbahaya. Alangkah baiknya jika Anda memeriksakan si kecil ke dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Berikut ini kami sajikan beberapa penyebab batuk pada bayi yang perlu Anda ketahui sehingga Anda dapat mendeteksi dan juga mencegahnya lebih dini, diantaranya:

Lihat juga: 10+ Bahaya Air Putih Bagi Bayi Yang Jarang Diketahui Oleh Moms

Batuk Akut Pada Bayi

Penyebab batuk pada bayi tentunya dapat berlangsung hingga dua minggu. Pada umumnya, bayi yang mengalami batuk akut disebabkan oleh infeksi virus yang terjadi pada saluran pernapasan atas seperti common cold (batuk pilek biasa). Penyebabb batuk pada bayi ini tentunya ditandai dengan batuk berdahak atau kering, hidung meler, dan juga disertai dengan demam.

Pada bayi dan juga anak-anak tentunya bisa terkena demam dengan delapan macam infeksi virus pernapasan sehingga menimbukan gejala berupa pilek dan juga batuk setiap tahunnya. Kondisi ini tentunya berlangsung hingga sekitar 10 hari. Meskipun tanpa diobati, namun batuk pada bayi dan juga anak-anak dapat sembuh dengan sendirinya. Batuk yang terjadi pada anak-anak tentunya dapat ditangani dengan beberapa cara seperti istirahat yang cukup, makanan dan penuhi cairan bayi dengan memberikannya ASI serta memberinya parasetamol jika gejala batuk pilek pada anak disertai dengan demam.

Batuk Kronis Pada Bayi

Batuk kronis tentunya berlangsung dalam jangka waktu yang sangat panjang sehingga akan terjadi gejala batuk yang berulang-ulang. Pada jenis batuk ini tentunya dapat disebabkan oleh beberapa penyebab lain yang tentunya termasuk ke dalam beberapa penyakit serius, diantaranya:

Penyakit Hidung dan Sinus

Penyebab batuk kronis yang pertama dapat terjadi karena adanya penyakit hidung dan juga sinus. Perlu kita tahu bahwa postnasal drip ialah mengalirnya lendir atau ingus dari hidung ke tengggorokan. Gejala ini tentunya dapat terjadi karena disebabkan oleh infeksi sinus (sinusitis) dan juga rhinitis. Sebagai dampaknya terjadilah batuk yang terus menerus (batuk kronis) yang terjadi pada bayi dan juga anak-anak.

Infeksi Bakteri

Penyebab batuk yang terjadi pada bayi dan juga anak-anak memang dapat disebabkan oleh adanya infeksi virus. Bisa saja meskipun bayi dan juga anak-anak sudah sehat, namun tetap saja dibutuhkan beberapa pengobatan lanjutan dan juga terapi khusus agar si kecil bisa sembuh dengan cepat. Batuk juga terkadang dapat terjadi dan dapat menginfeksi saluran pernapasan bagian bawah pada bayi. Hal ini tentu menyebabkan bayi terkena batuk dan juga iritasi. Tentu saja, ini sangat sulit untuk Anda ketahui, namun ketika bayi dan juga anak-anak mengalami batuk berdahak yang tidak kunjung sembuh bahkan disertai dengan demam, tentu segeralah periksakan diri Anda ke dokter anak untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut lagi.

Infeksi Virus

Penyebab batuk pada bayi yang selanjutnya ialah adanya infeks bakteri yang terjadi pada saluran pernapasan dan bisa jadi juga anak-anak yang sehat akan mengalami batuk yang berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama hingga berminggu-minggu. Akan tetapi, Anda jangan khawatir karena kondisi ini tidak membutuhkan terapi khusus yang tentu bisa sembuh dengan sendirinya. Dalam hal ini obat batuk dapat bekerja menekan batuk sehingga terkadang tidak bekerja dengan efektif pada bayi dan juga anak-anak. Namun langkah ini juga terkadang tidak berjalan dengan sangat efektif.

Inhalasi Benda Asing

Dalam hal ini benda asing juga bisa menjadi salah satu penyebab batuk pada bayi dan juga anak-anak. Benda asing di sini tentunya berhubungan dengan benda sehari-hari yang seirng dipegang oleh si kecil seperti mainan dan juga makanan. Beberapa benda tentunya dapat menjadi sarang bakteri dan juga virus. Usia anak yang paling sering tentunya terjadi pada usia 2-4 tahun. Hal ini tentunya dapat menyebabkan batuk berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama hingga terjadi berminggu-minggu hingga berbulan-bulan lamanya.

Kebiasaan Batuk

Mungkin dapat dibilang kebiasaan karena si kecil mengalami batuk yang terus menerus. Hal ini tentunya dapat dipicu oleh batuk yang dialami oleh si kecil sebelumnya. Jenis batuk ini tentunya bisa terjadi secara berulang-ulang dan juga kering. Jika kita amati lebih lanjut lagi, kebiasaan buruk ini tentunya dapat terjadi ketika anak sedang terjaga dalam tidurnya.

Masalah lambung

Penyebab ini tentunya disebabkan oleh adanya cairan lambung yang dapat bergerak naik kembali ke tenggorokan. Kondisi ini tentunya dapat terjadi sebagai refluks atau terjadi secara diam-diam tanpa adanya sakit pada bagian perut. Mungkin pada beberapa anak kondisi tersebut akan memiliki suara serak dan juag tersedak. Untuk menentukah apakah penyebab batuk dapat dialami oleh si kecil, maka tentunya diperlukan bantuan tenaga profesional agar tidak terjadi kesalahan saat diagnosa.

