PerawatanBayi.com

Penyebab Batuk Pada Bayi – Batuk memang sering terjadi pada bayi ataupuan anak-anak. Hal ini dikarenakan batuk memang menjadi salah satu penyakit yang cukup rentan terjadi pada bayi. Untuk itu, penting bagi Anda untuk mengatahui penyebab batuk pada bayi beserta cara mengatasinya. Yuk kita langsung simak saja penjelasan kami berikut ini!

Batuk yang dialami oleh bayi tentunya akan membuat para orangtua menjadi sangat khawatir. Selain membuat kondisi kesehatan bayi buruk, batuk juga membuat bayi semakin rewel. Meskipun memang pada umumnya batuk yang terjadi pada bayi dapat berhanti dengan sendirinya, namun tetap saja batuk yang terjadi pada bayi jangan dianggap remeh. Orang tua memang sangat perlu untuk mengetahui akan penyebab dan juga cara mengatasi batuk pada bayi.

Batuk tentunya menjadi salah satu gejala yang menandakan adanya infeksi pada bakteri dan virus. Namun, penyebab batuk tentunya tergantung dari jenis batuk yang diderita oleh bayi. Hal ini tentunya orang tua dapat mengetahui lebih lanjut lagi akan jenis-jenis batuk yang terjadi pada bayi. Batuk pada bayi tentunya akan membuat tumbuh kembang bayi menjadi sangat terganggu bahkan menyebabkan adanya komplikasi pada pertumbuhan bayi Anda. Baca juga: Perhatikan Pola Makan Bayi Usia 6 Bulan Agar Tumbuh Dengan Baik

Penyebab Batuk Pada Bayi

penyebab batuk pada bayi

Batuk pada bayi tentunya tidak akan membuat bayi merasa tidak nyaman karena bayi dapat mengalami kondisi yang cukup berat. Batuk pada bayi tentunya dapat terjadi sesekali dan akan menunjukkan bahwa adanya satu penyakit tertentu. Batuk yang terjadi pada bayi tentunya berhubungan dengan kurangnya pertahanan tubuh bayi. Hal ini tentunya sistem imun yang melindungi tubuh dari lendir, infeksi dan juga penyebab iritasi masuk ke dalam tubuh sehingga menyebabkan bayi terserang batuk.

Batuk tentunya memang sangat menyiksa karena membuat bayi merasa tidak nyaman. Namun jika tidak dibatukkan, maka bakteri dan juga virus akan masuk ke dalam saluran pernapasan hingga lebih dalam lagi dan akan sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh bayi. Biasanya bayi dan juga anak-anak akan mengalai batuk selama beberapa hari bahkan berlangsung beberapa minggu jika terjadi batuk dalam kondisi yang cukup parah. Jika bayi mengalami batuk lebih dari 2-3 minggu, maka dapat dipastikan infeksi bakteri pada tubuh bayi sangatlah berbahaya. Alangkah baiknya jika Anda memeriksakan si kecil ke dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Berikut ini kami sajikan beberapa penyebab batuk pada bayi yang perlu Anda ketahui sehingga Anda dapat mendeteksi dan juga mencegahnya lebih dini, diantaranya:

Lihat juga: 10+ Bahaya Air Putih Bagi Bayi Yang Jarang Diketahui Oleh Moms

Batuk Akut Pada Bayi

Penyebab batuk pada bayi tentunya dapat berlangsung hingga dua minggu. Pada umumnya, bayi yang mengalami batuk akut disebabkan oleh infeksi virus yang terjadi pada saluran pernapasan atas seperti common cold (batuk pilek biasa). Penyebabb batuk pada bayi ini tentunya ditandai dengan batuk berdahak atau kering, hidung meler, dan juga disertai dengan demam.

Pada bayi dan juga anak-anak tentunya bisa terkena demam dengan delapan macam infeksi virus pernapasan sehingga menimbukan gejala berupa pilek dan juga batuk setiap tahunnya. Kondisi ini tentunya berlangsung hingga sekitar 10 hari. Meskipun tanpa diobati, namun batuk pada bayi dan juga anak-anak dapat sembuh dengan sendirinya. Batuk yang terjadi pada anak-anak tentunya dapat ditangani dengan beberapa cara seperti istirahat yang cukup, makanan dan penuhi cairan bayi dengan memberikannya ASI serta memberinya parasetamol jika gejala batuk pilek pada anak disertai dengan demam.

Batuk Kronis Pada Bayi

Batuk kronis tentunya berlangsung dalam jangka waktu yang sangat panjang sehingga akan terjadi gejala batuk yang berulang-ulang. Pada jenis batuk ini tentunya dapat disebabkan oleh beberapa penyebab lain yang tentunya termasuk ke dalam beberapa penyakit serius, diantaranya:

Penyakit Hidung dan Sinus

Penyebab batuk kronis yang pertama dapat terjadi karena adanya penyakit hidung dan juga sinus. Perlu kita tahu bahwa postnasal drip ialah mengalirnya lendir atau ingus dari hidung ke tengggorokan. Gejala ini tentunya dapat terjadi karena disebabkan oleh infeksi sinus (sinusitis) dan juga rhinitis. Sebagai dampaknya terjadilah batuk yang terus menerus (batuk kronis) yang terjadi pada bayi dan juga anak-anak.

Infeksi Bakteri

Penyebab batuk yang terjadi pada bayi dan juga anak-anak memang dapat disebabkan oleh adanya infeksi virus. Bisa saja meskipun bayi dan juga anak-anak sudah sehat, namun tetap saja dibutuhkan beberapa pengobatan lanjutan dan juga terapi khusus agar si kecil bisa sembuh dengan cepat. Batuk juga terkadang dapat terjadi dan dapat menginfeksi saluran pernapasan bagian bawah pada bayi. Hal ini tentu menyebabkan bayi terkena batuk dan juga iritasi. Tentu saja, ini sangat sulit untuk Anda ketahui, namun ketika bayi dan juga anak-anak mengalami batuk berdahak yang tidak kunjung sembuh bahkan disertai dengan demam, tentu segeralah periksakan diri Anda ke dokter anak untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut lagi.

