Mengenal Sindrom Aspirasi Mekonium, Keracunan Air Ketuban Akibat Feses Pada Bayi

Mengenal Sindrom Aspirasi Mekonium, Keracunan Air Ketuban Akibat Feses Pada Bayi – Setiap orangtua terutama para calon ibu pasti mendambakan buah hati yang ada dalam kandungannya senantiasa sehat dan terawat. Apalagi setelah dilahirkan ke dunia, kesehatan tentu menjadi fokus penting para orangtua agar tidak perlu tindakan medis yang mengkhawatirkan dilakukan pada si kecil.

Sayangnya, masalah dan keluhan selama bayi dalam kandungan dan menjelang dilahirkan ke dunia seringkali terjadi. Beberapa keluhan bisa mungkin mempengaruhi kesehatan bayi. Sindrom Aspirasi Mekonium misalnya, kondisi ini adalah keadaan dimana bayi mengalami keracunan air ketuban akibat produksi feses pertama bayi yang bercampur dengan air ketuban. Lalu apa sih Sindrom Aspirasi Mekonium pada bayi dan seperti apa pengaruhnya. Informasinya dapat anda simak di bawah ini.

 

Mengenal Sindrom Aspirasi Mekonium

Bagi masyarakat awam istilah Sindrom Aspirasi Mekonium mungkin menjadi hal yang asing di telinga. Meskipun pernah mendengar hal ini mungkin sebagian lupa karena istilah medisnya yang jarang sekali dikenali. Sindrom Aspirasi Mekonium adalah sebuah kondisi dimana bayi mengalami keracunan air ketuban yang mengandung mekonium.

Apa itu mekonium? Mekonium adalah feses, kotoran atau tinja pertama yang diproduksi oleh usus bayi. Produksi mekonium oleh bagian usus memang sudah dipersiapkan sebelum kelahiran bayi. Selain itu, sebenarnya, mekonium memang menjadi hal yang normal dan wajar dialami oleh setiap bayi yang baru lahir.

Hanya saja, ketika mekonium keluar pada saat bayi masih dalam kandungan dan bercampur bersama dengan air ketuban maka hal ini akan dapat berpengaruh bahaya terhadap kesehatan si kecil. Bayi yang ada dalam kandungan anda ketika mendapatkan suplay air ketuban yang bercampur bersama dengan mekonium akan membuat mereka mengalami keracunan. Baik sebelum, selama atau setelah kelahiran kondisi bahaya ini akan dapat  berpengaruh besar terhadap kesehatan bayi

Dalam kandungan, air ketuban punya banyak peran. Selain untuk melindungi bayi dari benturan pada dasarnya tumbuh kembang bayi akan didukung oleh adanya cairan ketuban pada rahim ibu yang menyelimuti si kecil di dalamnya. Selain itu, di dalam kandungan air ketuban mungkin akan dihirup atau diminum oleh si kecil. Namun bila air ketuban tidak bermasalah dan tidak ada paparan zat lain maka ini tidak akan membawa dampak beracun meskipun air ketuban ibu terhirup oleh si buah hati.

Lain halnya, ketika air ketuban sudah tercampur bersama dengan mekonium atau kotoran bayi. Maka inilah yang kemudian disebut dengan Sindrom Aspirasi Mekonium yang perlu anda waspadai dengan baik.

Lebih jelasnya, keracunan air ketuban pada bayi hanya dapat terjadi apabila air ketuban yang tercampur dengan mekonium tersebut terhirup oleh bayi dan masuk ke dalam tubuhnya. Salah satu pemicu yang dapat membuat bayi mengeluarkan mekonium ketika ia masih ada di dalam kandungan diantaranya adalah stres yang terjadi pada bayi sebelum atau setelah proses melahirkan.

Sindrom Aspirasi Mekonium biasanya dialami oleh bayi yang lahir pada usia kehamilan cukup umur atau ia yang lahir lebih dari 42 minggu. Meskipun kondisi ini tidaklah terlalu mengancam jiwa akan tetapi penting diperhatikan dengan baik jika sindrom ini akan dapat mengakibatkan komplikasi kesehatan pada bayi. Bahkan risikonya akan berubah menjadi fatal apabila tidak segera ditangani dengan baik.