Asma

Asma memang kerap dialami oleh bayi dan juga anak-anak. Asma tentunya dapat terjadi pada peradangan di saluran pernapasan pada paru-paru. Hal ini tentunya membuat saluran pernapasan menjadi sangat sempit dan juga seringkali menimbulkan gejala yang dikenal dengan istilah mengi. Namun, tentunya gejala asma pada bayi dan juga anak-anak dapat dipicu oleh infeksi bakteri dan juga virus ketika si kecil sdnag tertidur atau mungkin juga dipicu dengan aktivitas fisik atau udara dingin. Tentunya, ketika Anda mendengar nafas bayi yang mengi, alangkah baiknya jika Anda mengunjungi dokter untuk memdapatkan penanganan dan mengetahui diagnosisnya.

Cara Meringankan Batuk Pada Bayi

Tentunya saat ini banyak sekali beragam cara pengobatan yang bsia dijalankan untuk mengatasi batuk pada bayi. Namun tetap saja Anda harus benar-benar waspada, jangan sampai Anda sembarang dalam memberikan obat kepada di kecil yang justru akan berdampak buruk pada tubuh Anda. Alangkah baiknya jika Anda berkonsultasi terlebih dahulu kepada dokter yang memang sangat ahli dibidangnya.

Terlepas kemungkinan adanya risiko dan juga efek samping dari pengobatan yang dilakukan. Pada bayi yang berusia di bawah enam tahun tentunya memang sangat disarankan untuk diberikan obat batuk ataupun pilek. Beberapa langkah alami yang bisa Anda lakukan untuk meringankan batuk pada si kecil diantaranya:

– Berikan ASI lebih banyak untuk membantu tubuh melawan infeksi yang disebabkan oleh berbagai virus dan juga bakteri

– Penuhilah kebutuhan beristirahat pada bayi dan juga anak-anak setiap harinya

– Jika bayi mengalami demam, tentunya Anda dapat memberikan obat pereda demam yang dibuat khusus untuk bayi dengan dosis dan juga takaran yang tepat.

– Penanganan batuk pada bayi tentunya dapat memanfaatkan uap panas di dalam ruangan untuk membantu melegakan saluran pernapasan. Pastikan juga Anda menjaga bayi saat menghirup uap agar tidak terluka.

Bagaimanapun juga pengobatan yang dilakukan pada bayi dan juga anak-anak diperlukan pengobatan khusus terutama jika batuk tersebut tidak hilang dalam waktu satu atau dua minggu. Pengobatan untuk setiap jenis batuk tentunya berbeda-beda tergantung dari apa penyebab dari batuk tersebut. Sebagai contohnya, untuk batuk berdahak diperlukan obat batuk khusus yang memiliki fungsi untuk mengencerkan dahal seperti guafenesin, ambroxol, dan juga OBH. Di samping itu tentunya diperlukan antialergi, antibiotik, pelega sesak dan lain-lain.

Pada batuk bayi yang terjadi dalam waktu dua minggu tentunya dianggap sebagai batuk kronis yang mungkin dapat pula disebabkan oleh rhinitis alergi (hay fever), asma, refluks dan juga penyebab lainnya. Untuk kondisi ini tentunya Anda harus segera memeriksakan diri ke dokter untuk mendapatkan pengobatan lebih lanjut dengan cepat dan juga tepat.

Mengenali Adanya Tanda-Tanda Bahaya Pada Batuk Bayi

Tentunya, ada beberapa tanda bahaya pada bayi yang tentu disebabkan oleh reaksi alami pada tubuh. Ada beberapa tanda yang tentu dapat Anda kenali jika batuk pada bayi disertai dengan ciri-ciri seperti yang akan kami sajikan di bawah ini:

– Bayi yang tadinya sering menyusu, jika ia tiba-tiba menolak untuk menyusu, maka dapat dipastikan hal ini cukup berbahaya. Bisa jadi bayi mengalami dehidrasi yang dapat Anda cek dengan melihat popoknya. Pada bayi yang normal tentunya bayi akan biang air kecil setiap enam jam sekali, jika dibawah itu, maka segeralah konsultasikan ke dokter anak.

– Batuk tentunya dapat menyebabkan bayi muntah

– Bayi mengalami demam tinggi dan akan berlangsung lebih dari tiga hari dan pada bayi yang berusia di bawah tiga bulan. Pada bayi yang di atas usia tersebut tentunya harus lebih diwaspadi jika memang demam bayi mencapai 39 derajat celsius atau lebih.

– Sesak napas pada bayi juga dapat diketahui dengan adanya suara tertentu ketika si kecil sedang menarik nafas atau mengeluarkan suara yang cukup keras ketika ia sedang tidur.

– Bayi tentunya tampak pucat dan juga kebiruan.

– Dahak pada bayi tentunya berwarna kuning, hijau dan juga kecokelatan.