Infeksi Virus

Penyebab batuk pada bayi yang selanjutnya ialah adanya infeks bakteri yang terjadi pada saluran pernapasan dan bisa jadi juga anak-anak yang sehat akan mengalami batuk yang berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama hingga berminggu-minggu. Akan tetapi, Anda jangan khawatir karena kondisi ini tidak membutuhkan terapi khusus yang tentu bisa sembuh dengan sendirinya. Dalam hal ini obat batuk dapat bekerja menekan batuk sehingga terkadang tidak bekerja dengan efektif pada bayi dan juga anak-anak. Namun langkah ini juga terkadang tidak berjalan dengan sangat efektif.

Inhalasi Benda Asing

Dalam hal ini benda asing juga bisa menjadi salah satu penyebab batuk pada bayi dan juga anak-anak. Benda asing di sini tentunya berhubungan dengan benda sehari-hari yang seirng dipegang oleh si kecil seperti mainan dan juga makanan. Beberapa benda tentunya dapat menjadi sarang bakteri dan juga virus. Usia anak yang paling sering tentunya terjadi pada usia 2-4 tahun. Hal ini tentunya dapat menyebabkan batuk berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama hingga terjadi berminggu-minggu hingga berbulan-bulan lamanya.

Kebiasaan Batuk

Mungkin dapat dibilang kebiasaan karena si kecil mengalami batuk yang terus menerus. Hal ini tentunya dapat dipicu oleh batuk yang dialami oleh si kecil sebelumnya. Jenis batuk ini tentunya bisa terjadi secara berulang-ulang dan juga kering. Jika kita amati lebih lanjut lagi, kebiasaan buruk ini tentunya dapat terjadi ketika anak sedang terjaga dalam tidurnya.

Masalah lambung

Penyebab ini tentunya disebabkan oleh adanya cairan lambung yang dapat bergerak naik kembali ke tenggorokan. Kondisi ini tentunya dapat terjadi sebagai refluks atau terjadi secara diam-diam tanpa adanya sakit pada bagian perut. Mungkin pada beberapa anak kondisi tersebut akan memiliki suara serak dan juag tersedak. Untuk menentukah apakah penyebab batuk dapat dialami oleh si kecil, maka tentunya diperlukan bantuan tenaga profesional agar tidak terjadi kesalahan saat diagnosa.

Asma

Asma memang kerap dialami oleh bayi dan juga anak-anak. Asma tentunya dapat terjadi pada peradangan di saluran pernapasan pada paru-paru. Hal ini tentunya membuat saluran pernapasan menjadi sangat sempit dan juga seringkali menimbulkan gejala yang dikenal dengan istilah mengi. Namun, tentunya gejala asma pada bayi dan juga anak-anak dapat dipicu oleh infeksi bakteri dan juga virus ketika si kecil sdnag tertidur atau mungkin juga dipicu dengan aktivitas fisik atau udara dingin. Tentunya, ketika Anda mendengar nafas bayi yang mengi, alangkah baiknya jika Anda mengunjungi dokter untuk memdapatkan penanganan dan mengetahui diagnosisnya.

Cara Meringankan Batuk Pada Bayi

Tentunya saat ini banyak sekali beragam cara pengobatan yang bsia dijalankan untuk mengatasi batuk pada bayi. Namun tetap saja Anda harus benar-benar waspada, jangan sampai Anda sembarang dalam memberikan obat kepada di kecil yang justru akan berdampak buruk pada tubuh Anda. Alangkah baiknya jika Anda berkonsultasi terlebih dahulu kepada dokter yang memang sangat ahli dibidangnya.

Terlepas kemungkinan adanya risiko dan juga efek samping dari pengobatan yang dilakukan. Pada bayi yang berusia di bawah enam tahun tentunya memang sangat disarankan untuk diberikan obat batuk ataupun pilek. Beberapa langkah alami yang bisa Anda lakukan untuk meringankan batuk pada si kecil diantaranya:

– Berikan ASI lebih banyak untuk membantu tubuh melawan infeksi yang disebabkan oleh berbagai virus dan juga bakteri

– Penuhilah kebutuhan beristirahat pada bayi dan juga anak-anak setiap harinya

– Jika bayi mengalami demam, tentunya Anda dapat memberikan obat pereda demam yang dibuat khusus untuk bayi dengan dosis dan juga takaran yang tepat.

– Penanganan batuk pada bayi tentunya dapat memanfaatkan uap panas di dalam ruangan untuk membantu melegakan saluran pernapasan. Pastikan juga Anda menjaga bayi saat menghirup uap agar tidak terluka.

Bagaimanapun juga pengobatan yang dilakukan pada bayi dan juga anak-anak diperlukan pengobatan khusus terutama jika batuk tersebut tidak hilang dalam waktu satu atau dua minggu. Pengobatan untuk setiap jenis batuk tentunya berbeda-beda tergantung dari apa penyebab dari batuk tersebut. Sebagai contohnya, untuk batuk berdahak diperlukan obat batuk khusus yang memiliki fungsi untuk mengencerkan dahal seperti guafenesin, ambroxol, dan juga OBH. Di samping itu tentunya diperlukan antialergi, antibiotik, pelega sesak dan lain-lain.

Pada batuk bayi yang terjadi dalam waktu dua minggu tentunya dianggap sebagai batuk kronis yang mungkin dapat pula disebabkan oleh rhinitis alergi (hay fever), asma, refluks dan juga penyebab lainnya. Untuk kondisi ini tentunya Anda harus segera memeriksakan diri ke dokter untuk mendapatkan pengobatan lebih lanjut dengan cepat dan juga tepat.