Apa Pemicu Sindrom Aspirasi Mekonium Pada Bayi?

Melihat dampak bahaya yang bisa ditimbulkan dari produksi mekonium yang dikeluarkan ketika bayi masih dalam kandungan. Maka penting sekali mengetahui faktor apa saja yang dapat memicu sindrom semacam ini terjadi.

Aspirasi Mekonium atau keracunan air ketuban pada bayi akibat mekonium dapat terjadi sebab bayi mengalami stres dan tekanan di dalam kandungan ibu. Salah satu kondisi yang dapat memicu bayi mengalami stress adalah ketika bayi tidak mendapatkan jumlah darah dan oksigen yang cukup ketika ia masih ada dalam kandungan. Selain itu, di bawah ini adalah beberapa pemicu yang membuat bayi mengalami stres ketika dalam kandungan.

  • Usia kehamilan lebih dari 40 minggu
  • Persediaan oksigen berkurang baik sebelum maupun selama proses persalinan.
  • Proses melahirkan yang memakan waktu lama, sulit dan panjang
  • Ibu dengan riwayat kesehatan tertentu pada saat hamil, seperti halnya tekanan darah tinggi (hipertensi) dan ibu yang punya penyakit diabetes gestasional.
  • Pertumbuhan janin di dalam kandungan yang terhambat.

Pada umumnya, mekonium pada tubuh bayi baru akan diproduksi menjelang persalinan tiba. Itulah mengapa kebanyakan kasus keracunan air ketuban akibat mekonium seringkali terjadi pada bayi yang lahir cukup umur atau bayi yang dilahirkan lewat dari usia kehamilan normal.

Apalagi dengan semakin lama usia kehamilan maka jumlah cairan ketuban pun semakin hari akan semakin surut. Nah, pada saat inilah bayi akan lebih berisiko mengalami keracunan air ketuban yang punya kandungan mekonium di dalamnya.

Cairan ketuban yang terkontaminasi dengan mekonium apabila terhirup atau terminum oleh bayi nantinya akan masuk ke dalam bagian paru-paru. kondisi ini dapat terjadi pada bayi yang masih ada dalam kandungan maupun ia yang sudah dilahirkan. Akan demikian. aspirasi mekonium jarang sekali menyerang bayi yang lahir secara prematur.

Mengenal Gejala Bayi yang Terkena Aspirasi Mekonium

Tidak semua bayi yang mengalami aspirasi mekonium atau keracunan air ketuban akibat mekonium menunjukkan gejala yang sama. Tiap bayi mungkin mengalami gejala yang berbeda. Adapun tanda yang paling umum yakni pernapasan bayi menjadi tidak karuan. Ia terkadang akan sangat cepat bernapas dan begitupun ketika menghembuskannya.

Pada beberapa bayi baru lahir, mungkin diantaranya sampai mengalami kesulitan dalam bernapas. Hal ini terjadi karena saluran pernapasan bayi tersumbat dengan mekonium yang masuk ke dalam tubuhnya. Selain beberapa gejala di atas, di bawah ini adalah beberapa gejala aspirasi mekonium yang mungkin ditunjukkan oleh bayi.

  • Napas berubah menjadi lebih cepat.
  • Terlihat adanya mekonium di dalam air ketuban saat bayi lahir.
  • Terdengarnya suara mendengus pada saat bayi menarik napas.
  • Air ketuban berubah warna menjadi agak gelap dan kehijauan.
  • Warna kulit bayi berubah menjadi berwarna kebiruan (sianosis).
  • Pernapasan terganggu dan bermasalah, karena susah bernapas dengan normal.
  • Tekanan darah bayi rendah.
  • Tubuh bayi nampak lemas.
  • Leher tampak turun saat bayi bernapas dan mengalami retraksi atau otot-otot dada

Bayi yang punya indikasi mengalami keracunan air ketuban akibat mekonium perlu segera ditangani dengan baik. Bahkan ia perlu segera dilahirkan ke dunia untuk kemudian mendapatkan penanganan medis guna membersihkan kontaminasi mekonium yang masuk ke dalam tubuhnya. Perlu diketahui bahwa mekonium yang ada dalam air ketuban untuk waktu yang lama akan dapat menyebabkan kulit dan kuku bayi berubah menjadi kuning.