Selain itu, beberapa tanda bahaya tersebut dapat menjadi indikasi adanya penyakit tertentu di dalam tubuh. Dalam hal ini bayi yang berusia dibawah 5 tahun memiliki risiko yang cukup tinggi untuk terkena difteri. Untuk itu, memang sangat penting bagi Anda untuk mencegah adanya infeksi yang cukup berat dan juga dapat mengancam nyawa si kecil. Dalam menangani batuk tentunya Anda harus berkonsultasi dengan tenaga kesehatan dan juga media dengan tepat karena diagnosa ini sangat penting bagi kesehatan tubuh bayi.

Menjaga bayi agar tidak terkena batuk memang terbilang cukup susah. Hal ini tentunya berhubungan dengan sistem imunitas tubuh bayi. Jika bayi tidak mendapatkan penanganan lebih lanjut ketika sedang batuk, maka tentunya bisa berbahaya bagi tumbuh kembang si kecil. Demikianlah beberapa penyebab batuk pada bayi dan juga cara meringankan serta tanda-tanda bahaya yang dapat timbul jika batuk bayi berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama. Semoga bermanfaat!

Kentut Bayi Bau Busuk – Mengenal bau kentut pada bayi tentunya menjadi hal yang harus Anda lakukan. Langkah ini tentunya bertujuan untuk mewaspadai dan juga dikhawatirkan ada beberapa pertanda yang kemungkinan terjadi di dalam tubuh si kecil. Untuk itu, ketahuilah beberapa jenis kentut bayi bau yang perlu diperiksa berikut ini!

Seperti yang kita tahu bahwa kentut ialah gas yang diproduksi oleh bakteri normal yang berada di dalam usus kecil dan juga empedu yang dikeluarkan oleh hati. Umumnya, bayi mengeluarkan gas sebanyak 13-21 kali sehari karena mereka memiliki peluang yang cukup besar dalam menelan udara. Hal ini sering terjadi dimana bayi tidak sengaja ketika sedang menyusu, menangis, minum dari dalam botol susu dan juga saat menghisap dot. Dalam hal ini gas yang didapatkan oleh bayi telah terjebak di dalam perut sehingga dikeluarkan dalam bentuk sendawa dan juga kentut.

Faktanya ketika bayi berusia 4 bulan memang sangat rentan mengalami kolik. Kondisi ini ditandai dengan bayi yang sering menangis lebih dari 3 jam dan terjadi selama lebih dari 3 hari di dalam seminggu. Kondisi ini tentunya sering diperparah dengan bayi yang banyak menelan udara ketika sering menangis dan dilanjutkan dengan membuang gas. Kentut memang menjadi kondisi dimana tubuh seseorang normal, akan tetapi Anda tetap harus mewaspadai jenis kentut bayi yang perlu diperiksakan. Berikut kami sajikan jenis kentut bayi seperti apa yang memerlukan penanganan lebih lanjut lagi! Baca juga: Ketahui Penyebab Berat Badan Bayi Kurang Yang Paling Umum Terjadi

Kentut Bayi Bau Busuk

kentut bayi bau busuk

Bau kentut yang dialami oleh bayi memang menjadi tanda yang paling utama dimana bayi mengalami gangguan di dalam ususnya. Kondisi ini tentunya mengindikasi bahwa berapa lama tinja yang ada di dalam perut bayi tidak keluar. Bau kentut yang berlebih tentunya dapat menjadi tanda bahwa adanya bakteri yang telah lama berkembang di dalam perut si kecil. Selain itu, bau kentut pada bayi dapat disebabkan oleh adanya alergi dan juga intoleransi makanan sehingga menyebabkan kentut menjadi sangat asam dan juga busuk.

Kentut bayi yang bau tentunya tidak jauh dari penyebab adanya beberapa jenis makanan yang dikonsumsi. Meskipun kondisi ini ialah kondisi yang cukup normal, namun tetap saja Anda harus mewaspadainya dikarenakan adanya kemungkinan gangguan dan juga masalah lain di dalam perut si kecil. Lihat juga: Susu Formula Menyebabkan Bayi Obesitas, Benarkah?

Ketika bayi lahir tentunya bayi akan lebih sering kentut dan menghasilkan kentut yang tidak berbau karena konsumsi ASI. Sementara itu, pada bayi yang mengonsumsi susu formula memang lebih sering mengalami kentut dengan bau yang sangat alami. Kentut bayi yang bau tentunya sering dialami oleh bayi yang telah menginjak usia 6 bulan ke atas. Kondisi inipun terjadi setelah ia mengonsumsi makanan padat. Terlebih lagi jika si kecil sudah mengonsumsi makanan yang banyak mengandung protein.

Jika Anda mencium kentut bayi yang sangat bau dan juga busuk tentunya hal ini dapat mengindikasi bahwa adanya masalah dan juga gangguan di dalam perut si kecil. Untuk itu ketika Anda mencium bau kentut si kecil yang sangat berbau busuk, tentunya langkah utama yang dapat Anda lakukan ialah dengan berkonsultasi kepada dokter untuk mengetahui dan juga menangani lebih lanjut lagi akan penyebab kentut bayi berbau busuk.

Jenis-Jenis Kentut Bayi

Kentut Bayi Tidak Berbau

Jenis kentut pertama yang sering dialami oleh bayi ialah kentut yang tidak berbau. Jenis kentut ini dapat disebabkan oleh adanya gas yang menumpuk di dalam perut bayi dikarenakan oleh adanya udara yang tertelan ketika makan dan saat menangis. Dan juga disebabkan oleh adanya hasil pemecahan makanan yang ada di dalam sisem pencernaan bayi. Dikarenakan proses tersebut, kentut bayi biasanya tidak berbau dan juga normal terjadi. Anda memang akan mendengar suara kentut bayi, namun tidak mencium bau apapun.