Mengenali Adanya Tanda-Tanda Bahaya Pada Batuk Bayi

Tentunya, ada beberapa tanda bahaya pada bayi yang tentu disebabkan oleh reaksi alami pada tubuh. Ada beberapa tanda yang tentu dapat Anda kenali jika batuk pada bayi disertai dengan ciri-ciri seperti yang akan kami sajikan di bawah ini:

– Bayi yang tadinya sering menyusu, jika ia tiba-tiba menolak untuk menyusu, maka dapat dipastikan hal ini cukup berbahaya. Bisa jadi bayi mengalami dehidrasi yang dapat Anda cek dengan melihat popoknya. Pada bayi yang normal tentunya bayi akan biang air kecil setiap enam jam sekali, jika dibawah itu, maka segeralah konsultasikan ke dokter anak.

– Batuk tentunya dapat menyebabkan bayi muntah

– Bayi mengalami demam tinggi dan akan berlangsung lebih dari tiga hari dan pada bayi yang berusia di bawah tiga bulan. Pada bayi yang di atas usia tersebut tentunya harus lebih diwaspadi jika memang demam bayi mencapai 39 derajat celsius atau lebih.

– Sesak napas pada bayi juga dapat diketahui dengan adanya suara tertentu ketika si kecil sedang menarik nafas atau mengeluarkan suara yang cukup keras ketika ia sedang tidur.

– Bayi tentunya tampak pucat dan juga kebiruan.

– Dahak pada bayi tentunya berwarna kuning, hijau dan juga kecokelatan.

Selain itu, beberapa tanda bahaya tersebut dapat menjadi indikasi adanya penyakit tertentu di dalam tubuh. Dalam hal ini bayi yang berusia dibawah 5 tahun memiliki risiko yang cukup tinggi untuk terkena difteri. Untuk itu, memang sangat penting bagi Anda untuk mencegah adanya infeksi yang cukup berat dan juga dapat mengancam nyawa si kecil. Dalam menangani batuk tentunya Anda harus berkonsultasi dengan tenaga kesehatan dan juga media dengan tepat karena diagnosa ini sangat penting bagi kesehatan tubuh bayi.

Menjaga bayi agar tidak terkena batuk memang terbilang cukup susah. Hal ini tentunya berhubungan dengan sistem imunitas tubuh bayi. Jika bayi tidak mendapatkan penanganan lebih lanjut ketika sedang batuk, maka tentunya bisa berbahaya bagi tumbuh kembang si kecil. Demikianlah beberapa penyebab batuk pada bayi dan juga cara meringankan serta tanda-tanda bahaya yang dapat timbul jika batuk bayi berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama. Semoga bermanfaat!

Pola Makan Bayi Usia 6 Bulan – Bayi usia 6 bulan memang muali dikenalkan akan Makanan Pendamping ASI (MPASI). Usia ini memang dianjurkan bagi bayi untuk mulai menerima makanan padat selain dari ASI. Namun, ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh para ibu ketika memberikan MPASI. Hal ini berkaitan dengan pola makan bayi usia 6 bulan. Berikut kami sajikan bagaimana mengatur pola makan bayi usia 6 bulan yang paling tepat untuk Anda!

Apakah bayi Anda sudah siap untuk menerima makanan padat selain dari asupan ASI? Apakah Anda juga siap untuk memberikan asupan makanan padat yang terbaik untuk si kecil? Atau memang Anda sudah siap menyiapkan segala sesuatunya untuk memberikan MPASI bagi si kecil? Pertanyaan tersebut tentunya wajib diajukan pada ibu yang memiliki bayi usia 6 bulan yang tentu sudah seharusnya diberikan makanan padat.

Terlepas dari hal tersebut tentunya sebagian besar ibu memang sangat antusias untuk menyiapkan berbagai jenis makanan padat untuk si kecil ketika mulai menginjak usia 6 bulan. Dalam hal ini tentunya perkembangan bayi usia 6 bulan terutama pada saluran pencernaan memang sudah siap diberikan makanan padat. Jangan sampai Anda memberikan makanan padat ketika si kecil belum genap usia 6 bulan. Hal ini dikarenakan usia dibawah 6 bulan belum siap menerima jenis makanan padat. Baca juga: 10+ Bahaya Air Putih Bagi Bayi Yang Jarang Diketahui Oleh Moms

Pola Makan Bayi Usia 6 Bulan

pola makan bayi usia 6 bulan

Ketika si kecil sudah menginjak usia 6 bulan, memang sangat penting bagi Anda untuk menyiapkan jenis makanan padat untuk diberikankan kepada si kecil. Bagaimanapun juga, usia 6 bulan tentunya gerakan motorik dari bayi sudah berkembang dengan sangat baik. Bahkan mereka sudah dapat memegang apapun dengan jari-jari mungilnya, tidak terkecuali makanan.

Meskipun begitu, tentunya Anda harus memperhatikan beberapa hal yang tentu menunjang dalam pemberian makanan padat bagi si kecil.  Hal ini dikarenakan bayi usia 6 bulan membutuhkan perhatian ekstra. Untuk itu, diperlukan pola makan bayi usia 6 bulan yang paling tepat dan paling direkomendasikan untuk Anda. Dalam mengatur pola makan bayi usia 6 bulan tentunya ada beberapa poin yang harus Anda garisbawahi diantaranya jadwal makan bayi, berapa kebutuhan susu bagi bayi, jenis makanan padat yang dianjurkan untuk bayi dan juga bagaimana tekstur makanan padat bagi bayi. Lihat juga: Perkembangan Bayi Usia 15 Bulan Secara Lengkap

Jadwal Makan Bayi

Dalam pola makan bayi, poin pertama yang akan kami bahas ialah emngenai jadwal makan bayi yang biasa diabaikan oleh para ibu. Sebagain besar para ibu bahkan tidak menghiraukan kapan waktu yang tepat yang sebenarnya untuk bagi dalam menerima makanan padat. Mereka cenderung memberikan bayi makan sesuka hati dan tidak terjadwal. Namun ternyata ada beberapa poin yang harus diperhatikan bagi Anda sebagai ibu dalam memberikan makanan padat pada bayi.