Setelah bayi dilahirkan ke dunia sejumlah tindakan medis untuk membersihkan mekonium yang masuk ke dalam tubuh bayi akan dilakukan. Rangkaian ini biasanya dilakukan oleh dokter secara langsung atau oleh bidan yang menangani.

Apa Risiko Komplikasi yang Mungkin Terjadi dari Bayi yang Mengalami Keracunan Air Ketuban?

Pada kebanyakan kasus bayi yang mengalami aspirasi mekonium, jarang sekali mereka sampai mengalami komplikasi kesehatan jangka panjang. Namun demikian, keracunan air ketuban yang mengandung mekonium akan dapat berdampak secara langsung terhadap kesehatan bayi baru lahir.

Bayi yang mengalami aspirasi mekonium bukan tidak mungkin berdampak terhadap peradangan dan infeksi yang menyerang bagian paru-paru bayi dimana kondisi ini akan tentu menghambat bagian saluran pernapasannya. Bila kondisi ini terjadi, bagian paru-paru bisa mengembang,

Semakin ukuran paru-paru mengembang maka udara akan semakin banyak menumpuk di rongga dada dan sekitaran paru-paru. Dalam dunia medis kondisi ini dikenal dengan sebutan pneumotoraks dimana bayi selanjutnya akan kesulitan bernapas.

Selain kondisi tersebut, aspirasi mekonium pun dapat menyebabkan hipertensi pada bayi baru lahir atau pulmonary hypertension of the newborn (PPHN).Perlu diketahui bahwa PPHN adalah sebuah kondisi yang langka namun tidak akan sampai mengancam jiwa.

Hal ini dapat terjadi sebab tekanan darah tinggi yang ada pada bagian pembuluh di paru-paru membatasi aliran darah ke dalam tubuh. Sehingga kondisi ini membuat bayi mengalami kesusahan saat bernapas dengan nyaman.

Ancaman lain yang mungkin terjadi dari bayi yang mengalami aspirasi mekonium adalah komplikasi berupa terbatasnya suplai oksigen pada tubuh bayi menuju ke otak. Alhasil, suplay oksigen dalam jumlah minim ke otak inilah yang akan dapat menyebabkan kerusakan permanen pada bagian otak bayi.

Bagaimana Cara Mendiagnosa Adanya Aspirasi Mekonium Pada Bayi?

Salah satu cara paling awal untuk mengetahui bayi mengalami aspirasi mekonium atau tidak adalah dengan melihat adanya mekonium di dalam air ketuban bayi ketika ia pertama kali dilahirkan ke dunia. Bahkan biasanya sebelum dilahirkan, ada serangkaian tes dimana detak jantung bayi diamati dengan terus menerus. Bayi yang mengalami penurunan detak jantung ketika serangkaian monitoring ini dilakukan maka biasanya pihak medis akan langsung melihat adanya indikasi aspirasi mekonium pada air ketuban ibu.

Nantinya, apabila dokter menemukan adanya keracunan air ketuban akibat mekonium yang terjadi pada bayi maka dokter akan langsung melakukan laringoskopi. Tindakan ini adalah serangkaian prosedur pemeriksaan bagian pita suara, tenggorokan dan kotak suara (laring).

Tak hanya itu, dokter pun akan melakukan pendeteksian suara yang tidak normal pada bayi dengan menggunakan stetoskop yang nantinya ditempelkan pada bagian dada dan membiarkan si kecil bernapas seperti biasa. Bila ada suara yang tidak normal dan serak maka tindakan selanjutnya akan mungkin diambil.

Bayi yang mengalami aspirasi mekonium akan mungkin menampakan beberapa gejala yang khas setelah mereka dilahirkan. Meskipun sekilas tubuh mereka nampak baik-baik saja dan tidak ada keluhan yang terjadi. Namun dalam beberapa jam kemudian bayi akan dapat mengalami gangguan pernapasan yang parah dan hebat,

Selain prosedur laringoskopi dengan menggunakan stetoskop. Prosedur lain yang dilakukan untuk mengetahui adanya indikasi aspirasi mekonium pada  bayi dapat diketahui lewat pemeriksaan seperti:

  • X-ray atau rontgen dada. Pemeriksaan ini dilakukan guna melihat apakah terdapat zat asing yang masuk ke dalam bagian paru-paru bayi dengan lebih jelas.
  • Tes darah. Tes ini dilakukan guna mencari tahu seberapa banyak kadar oksigen dan karbon dioksida yang ada dalam tubuh bayi.