Kentut Bayi Bau Ringan

Jenis kentut bayi yang kedua ialah jenis kentut yang tergolong ringan dan berbau belerang karena disebabkan oleh makanan yang mengandung belerang yang memang dikonsumsi oleh bayi. Jenis makanan ini yakni sayuran terutama kembang kol dan brokoli serta kacang-kacangan. Jenis makanan ini mungkin saja tidak dikonsumsi langsung oleh bayi, namun dikonsumsi oleh ibu melalui ASI. Kondisi kentut bayi ini tentunya tergantung pula oleh makanan yang ibunya makan. Bau kentut bayi yang cukup ringan dan juga normal akan hilang denga sendirinya.

Kentut Bayi Bau Belerang

Jenis kentut bayi yang selanjutnya ialah kentut bayi yang kuat seperti bau belerang. Jenis kentut ini tentunya dapat disebabkan oleh beberapa jenis makanan yang dikonsumsi oleh bayi melalui ASI. Jenis makanan berupa sayuran tentunya memang sangat rentan mengalami bau gas pada bayi terutama yang banyak mengandung pati dan juga serat. Dalam hal ini jenis makanan berupa daging juga dapat menyebabkan kentut bayi menjadi lebih bau dibandingkan dengan sayuran. Hal ini dikarenakan daging merah mengandung senyawa belerang. Untuk itu, jika Anda mendapati kentut bayi yang sangat bau dan juga busuk, kenalikan apakah Anda memamng mengonsumsi makanan yang menghasilkan bau yang cukup busuk, ataukah tidak.

Kentut Bayi Bau Busuk

Jenis kentut bayi yang terakhir yakni kentut bayi yang berbau sangat busuk. Jika Anda mendapati jenis kentut pada bayi yang berbau busuk tentunya ini dapat menjadi suatu kondisi yang perlu Anda waspadai. Kondisi ini bisa saja menjadi penyebab bayi mengalami infeksi dan juga masalah yang terjadi pada sistem pencernaan dan juga beberapa penyerapan nutrisi seperti susu dan juga laktosa. Terlebih lagi jika kentut bayi yang busuk ini dihasilkan oleh bayi yang mengonsumsi produk susu yang kaya akan laktosa.

Penyebab Kentut Bayi Bau Busuk

Setelah kita mengetahui beberapa jenis kentut bayi yang perlu diperiksakan tentunya inilah saatnya bagi kita untuk mengetahui apa saja penyebab kentut bayi bau busuk. Berikut kami sajikan beberapa penyebab kentut bayi berbau busuk untu Anda, diantaranya:

Saluran Pencernaan Belum Matang

Penyebab utama dimana kentut bayi berbau bususk ialah karena adanya saluran pencernaan pada bayi yang belum matang. Faktanya memang bahwa sistem pencernaan bayi belum matang sepenuhnya dan masih akan terus berkembang. Inilah penyebab dimana kentut bayi mengalami bau yang cukup busuk. Bagaimanapun juga, kentut bayi dihasilkan oleh usus yang mencerna nutrisi, laktosa, dan juga protein yang ada di dalam makanan tersebut. Seiring dengan adanya perkembangan sistem pencernaan yang dihasilkan oleh bayi tentunya kentut bau akan berkurang frekuensinya.

Menelan Udara

Penyebab kedua yang menjadikan kentut bayi berbau busuk ialah bayi yang sering menelan udara. Udara yang ditelan tersebut tentunya mengandung gas dan telah menumouk di dalam tubuh bayi dan akan dikeluarkan melalui kentut. Kondisi ini biasanya sering terjadi pada bayi yang mengonsumsi botol susu sehingga menelan lebih banyak udara.

Makanan Mengandung Gas

Penyebab selanjutnya yang menjadi penyebab kentut bayi bau dikarenakan adanya makanan yang mengandung gas. Sama halnya dengan orang dewasa, jika kita mengonsumsi makanan yang mengandung gas, tentunya akan menghasilkan bau kentut yang sangat busuk. Ketika kita memakan sayuran dan juga kacang-kacangan tentunya akan menyebabkan perut menghasilkan kentut berbau busuk. Tentunya, bayi yang mendapatkan sumber makanan dari ibunya yang dapat menyebabkan perut bayi menghasilkan kentut yang berbau busuk pula. Selain itu, perut bayi juga akan menyebabkan perut bayi menjadi kembung sehingga kentut akan berbau sangat busuk.

Sering Menangis

Penyebab kentut bayi berbau busuk tentunya tidak bisa lepas dari bayi yang sering menangis. Pada bayi yang sering menangis tentunya akan memungkinkan lebih banyak udara yang masuk ke dalam tubuh sehingga menyebabkan gas menumpuk di dalam perut bayi. Kondisi inilah yang tentunya menyebabkan gas menumpuk di dalam saluran dan juga sistem pencernaan sehingga dapat menyebabkan kentut bayi bau busuk.