Rincian dalam memberikan makan pada bayi di bawah ini, seyogianya dapat membantu Anda dalam memberikan makan padat pada bayi.

Jam 06.30

Pada jam ini, biasanya bayi bangun tidur, meskipun ada beberapa bayi yang sudah bangun dari jam 04.00. Pada jam ini tentunya Anda bisa memberikan si kecil ASI ataupun susu formula selama yang ia mau. Hal ini dikarenakan sesudah tidur bayi akan kekurangan cairan yang dibutuhkannya ketika ia sedang tidur. Cairan tersebut tentunya berasal dari ASI yang telah dibuang dalam bentuk air kencing atau keringat.

Jam 07.45

Setelah bayi diberikan ASI atau susu formula, tentu ini saatnya bagi Anda untuk memberikan MPASI dengan tekstir semi padat artinya tidak terlalu padat dan juga tidak terlalu cair. Anda dapat memberikan makanan semi padat ini sebagai sarapan untuk si kecil. Memberikan makanan semi padat bagi si kecil tentunya akan membuat perut bayi menjadi lebih nyaman dan juga kenyang.

Jam 08.30

Pada jam ini pada umumnya bayi akan merasa kenyang. Inilah saatnya bagi Anda untuk memandikan si kecil. Setelah itu berikan ASI atau susu formula untuk si kecil. Tentunya, Anda bisa mengajak si kecil untuk tidur dan biasanya bayi akan tidur selama 1 jam.

Jam 10.00

Pada umumnya bayi akan bangun. Anda tentunya dapat memberikan si kecil ASI atau susu formula kembali. Pada jam segini tentunya bayi akan menerima ASI atau susu formula seperti ketika orang dewasa mengonsumsi cemilan.

Jam 11.30

Setelah memberikannya ASI, biasanya si kecil akan bermain dan ajaklah si kecil untuk bermain. Jika bayi sudah merasa cape, tentunya ia akan kembali tidur antara 30 sampai 45 menit setelah ia menerima ASI atau susu formula dari ibunya.

Jam 13.00

Pada jam ini, biasanya bayi akan bangun dan tentunya Anda harus memberikannya ASI atau susu formula untuk mengembalikan cairan yang telah dibuang ketika sedang tidur berupa air kencing dan juga keringat. Inilah saatnya bagi bayi untuk menerima jenis makanan semi padat kembali.

Jam 14.00

Pada jam ini tentunya bayi akan mengajak Anda bermain dalam waktu yang cukup lama. Di sela-sela jam ini tentunya Anda bisa memberikannya ASI atau susu formula.

Jam 15.00

Pada umumnya bayi akan merasa ngantuk setelah berlama-lama bermain dengan Anda. Ketika jam ini biasanya bayi akan tidur sebelum mandi.

Jam 16.30

Pada jam ini pada umumnya waktunya bagi bayi untuk mandi atau ada juga orang tua yang lebih memilih untuk memberikan bayi makanan padat sebagai makan makan.

Jam 17.00

Sebagian besar orang tua lebih memilih untuk memberikan makanan semi padat bagi bayi pada jam ini. Hal ini tentunya untuk menyiapkan perut bayi kenyang dan penuh sebagai bekal untuk malam hari.

Jam 17.30

Pada jam ini tentunya Anda bisa mengajak si kecil untuk bermain sebentar sebelum akhirnya ia mulai mengantuk dan juga tidur. Sebagian besar bayi akan tidur pada jam ini, namun tidak sedikit juga bayi yang akan tidur pada jam selanjutnya.

Jam 19.00

Inilah saatnya bagi bayi untuk tidur di malam hari. Anda tentunya bisa memberikan ASI ataupun susu formula agar bayi bisa tidur lebih nyenyak di malam hari.

Bayi yang sudah masuk usia 6 bulan tentunya akan merasa lebih puas karena bayi sudah diberikan makanan semi padat. Akan tetapi, tidak semua bayi memiliki karakter yang sama. Banyak sekali bayi yang meminta ASI dan juga susu formula selama 1-2 kali ketika malam hari.

Kebutuhan Susu Bayi Usia 6 Bulan

Pada bayi usia 6 bulan tentunya si kecil sudah membutuhkan sekitar 24 sampai 32 ons susu. Tentunya, Anda direkomendasikan untuk memberikan ASI ataupun susu formula sebanyak 5 hingga 6 kali. Di usia 6 bulan tentunya bayi tetap membutuhkan ASI karena akan memberikan manfaat yang cukup bagi perkembangan bayi. Hal ini dikarenakan ASI memang memberikan manfaat yang luar biasa. Selain ASI, tentunya si kecil dapat diberikan susu formula jika memang si kecil tidak memungkinkan untuk diberikan ASI.

Biasanya, usia 6 bulan sudah dapat diberikan susu formula sebagai susu pendamping dari ASI. Hal ini dikarenakan usia 6 bulan memang tidak cukup jika hanya diberikan ASI. Selain itu, pemberian ASI secara eksklusif selama 6 bulan sudah terlewati dan Anda sudah bisa memberikan susu formula. Hal ini dikarenakan susu formula sudah dapat mengurangi rasa lapar yang tentu sesuai dengan kebutuhan bayi.

Jika usia si kecil sudah genap usia 6 bulan tentunya saatnya bagi si kecil untuk mendapatkan MPASI berupa makanan semi padat. Setelah diberikan makanan padat, biasanya bayi sudah tidak terlalu antusias dengan susu. Mereka akan lebih menginginkan air putih, namun tentunya hati-hati dalam pemberian air putih karena jika terlalu banyak akan sangat berbahaya bagi si kecil. Alangkah baiknya jika Anda hanya memberinya ASI atau susu formula karena di dalam susu formula sudah mengandung banyak air. Jikalau ingin diberikan air putih, tentunya berikanlah air putih dalam porsi yang sedikit. Tidak dapat dipungkiri pula bahwa pola makan setiap bayi memang berbeda.