Seperti Apa Penanganan Aspirasi Mekonium Pada Bayi?

Bayi yang mengalami aspirasi mekonium bisa mendapatkan perawatan yang bervariasi. Dimana kondisi ini akan tergantung dari seberapa lama waktu keracunan air ketuban yang dialami oleh bayi, seberapa banyak jumlah mekoniumnya dan tingkat keparahan gangguan pernapasan yang dialami oleh bayi.

Adapun gambaran tentang perawatan aspirasi mekonium yang mungkin didapatkan oleh bayi diantaranya dapat anda simak di bawah ini.

Ketika Proses Persalinan

Mekonium dapat terlihat pada saat air ketuban ibu pecah menjelang proses persalinan. Indikasi ketuban yang sudah terkontaminasi dengan mekonium adalah warna hijau tua ketika cairan keluar dari jalan lahir. Bila kondisi ini terjadi, maka dokter dan tim medis akan terus memantau denyut jantung janin guna melihat tanda-tanda darurat yang dialami janin di dalam kandungan ibu.

Selain itu, dalam beberapa kasus, dokter mungkin meresepkan anda amnioinfusion. Obat ini adalah obat yang akan mengencerkan ketuban dengan larutan saline. Penggunaan prosedur ini punya fungsi untuk mencuci mekonium dari kantung ketuban sebelum si bayi bisa mengirupnya ketika ia lahir.

Prosedur ini biasanya dilakukan dengan cara menyisipkan tabung kecil ke bagian dalam rahim ibu melalui vagina. Nantinya, tabung tersebut bekerja dengan mengalirkan cairan steril agar bercampur dengan air ketuban yang sudah terkontaminasi dengan mekonium.

Setelah Bayi Dilahirkan

Sementara itu, bila bayi dinyatakan positif mengalami aspirasi mekonium maka ia perlu menjalani serangkaian penanganan untuk menghilangkan mekonium dari bagian saluran pernapasannya. Apabila bayi yang mengalami aspirasi mekonium namun tubuhnya masih nampak bayi-baik saja dengan detak jantung yang kuat sampai dengan 100 detik per menit (BPM), maka tim medis hanya akan mengamati kemungkinan munculnya gejala saja. Ketika nanti muncul gejala yang menandakan bahaya pada kesehatan bayi maka akan diberikan penanganan dengan segera.

Sementara untuk bayi baru lahir yang mengalami aspirasi mekonium dengan detak jantung per menit kurang dari 100 BPM dan tubuhnya menunjukkan gejala seperti lemas dan tidak berdaya maka perawatan akan langsung diberikan. Dokter biasanya menggunakan tabung untuk mengambil sejumlah mekonium yang masuk ke dalam tubuh bayi lewat hidung, mulut maupun tenggorokan bayi.

Dalam beberapa kasus ketika bayi sudah menunjukan gejala kesulitan bernapas yang hebat maka pemberian oksigen tambahan pada bayi akan menjadi pilihan yang tepat diambil untuk menangani kondisi ini. Oksigen tambahan akan diberikan lewat ventilator dan selang yang dimasukan melalui tenggorokan bayi.

Perawatan Lanjutan Untuk Bayi

Setelah penanganan utama diberikan pada bayi setelah ia dilahirkan. Maka selanjutnya bayi akan ditempatkan di unit perawatan khusus yang disebut dengan ruang neonatal intesive care unit (NICU) agar ia dapat ditangani secara intensif.

Adapun beberapa perawatan lanjutan yang diberikan pada bayi di ruang NICU diantaranya adalah:

  • Terapi oksigen guna memastikan kadar oksigen dalam darah bayi tercukupi dengan baik.
  • Pemberian penghangat tambahan untuk menjaga suhu bayi tetap hangat.
  • Penggunaan ventilator atau alat bantu pernapasan khusus untuk membantu bayi tetap dapat bernapas dengan nyaman.
Loading...