Bayi Baru Mulai Memakan Makanan Padat

Penyebab terakhir tentunya bayi yang baru mulai memakan makanan padat. Pada umumnya, bayi yang berusia 6 bulan mulai mengenal makanan padat sehingga tidak heran jika pada usia ini kentut bayi menjadi lebih bau. Dalam hal ini tentunya bayi membutuhkan waktu untuk terbiasa dalam mencerna makanan padat. Kondisi ini tentunya dapat menyebabkan adanya masalah pencernaan pada bayi dan juga perut bayi.

Gejala Kentut Bayi Busuk

Bau kentut bayi yang busuk tentunya menjadi tanda bahwa berapa lama tinja di dalam perut bayi sudah menumpuk dan berkembang di dalam usus bayi. Dalam hal ini tentunya menjadi tanda bahwa bakteri tersebut telah lama dan juga berkembang di dalam tinja. Tentunya, jika bayi mengalami gejala-gejala seperti yang akan kami sajikan di bawah sudah dipastikan bahwa bayi mengalami sistem pencernaan yang terganggu, diantaranya:

– Badan bayi yang mengalami demam tinggi

– Tidak buang air besar

– Buang air besar yang bercampur

– Mengalami muntah

– Bayi sering rewel

– Perut bayi menjadi kembung

– Adanya lendir yang menjadi tanda bahwa adanya intoleransi makanan dan juga infeksi

– Adanya perubahan kepadatan pada tinja bayi, bisa semakin cair dan juga keras

– Terlihat melengkungnya punggung dan jusa terlihat kesakitan ketika bayi menggeliat karena bayi merasa tidak nyaman

– perubahan warna juga terjadi pada tinja terutama setelah mengonsumsi makanan baru. Tinja yang berwarna hitam ini tentunya menjadi tanda bahwa adanya darah dari usus kecil maupun lambung. Sedangkan tinja putih tentunya menjadi tanda bahwa bayi tidak lagi  memproduksi cukup empedu. Sementara jika tinja berwarna merah dapat menjadi tanda bahwa adanya darah yang berasal dari usus besar dan juga dubur.

Perlu Anda tahu bahwa kentut bayi yang berbau busuk bukan menjadi tanda bahwa bayi mengalami gangguan kesehatan. Untuk itu, orangtua diharuskan untuk jangan terlalu panik dan alangkah lebih baik jika memantau si kecil baik makanan yang ia makan ataupun aktivitasnya. Jika bayi terlihat kurang bersemangat dan tidak menunjukkan gejala-gejala seperti yang sudah disebutkan di atas, tentunya ada kemungkinan itu menjadi kondisi yang cukup normal. Akan tetapi, jika kondisi pada bayi disertai dengan gejala-gejala dan disertai dengan bau busuk pada bayi. Anda sebagai orangtua tentunya segera memeriksakan si kecil ke dokter agar mendapatkan penanganan yang lebih serius.

Tips Cara Mengatasi Bau Kentut Pada Bayi

Setelah kita mengetahui akan penyebab dan juga gejala kentut bayi bau. Tentunya, ini menjadi tugas yang cukup besar bagi kita untuk mencari cara dalam mengatasi kentut bayi busuk. Ada beberapa metode yang tentunya memang terbukti mengatasi kentut bayi bau, diantaranya:

– Pada bayi yang minum susu botol tentunya harus dipilih ukuran yang paling tepat. Jika dot berukuran lebih besar, tentunya ini dapat menyebabkan bayi kehabisan susu dengan sangat cepat. Sedangkan untuk yang lebih kecil bayi akan mengarah pada asupan yang lebih banyak gas.

– Berbicara tentang kentut pada bayi tentunya dapat menepuk punggung setiap 3-5 menit. Cara yang dapat Anda gunakan ialah untuk mengurangi akumulasi gas yang ada pada saluran pencernaan.

– Anda juga tentunya dapat memijat lembut perut bayi dengan minyak pijat. Tentunya, ini tentunya dapat membantu menghilangkan adanya gelembung gas dari sistem pencernaan.

– Penyebab bayi kentut berbau busuk tentunya dapat disebabkan oleh adanya intoleransi yang ada di dalam makanan. Untuk itu ibu harus benar-benar ketat dalam mewaspadai pola makan si kecil.

– Bantulah bayi untuk dapat bersendawa. Ketika sedang menyusui bayi seringkali menelan udara yang cukup banyak. Untuk itu, berusahalah untuk membuat bayi bersendawa untuk mengurangi gas yang ada di dalam perut.

Cara Lain Mengatasi Kentut Bayi Bau Busuk

– Ketika Anda sedang menyusui bayi, pastikan untuk membuat kepala bayi menjadi lebih tinggi dari perutnya. Tentunya cara ini akan membuat susu bisa langsung masuk ke dalam perut bayi dan juga udara ke atas sehingga tidak akan adanya penumpukan gas di dalam perut bayi.

– Buatlah bayi bergerak lebih bebas agar bayi dapat mengeluarkan gas yang ada di dalam perutnya. Cara yang dapat Anda lakukan ialah dengan membuat si kecil terlentang, kemudian biarkan ia bergerak bebas dengan mengangkat kakinya dengan gerakan seperti mengayuh sepeda.

– Jika Anda terbiasa memberi makan susu botol, aturlah posisi botol sehingga puting botol akan terisi dengan susu bukan dengan udara. Hal ini tentunya untuk menghindari perut bayi akan kemasukan gas.

– Dengan makanan padat bayi juga bisa mengalami yang namanya penumpukan gas akibat makanan padat yang si kecil konsumsi.