Tekstur Makanan Padat Bayi Usia 6 Bulan

Tekstur jenis makanan padat tersebut tentunya harus disesuaikan dengan kemampuan motorik usia bayi. Di awal perkenalan, tekstur MPASI tentunya dapat dibuat puree. Hal ini dikarenakan puree menjadi salah satu jenis makanan bayi yang paling direkomendasikan bagi si kecil. Dalam membuat puree ini tentunya Anda dapat diperoleh dengan menggunakan blender, menggunakan over processor atau juga dihancurkan dengan sendok.

Penggunaan blender tentunya dapat membuat tekstur MPASI sangat cair karena membutuhkan asupan air lebih banyak. Seperti yang dianjurkan oleh World Health Organization (WHO) bahwa pembuatan makanan dengan tekstur yang terlalu kental dan tidak terlalu cair memang sangat direkomendasikan. Jika tekstur makanan bayi terlalu kenyal tentunya bisa membuat bayi kesulitan untuk memakannya. Sebaliknya juga, jika tekstur makanan bayi terlalu cair, maka akan membuat kebutuhan nutrisi harian si kecil menjadi sangat sedikit.

Untuk mengeceknya, tentunya Anda dapat memiringkan sendok yang berisi bubur atau puree bayi. Jika tidak jatuh ketika sendok dimiringkan, maka sudah dipastikan tekstur bayi sesuai dengan harapan kita. Tentunya, ini akan membuat bayi menjadi lebih mudah dalam mengonsumsi makanan semi padat dan akan mudah diproses di dalam pencernaannya. Bagaimanapun juga, sistem pencernaan bayi masih belum stabil dan juga kuat dalam mencerna makanan.

Jenis Makanan Padat Bagi Bayi Usia 6 Bulan

pada bayi usia 6 bulan tentunya jangan sampai diberikan makanan padat seperti orang dewasa. Bayi memang masih sangat mengenal dan juga beradaptasi dengan berbagai jenis makanan semi padat ataupun padat yang akan ia konsumsi. Beberapa jenis makanan padat yang Anda berikan, diantaranya:

– Bubur

Jenis bubur yang biasannya diberikan diantaranya bubur beras merah, bubur bayi, bubur tepung dan juga sereal. Semua jenis makanan semi padat tersebut tentunya memang sangat direkomendasikan bagi si kecil. Bagaimanapun juga, jenis semua jenis bubur bayi tersebut memang sangat dikhususkan bagi bayi. Tentunya, ada beberapa jenis bubur bayi yang dapat Anda beli dan banayk beredar di supermarket. Jenis bubur bayi tersebut tentunya diperkaya dengan rasa dan juga nutrisi tambahan serta lebih praktis bagi kita dalam menyajikannya.

Akan tetapi, jika Anda lebih memilih membuatnya sendiri untuk si kecil, maka dapat dipastikan gizi dan juga nutrisi yang ada di dalam bubur bayi tersebut lebih banyak dibandingkan dengan produk yang kita beli. Hal yang perlu Anda perhatikan pastikan bahwa bubur bayi yang akan Anda buat sudah lunak dan juga lembut setelah dimasak. Mungkin dnegan membaut sendiri Anda akan sedikit lebih repot, namun tentunya manfaat yang akan kita dapatkan juga akan lebih banyak

– Sayuran

Jenis makanan kedua yang direkomendasikan untuk bayi ialah sayuran. Bayi usia 6 bulan tentunya sudah bisa dikenalkan dengan berbagai jenis sayuran yang memiliki rasa manis atau yang bisa dimasak dengan lunak. Untuk membuat jenis makanan untuk bayi usia 6 bulan tentunya Anda dapat mencampurkan bayam dan juga wortel ketika dimasak menjadi bubur. Akan tetapi, pastikan semua jenis makanan tersebut sudah sangat lunak dan lembut.

– Buah-buahan

Selain sayur, jenis buah-buahan juga dapt diberikan pada bayi usia 6 bulan. Namun, tidak semua jenis buah-buahan dapat diberikan pada bayi usia 6 bulan. Jenis buah-buahan seperti alpukat dan juga pisang tentu sangat direkomendasikan bagi Anda. Bagaimanapun juga, kedua jenis buah-buahan ini memang sangat lunak dan juga lembut untuk diberikan kepada si kecil. Sehingga si kecil bisa dengan mudah mengunyah dan juag menelannya. Pastikan Anda untuk mulai mengenalkan buah dengan rasa manis, bukan asam. Anda tentu dapat menghaluskan buah-buahan tersebut dengan menggunakan blender atau dihaluskan dengan sendok.

Alasan Mengapa Harus Memberikan Makanan Semi Padat Bagi Bayi

Memang menjadi salah satu hal yang perlu Anda pertimbangkan dimana Anda harus memberikan makanan semi padat bagi bayi. Tentunya, hal tersebut bukan tanpa alasan, melainkan ada beberapa poin penting mengapa bayi usia 6 bulan harus diberikan jenis makanan semi padat seperti yang akan kami sajikan berikut ini:

  1. Meskipun ASi memang sangat penting bagi bayi usia 6 bulan dan memiliki fungsi untuk menjaga sistem kekebalan tubuh dengan sangat baik. Tentunya bagi bayi usia 6 bulan sudah harus mulai dikenalkan pendamping ASI. Hal ini dikarenakan perut bayi sudah mulai membesar dan lebih membutuhkan asupan makanan lain selain dair ASI. Jika Anda sudah mulai mengenalkan makanan semi padat pada bayi usia 6 bulan, maka Anda sudah bisa membantu bayi dalam mengatasi deteksi terhadap alergi ataupun penyakit gangguan pencernaan.
  2. Pemberian makanan semi padat untuk bayi usia 6 bulan, tentunya sedikitnya dapat membantu bayi dalam mengurangi risiko terhadat anemia. Bagaimanapun juga, hal ini disebabkan oleh bayi yang memang sudah mulai membutuhkan zat besi yang lebih tinggi dari usia sebelumnya. Zat besi memang sangat dibutuhkan bagi bayi untuk mendukung perkembangan fisik dan juga sistem metabolisme di dalam tubuh bayi.
  3. Jika Anda mengenalkan makanan semi padat kepada bayi yang mengandung gluten sejak awal. Hal ini tentunya sangat memungkinkan bagi bayi untuk bisa memiliki sistem pencernaan yang lebih baik nantinya. Bayi diharuskan untuk diberikan makanan semi padat, namun bukan jenis makanan seperti pada orang dewasa.
  4. Pada umumnya, bayi memang sangat dikenalkan untuk diberikan makanan semi padat sejak awal. Namun, Anda harus mempunyai perlindungan yang cukup tinggi. Tentunya dalam hal kadar gula dan juga garam yang harus seimbang. Jangan sampai bayi diberikan bumbu berlebih yang dapat memicu berkembangnya penyakit diabetes dan juga gangguan pencernaan.

Tanda Ketika Bayi Sudah Siap Diberi Makanan Semi Padat

Dalam memberikan makanan padat bagi bayi tentunya Anda jangan sembarang. Ada beberapa kriteria atau tanda jika si kecil sudah siap untuk menerima jenis makanan semi padat. Meskipun si kecil sudah berusia 6 bulan, belum tentu mereka sudah siap untuk diberikan makanan padat. Dibawah ini ada beberapa tanda yang bisa Anda kenali jika bayi usia 6 bulan sudah siap untuk meneriman jenis makanan padat, diantaranya:

Kepala bayi sudah tegak

Bayi sudah mulai menegakkan kepala dengan sangat baik tanpa perlu dibantu oleh orang dewasa. Ini tentunya menandakan bahwa saluran pencernaan bagian atas sudah bisa bekerja dengan sangat baik dan dapat menelan jenis makanan semi padat tanpa adanya masalah apapun.

Duduk semi tegak

Setelah kita memastikan bahwa kepala bayi sudah tegak, maka pastikan bayi sudah dapat duduk semi tegak ketika ia bersandai di kursi. Kemampuan pada bayi ini tentunya ada pada bagian punggung dan juga perut. Ini tentunya sudah dapat berkembang dengan sangat baik sehingga bayi sudah bisa menerima jenis makanan semi padat. Jika bayi sudah dapat duduk semi tegak tentunya ini menjadi salah satu indikasi bahwa organ pencernaan si kecil sudah sangat siap untuk menerima janis makanan semi padat dan juga padat.

Bayi tertarik dengan makanan

Ini tentunya menjadi salah satu indikasi utama dimana bayi sudah mulai tertarik dengan makanan. Apapun yang dimakan oleh orang dewasa tentunya menarik perhatian si kecil. Selain ASI dan juga susu formula tentunya bayi sudah menginginkan jenis makanan lain. Jika Anda mendapati sikap si kecil seperti ini tentunya Anda bida mencoba memberikan jenis makanan padat di depan bayi. ketika bayi membuka mulut atau memegang makanan dan memasukkan kepada mulutnya, ini tentu bisa menjadi tanda bahwa si kecil sudah siap untuk diberikan jenis makanan semi padat. Satu hal yang harus Anda perhatikan tentunya jangan memberikan jenis makanan padat pada bayi jika memang bayi belum siap dan belum tertarik pada makanan.

Bayi sudah bisa menelan

Satu hal yang pasti, jika bayi sudah diberikan jenis makanan semi padat, maka bayi akan berusaha untuk mengunyah dan juga menelan makanan tersebut meskipun belum memiliki gigi. Meskipun belum memiliki gigi, tapu si kecil akan berusaha menelan dengan sangat baik tanpa merasa kesulitan ataupun tersedak.

Setelah kita mengetahui beberapa tanda bahwa si kecil sudah siap untuk mendapatkan jenis makanan semi padat. Tentu, ini menjadi waktu yang paling tepat bagi Anda untuk memberikan jenis makanan semi padat kepada si kecil.

Bagaimanapun juga, pola makan si kecil usia 6 bulan harus benar-benar dijaga dengan sangat baik. Pastikan juga untuk memberikan jenis makanan yang paling tepat. Pola makan bayi usia 6 bulan menjadi awal dari adanya perubahan dari jenis makanan untuk bayi. Ini tentunya menjadi tugas seorang ibu dalam mengatur jenis makanan dan juga pola makan untuk si kecil. Jika tidak diatur sejak dini tentunya akan berdampak pada pola makan ketika ia sudah mulai menginjak anak-anak.

Demikianlah beberapa hal yang perlu Anda ketahui mengenai pola makan bayi usia 6 bulan dan juga jenis makanan semi padat yang direkomendasikan untuk si kecil. Semoga bermanfaat!

Bahaya Air Putih Bagi Bayi – Air putih memang menjadi salah satu asupan yang paling penting bagi tubuh manusia. Namun, hal ini berbeda jika diberikan kepada bayi yang tentunya akan memberikan dampak yang cukup buruk. Lantas, apa dampak dan bahaya air putih bagi bayi? Yuk kita langsung simak saja pemaparan kami berikut ini!

Tidak dapat dipungkiri bahwa air putih memang menjadi air yang dinilai sangat penting dan juga bermanfaat bagi kesehatan tubuh manusia. Bagaimanapun juga, air putih memang berfungsi untuk menjaga dan meningkatkan kekebalan tubuh terhadap berbagai serangan bakteri dan juga penyakit. Air yang terbilang sangat murah dan juga mudah untuk didapatkan ini memang tidak dapat diragukan lagi akan khasiatnya bagi tubuh.