– Ketika sedang memberikan ASI ekslusif, usahakan untuk tidak memberikan makanan yang banyak mengandung gas kepada si kecil. Hal ini dikarenakan sistem pencernaan bayi yang belum matang sehingga dapat menyebabkan bayi sering kentut dengan bau yang sangat busuk.

Bagaimanapun juga, bayi yang mengalami kelebihan gas di dalam perutnya sangat rewel dan juga akan terus menangis. Namun, Anda tidak perlu khawatir karena jika bayi kentut dan tidak mengeluarkan bau busuk karena akan itu tandanya bahwa bayi Anda sehat. Akan lebih baik jika Anda melakukan cara-cara untuk mengeluarkan penumpukan gas yang ada di dalam perut si kecil.

Bagaimanapun juga, bayi memang sangat rentan terkena perut kembung dan juga penumpukan gas. Hal ini tentunya dikarenakan beberapa faktor yang telah kami sebutkan di atas. Untuk itu, memang sangat penting bagi Anda untuk tetap menjaga perut bayi. Itulah beberapa hal yang perlu Anda ketahui mengenai kentut bayi bau busuk. Semoga bermanfaat!

Dampak Kelebihan Garam Pada Bayi – Garam memang menjadi salah satu asupan yang dibutuhkan oleh tubuh manusia, begitu pula untuk anak Anda. Akan tetapi, ada hal yang perlu digarisbawahi yaitu kadar dan juga porsi garam yang dibutuhkan oleh anak tentu berbeda dengan orang dewasa. Tentunya, akan ada dampak negatif yang bisa ditimbulkan jika anak kelebihan garam sebagai berikut!

Setiap menu makanan tentunya tidak lepas dari kandungan garam baik yang berjumlah banyak maupun sedikit. Bagaimanapun juga, garam memang memegang peranan yang cukup penting dalam tubuh manusia. Bagi anak-anak, asupan garam tentunya harus diperhatikan dengan sangat baik. Hal ini tentunya akan mempengaruhi kesehatan tubuh si kecil.

Bagaimanapun juga, kebutuhan garam yang dibutuhkan oleh anak-anak dan juga orang dewasa sangatlah berbeda. Hal ini tentunya tidak terlepas dari berapa usia anak tersebut. Jangan sampai si kecil kelebihan kadar garam yang memang seharusnya karena akan mengakibatkan beberapa risiko penyakit, tidak terkecuali pada anak Anda.

Maka dari itu, memang sangat penting bagi Anda untuk mengetahui kadar garam yang memang dibutuhkan oleh tubuh si kecil. Beberapa risiko dan juga dampak negatif tentunya akan muncul begitu saja jika kita memang tidak memiliki aturan yang teoat dalam konsumsi garam. Asupan garam yang diberikan kepada si kecil tentunya tergantung dari orang tuanya. Jika orang tuanya kerap memberikan makanan yang cukup asin, maka nantinya si kecil akan terbiasa mengonsumsi makanan asin tersebut. Sebaliknya, jika si kecil jarang diberikan makanan yang berasa, maka nantinya si kecil tidak akan susah untuk memakan makanan meski memiliki rasa yang hambar. Oleh karena itu, alangkah baiknya jika Anda membatasi konsumsi garam untuk diberikan kepada si kecil. Baca juga: Cara Merawat Bayi Baru Lahir Agar Cepat Gemuk Yang Harus Anda Lakukan

Fakta Tentang Garam

dampak kelebihan garam pada bayi

Sebelum kita mengetahui berapa kadar garam yang dibutuhkan serta dampak negatif yang kemungkinan akan timbul jika anak terlalu banyak mengonsumsi garam. Akan lebih baik jika Anda mengenal terlebih dahulu fakta-fakta mengenai garam yang tentu tidak banyak orang yang tahu mengenai hal tersebut. Seperti yang kita tahu bahwa garam menjadi salah satu bumbu dapur yang memang paling dibutuhkan oleh tubuh manusia. Dapat dikatakan bahwa garam menjadi salah satu inti dari hidangan masakan.

Seperti yang sering kita jumpai bahwa garam memiliki warna yang khas yaitu putih meskipun ada beberapa jenis garam yang berwarna putih kepink-pinkan. Garam dapat dikatakan sebagai suatu zat yang berbentuk kristal, padat serta berwarna putih karena hasil dari sulingan air laut.  Garam memang dihasilkan dengan cara mengeringkan air laut hingga mendapatkan kristal-kristal mineral.  Lihat juga: Penyebab Kaki X Pada Anak-Anak Serta Cara Mengatasinya

Berapa Kadar Garam Yang Dibutuhkan Oleh Anak

Setelah kita mengetahui fakta-fakta mengenai garam, kali ini kita akan dihadapkan pada berapa kadar garam yang sesungguhnya dibutuhkan oleh anak. Ketika masih bayi dan juga anak-anak memberikan garam menjadi salah satu hal yang harus benar-benar dipertimbangkan bagi Anda. Hal ini dikarenakan garam dapat berdampak buruk bagi kesehatan si kecil. Hal yang perlu Anda tahu bahwa bayi membutuhkan garam yang sangat sedikit pada menu harian mereka.

Terlepas dari hal tersebut, tentunya ini menjadi hal yang cukup penting bagi Anda dimana memberikan garam menjadi pertimbangan yang cukup berarti. Untuk itu, memang Anda disarankan untuk memberikan garam pada anak dalam jumlah yang cukup sedikit dan tidak terlalu berlebihan dalam memberikannya pada si kecil. Berikut kadar garam yang dibutuhkan oleh bayi dan juga anak-anak:

– Dibawah 6 bulan: Sebelum si kecil berumur 6 bulan, anak hanya membutuhkan kandungan garam yang ada pada ASI ataupun susu formula saja. Maka dari itu, jangan sampai Anda memberikan MPASI bagi si kecil yang belum mencapai usia 6 bulan.

– Usia 6-12 bulan: Pada usia ini, si kecil hanya membutuhkan kurang dari 1 gram saja garam dalam sehari (kurang dari 0.4 gr sodium)

– Usia 1-3 tahun: Pada usia ini anak hanya membutuhkan 2 gram garam saja dalam sehari (0.8 gr sodium)

– Usia 4-6 tahun: Pada usia ini anak sudah membutuhkan garam sekitar 3 gram saja dalam sehari (1.2 gr sodium)

– Usia 7-10: Pada usia ini si kecil sudah dapat mengonsumsi garam sebanyak 5 gram dalam sehari (2 gr sodium)

– Usia 11 tahun ke atas: Pada usia ini si kecil sudah membutuhkan garam sebanyak 6 gr dalam sehari (2.4 gr sodium)

Pada bayi yang diberikan ASI tentunya asupan garam pada si kecil sudah dirasa cukup. Selain itu, bayi yang mengonsumsi susu formula juga mengandung garam yang kurang lebih sama dengan ASI yang diberikan oleh ibu.

Dampak Kelebihan Garam Pada Bayi

dampak kelebihan garam pada bayi

Setelah kita mengetahui fakta-fakta mengenai garam dan juga kadar yang memang dibutuhkan oleh tubuh bayi. Tentunya, kita akan beranjak pada apa saja dampak kelebihan garam pada bayi. Bagi orang dewasa, menu makanan yang kurang garam memang akan terasa hambar. Akan tetapi, bagi anak di bawah 1 tahun, menu makanan tanpa garam memang sangat dianjurkan. Makanan bayi tanpa garam sebenarnya sudah dapat dinikmati oleh bayi karena indera pengecap bayi masih sangat sensitif.

Bayi sebenarnya belum membutuhkan asupan makanan yang sudah tercampur dengan garam. Namun, para orangtua seringkali menyiapkan menu makanan dengan menggunakan garam. Ternyata, menu makanan bayi yang mengandung garam dapat menyebabkan beberapa risiko dan juga dampak buruk pada bayi Anda. Beberapa risiko tersebut diantaranya:

Ginjal

Dampak buruk pertama yang kemungkinan menyerang bayi Anda ialah munculnya gejala penyakit ginjal. Menurut ahli gizi dari Universitas Kristen Indonesia (UKI) yaitu Leana Suniar menyebutkan bahwa anak di bawah satu tahun memiliki ginjal yang belum bekerja dengan sempurna. Ketika ia mengonsumsi garam secara berlebihan, tentunya ginjal akan berkerja sangat ekstra dalam menyaring kandungan mineral dan juga natrium yang ada di dalamnya. Hingga akhirnya jika terus bekerja, maka akan memicu pembengkakan pada ginjal.

Hipertensi

Selain orang dewasa, hipertensi juga bisa diderita oleh anak-anak. Anak yang sering mengonsumsi makanan yang mengandung garam tentunya dapat berpotensi lebih besar mengidap penyakit darah tinggi atau hipertensi. Penelitian mengungkapkan bahwa sejumlah anak yang berusia enam bulan akan mendapatkan banyak asupan garam serta memiliki tekanan darah yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang berdiet garam atau tidak terlalu sering mengonsumsi garam. Hal ini tentunya berkaitan dengan usia ketika ia dewasa.

Nafsu makan

Ketika bayi sudah mulai diberikan makanan dengan perasa asin dari garam. Tentunya, kondisi ini akan menyebabkan bayi sudah mulai memilih dan juga memilah makanan yang menurutnya enak. Cita rasa yang didapatkan dari garam pada menu makanan mereka tentunya akan menimbulkan persepsi kenikmatan pada pikiran mereka. Hal ini akan menyulitkan kita dalam memberikan menu makanan pada bayi karena anak cenderung memilih makanan tersebut. Mereka akan mulai tidak ingin makan sayuran karena seenak apapun sayuran di masak, maka tidak akan seenak menu makanan dari ikan dan juga daging.

Hal yang perlu Anda ingat bahwa bayi usia enam bulan tentunya masih membutuhkan asupan ASI sebagai asupan pokok. Sebenarnya, ASI sudah mengandung banyak gizi dan juga nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh anak termasuk kandungan garam. Anak dapat diberikan makan jika usianya sudah mencapai usia satu tahun, namun tetap Anda harus memperhatikan jumlah yang diberikan kepada anak tersebut.

Retensi cairan

Garam natrium memang snagat erat kaitannya dengan jumlah cairan yang masuk ke dalam tubuh. Hal ini dikarenakan garam memiliki sifat menyerap cairan. Jika mengonsumsi garam dalam jumlah yang berlebih tentunya akan menyebabkan adanya cairan yang menumpuk pada tubuh Anda. Penumpukan cairan tentunya dapat terjadi pula pada pembuluh darah. Efeknya, ginjal akan merasakan kesulitan dalam mengeliminasi kadar garam. Jika sudah begini, tentunya cairan akan tetap tertahan dan menyebabkan pembengkakan di beberapa bagian tubuh.