Akan tetapi, sepenting apapun air putih tentunya bisa juga memberikan dampak yang cukup buruk, terlebih bagi bayi. Mengapa air putih berbahaya bagi bayi? Tentunya hal ini berkaitan dengan berbagai organ yang ada di dalam tubuh bayi. Hal ini karena organ bayi masih sangat rentan untuk menerima zat asing untuk masuk ke dalam tubuhnya. Lantas, apa bahaya air putih bagi bayi? Baca juga:Perkembangan Bayi Usia 15 Bulan Secara Lengkap

Bahaya Air Putih Bagi Bayi

bahaya air putih bagi bayi

Air putih bagi bayi mungkin tidak begitu berkhasiat dan juga penting untuk sistem metabolisme tubuh. Ini tentunya juga berkaitan dengan fungsi organ yang belum bisa dan stabil dalam menerima asupan lain meskipun itu berupa cairan. Tentunya, ini sangat penting bagi kita untuk mengetahui apa bahaya air putih bagi bayi. Hal ini bertujuan untuk menghindari kemungkinan yang bisa terjadi pada bayi karena diberi asupan air putih. Berikut kami sajikan beberapa bahaya air putih bagi bayi, diantaranya:

Imun bayi belum siap

Bahaya pertama yang mungkin dapat terjadi pada bayi dikarenakan sistem imun tubuh bayi belum siap. Bagaimanapun juga, air putih dapat mengganggu kekebalan tubuh bayi. Hal ini dikarenakan tubuh bayi belum siap menerima zat berupa cairan kecuali ASI. Jika bayi terpaksa menerima asupan cairan selain ASI secara terus menerus. Besar kemungkinan tubuh bayi akan mudah terserang penyakit demam.

Lihat juga: Susu Formula Menyebabkan Bayi Obesitas, Benarkah?

Ginjal bayi belum siap

Bahaya kedua yang mungkin sangat mudah untuk kita sadari ialah bahwa ginjal bayi belum siap untuk menerima cairan. Dalam hal ini pemberian air putih secara berlebihan memang sangat tidak cocok bagi bayi terutama usia 0-6 bulan. Bagaimanapun juga, rentang waktu usia tersebut, ginjal bayi memang belum terbentuk secara sempurna. Masuknya air putih ke dalam tubuh bayi tentunya akan mengeluarkan banyak sodium serta dapat memperburuk kinerja otak dan akan memicu suhu tubuh menjadi lebih rendah. JIka terus dibiarkan, maka kondisi ini akan menyebabkan tubuh bayi mudah terserang penyakit kejang-kejang.

Perkembangan tubuh bayi terhambat

Selain fungsi ginjal yang belum stabil, pemberian air putih bagi bayi juga dapat membuat perkembangan bayi menjadi lebih terhambat. Terlebih air putih yang sudah terkontaminasi bakteri dapat membuat perkembangan bayi tidak ada peningkatan justru cenderung telat mengalami perkembangan. Tidak heran juga jika bobot bayi cenderung terus menurun. Kondisi ini tentunya dapat menimbulkan kurangnya asupan nutrisi dari ASI jika memang bayi diberi asupan air putih.

Ketidakseimbangan elektrolit

Bahaya air putih bagi bayi selanjutnya yakni dapat menyebabkan ketidakseimbangan elektrolit. Hal ini dapat membuat elektrolit di dalam tubuh bayi menjadi lebih kacau dan juga dapat memperburuk penyerapan ASI yang merupakan asupan nutrisi terpenting bagi tubuh bayi usia 0-6 bulan. Utuk itu, janganlah memberikan asupan cairan selain ASI karena dapat membuat elektrolit tubuh bayi tidak seimbang.

Menyebabkan demam dan kejang otot

Jika air putih diberikan kepada bayi secara terus menerus tentunya dapat menyebabkan bayi deman dan juga kejang otot. Pada bayi usia 0-6 bulan, kondisi ini dapat memicu juga keracunan intoksikasi yang tentunya dapat terjadi gejala cerebral palsy pada bayi.

Menyebabkan diare

Bahaya selanjutnya yang dapat berbahaya bagi bayi yakni air putih dapat menyebabkan diare pada bayi. Bagaimanapun juga, air putih yang terinfeksi kuman dan juga jamur dapat membuat kondisi air kurang higienis sehingga dapat menyebabkan diare pada bayi, demam tinggi dan juga mual-mual.

Menyebabkan perut kembung pada bayi

Perut kembung pada bayi tentunya dapat disebabkan pula oleh pemberian air. Bagaiamnapun juga, pemberian air pada bayi dapat menyebabkan perut bayi menjadi kembung dan penuh. Perut bayi akan merasa tidak nyaman sehingga tidak heran jika bayi terus menerus menangis dan juga sering rewel.

Kekebalan tubuh bayi berkurang

Pada bayi tentunya kekebalan tubuh masih tidak stabil. Seperti yang kita tahu bahwa tubuh bayi memang sangat rentan terhadap penyakit. Jika kondisi ini ditambah dengan pemberian air pada tubuh bayi. Tidak menutup kemungkinan bayi akan mengalami kekebalan tubuh yang terganggu. Selain pemberian ASI, tentunya tidak dianjurkan untuk memberikan air putih. Hal ini dikarenakan air putih dapat mendominasi ASI yang tentu sangat berguna untuk menjaga kekebalan tubuh. JIka terus dibiarkan, maka tidak menutup kemungkinan bayi akan mudah jatuh sakit. ASI tentunya diperlukan untuk menjaga kebutuhan cairan tubuh bayi dalam keadaan apapun.

Selera bayi pada ASI menurun

Selain menyebabkan kekebalan tubuh menjadi terganggu, pemberian ASI pada bayi juga dapat menyebabkan selera bayi pada ASI menurun. Sehingga tidak heran jika bayi tidak menyusu seperti biasanya bahkan cenderung tidak mau. Bayi yang sering menerima air putih tentunya dapat menyebabkan bayi tidak lagi tertarik pada ASI. Padahal memang ASI sangat diperlukan oleh tubuh bayi terutama usia 0-6 bulan hingga 3 tahun.