Jantung

Selain menyebabkan hipertensi, mengonsumsi garam juag secara tidak langsung dapat menyebabkan anak terkena penyakit jantung. Hal ini tentunya disebabkan oleh meningkatnya potensi hipertensi pada tubuh anak. Kondisi ini tentunya akan menyebabkan anak berpeluang besar terkena penyakit jantung. Terlebih jika anak ketika masih kecil sudah mendapatkan makanan dengan perasa yang cukup kuat. Namun, untuk kasus ini jarang kita temui secara pasti.

Stroke

Jika penyakit hipertensi sudah ada pada  si kecil, tidak menutup kemungkinan si kecil akan terkena penyakit stroke di usianya yang sudah lanjut. Hal ini dikarenakan penyakit hipertensi dan juga stroke memang sangat berkaitan. Risiko terkena stroke tentunya dapat diawali pada kebiasaan anak yang sering mengonsumsi makanan asin sejak kecil. Jika asupan makanan dengan garam yang berlebihan, maka akan menyebabkan penyakit stroke pada anak. Risiko terkena penyakit stroke tentunya dapat berkurang dengan mengurangi asupan garam 1 gram saja.

Gangguan Kardiovaskuler

Gangguan yang terjadi pada tubuh ini tentunya menjadi masalah yang cukup serius dan akan berkembang menjadi penyakit jantung lainnya. Hal ini dikarenakan asupan garam yang terlalu banyak dapat membuat tubuh mengalami penyumbatan pembuluh darah yang lebih serius. Pada awalnya, mungkin banyak yang berpikir bahwa anak Anda menderita penyakit hipertensi, akan tetapi darah tinggi tersebut akan berlanjut hingga menyebabkan gangguan kardiovaskuler.

Kerontokan Rambut

Asupan garam yang terlalu banyak tentunya dapat menyebabkan terjadinya kerontokan rambut secara berlebihan. Garam yang tidak terkontrol tentunya dapat mengakibatkan rambut akan beruban lebih awal jika dibandingkan dengan usia anak ketika menginjak remaja.

Dehidrasi

Selain adanya gangguan pada kardiovaskuler, anak yang sering mengonsumsi garam dalam jumlah yang berlebih tentunya sangat rentan juga terkena dehidrasi. Hal ini tentunya banyak yang mengira bahwa tubuh yang dehidrasi dapat diatasi dengan garam untuk meningkatkan cairan pada tubuh seseorang. Akan tetapi, jika dalam jumlah yang berlebih, justru akan menimbulkan efek yang sebaliknya.

Hal ini dikarenakan kinerja garam memang sangat mirip, cairan akan ditarik dalam darah sehingga tubuh akan mengalami yang namanya dehidrasi. Jika berlebihan tentunya tidak akan terkendali dengan segera dan air akan ditarik keluar melalui proses yang dinamakan dengan osmosis. Maka dari itu, batasilah asupan garam yang masuk pada si kecil  mulai dari sekarang juga.

Gangguan pada saraf

Kepekaan saraf manusia tentunya dadpat didukung pula oleh adanya fungsi terhadap stimulan. Garam tentunya dapat bekerja sama dengan kalium dalam mempertahankan proses pengiriman rangsangan ke dalam serabut saraf. Ketika garam pada tubuh sudah mulai banyak dan kadar yang terlalu tinggi, maka terjadilah pembengkakan pada jaringan saraf. Jika penanangan tersebut tidak segera di atasi, maka akan menimbulkan damapk yang lebih parah yakni koma.

Tips Memberi Susu Pada Anak Tanpa Tambahan Garam

Susu memang menjadi sumber makanan utama bagi bayi. Sumber nutrisi yang lengkap ini dapat mendukung perkembangan saraf dan juga otak pada masa pertumbuhan. Hal ini dikarenakan susu mengandung lemak, vitamin D, kalsium, tidak terkecuali sodium. Meskipun memiliki kandungan yang cukup lengkap, namun tetap saja bahwa konsumsi susu pada anak harus ditakar agar tidak berlebihan.

Jika penambahan berat badan pada anak melebihi penambahan tinggi badan, maka alangkah baiknya Anda mengganti susu yang tinggi lemak dengan susu yang rendah lemak meski usia anak masih di bawah 2 tahun. Tidak dapat dipungkiri bahwa banyak para orang tua yang menambahkan garam pada susu formula untuk sekedar memberi rasa gurih pada susu tersebut. Namun, ternyata hal tersebut tidaklah dibenarkan. Anda lebih baik menghindari untuk menambahkan garam pada susu si kecil. Susu formula dan juga ASI memang sudah mengandung sodium dan juga garam sehingga Anda tidak perlu lagi memberikan tambahan garm terhadap susu yang biasa dikonsumsi oleh si kecil.

Menjaga asupan gizi dan juga nutrisi yang dibutuhkan oleh anak memang menjadi sebuah keharusan bagi Anda. Namun, tetap Anda harus mempertimbangkan dalam pemberian makanan tersebut. Itulah beberapa fakta yang perlu Anda ketahui mengenai dampak kelebihan garam pada bayi. Semoga bermanfaat!