ASI menjadi gampang basi

Jika tidak diberikan ASI secara teratur, tentunya dapat menyebabkan bayi tidak lagi menyusu. Pemberian ASI yang tdiak teratur atau bahkan jarang tentunya dapat membuat kualitas ASI menjadi tidak baik. ASI akan cenderung gampang basi serta jumlahnya menjadi sangat sedikit. Bayi yang jarang menyusui tentunya akan sering minum air putih dibandingkan dengan ASI. Tidak heran jika payudara ibu menjadi membengkak dan juga nyeri. Hal ini dikarenakan produksi air susu ibu melimpah, namun tidak dimanfaatkan oleh bayi secara tepat.

Bayi akan mudah haus

Air putih tentunya berbeda dengan ASI, dimana ASI akan membuat bayi menjadi lebih kuat. Tidak heran pada bayi yang sering menerima air putih akan merasa sering kehausan dan terserang dehidrasi ringan. Dalam hal ini memang pemberian ASI pada bayi dapat mengatasi rasa haus dan juga dehidrasi yang berlebih. Untuk itu, jangan biarkan bayi 0-6 bulan diberikan air putih.

Menyebabkan gangguan gizi pada bayi

Pemberian susu formula untuk bayi usia 6 bulan tentunya memiliki takaran air putih yang lebih dibandingkan dengan susunya. Maka tidak heran jika kandungan gizi dan juga nutrisi yang ada di dalam susu tersebut berkurang. Jika terus menerus dibiarkan, maka akan menyebabkan bayi mengalami kelaparan dan juga bobot tubuh bayi yang menurun.

Alasan Mengapa ASI Lebih Baik Dibandingkan Air Putih

bagaimanapun juga, ASI memang sangat diperuntukkan bagi bayi usia 0-6 bulan. Selain ASI, tentunya jangan sampai jenis cairan lainnya masuk ke dalam perut bayi. ASI tentunya menjadi sumber terbaik yang dapat diberikan kepada bayi khususnya usia 0-6 bulan. Selain itu, ASI juga menjadi sumber alami yang dapat digunakan untuk menjaga kekebalan tubuh dan juga sistem imunitas tubuh. Seperti yang kita tahu bahwa ASI menjadi sumber antibiotik alami yang dapat melawan bakteri dan juga virus yang dapat menyebabkan bayi terkena penyakit.

Pemberian air putih pada bayi di atas 6 bulan tentunya tidak masalah karena pada usia ini sudah mulai diberikan MPASI. Selain itu, susunan ginjal sudah sempurna dalam mencerna cairan selain ASI. Namun tetap saja, Anda harus memberikan air putih secara teratur dan jangan berlebihan yang justru akan membuat perut bayi menjadi kembung. Penberian air putih sangat cocok pada bayi yang mendapatkan bubur bayi. Hal ini tentunya untuk memudahkan makanan masuk ke dalam perut bayi.

Pada usia bayi 0-6 bulan, tentunya belum membutuhkan makanan dan juga air putih. Hal ini dikarenakan kandungan gizi dan juga nutrisi yang ada pada ASI sangat mampu untuk membuat perut menjadi kenyang dan terhindar dari dehidrasi. Selain itu, pemberian ASI yang sering dapat membuat tubuh bayi menjadi lebih sehat sehingga dapat meningkatkan produksi air susu.

Untuk itu, Anda sebagai orangtua harus menjaga asupan ASI tetap seimbang dan hindari memberikannya pada bayi dibawah 6 bulan. Itulah beberapa alasan mengenai ASI yang lebih baik dibandingkan dengan air putih serta bahaya air putih bagi bayi yang harus nda waspadai. Semoga bermanfaat!

Perkembangan Bayi Usia 15 Bulan – Apakah si kecil saat ini sudah berusia 15 bulan? Pertumbuhan dan juga perkembangan apa saja yang sudah diperlihatkan oleh si kecil saat usianya 15 bulan? Yuk kita cari tahu apa saja kriteria  perkembangan bayi usia 15 bulan berikut ini!

Seringkali ketika kita melihat atau menatap si kecil timbul perasaan si kecil yang terasa baru saja dilahirkan sudah tumbuh besar. Terkadang banyak yang tidak menyadari bahwa si kecil sudah tumbuh dan juga berkembang sesuai dengan usianya. Seiring berjalannya waktu tentunya banyak sekali perkembangan yang sudah dilakukan oleh si kecil mulai dari usai 3 bulan sampai saat usia 15 bulan. Bagaimanapun juga, anak akan tumbuh dan berkembang sesuai dengan usianya. Jika si kecil tidak mengalami pertumbuhan dan juga perkembangan yang signifikan terlebih tidak sesuai dengan usianya. Kondisi tersebut justru harus benar-benar Anda waspadai.

Terlepas dari hal tersebut, tentunya pertumbuhan fisik bukan menjadi salah satu tnada bahwa si kecil mengalami perkembangan dengan baik. Hal ini dikarenakan banyak faktor yang menjadi indikator dimana si kecil disebut sebagai anak yang sehat dan berkembang dengan usianya. Beberapa faktor tersebut tentunya menyangkut perkembangan fisik, perkembangan motorik kasar, halus, bicara dan bahasa, perkembangan sosial dan juga perkembangan emosionalnya. Lantas, apa saja tanda atau ciri dari beberapa faktor yang ikut mempengaruhi perkembangan si kecil. Untuk mendapatkan informasi yang jelas, yuk kita langsung simak saja penjelasan kami pada beberapa poin di bawah ini! Baca juga: Inilah Jenis Kentut Bayi Bau Busuk Yang Harus Anda Waspadai

Perkembangan Bayi Usia 15 Bulan

perkembangan bayi usia 15 bulan

pPertumbuhan dan juga perkembangan anak menjadi salah satu indikator dimana menjadi acuan status kesehatan anak. Anak yang tumbuh dan juga berkembang pastinya juga diiringi oleh tubuh yang sehat. Namun, tubuh yang sehat jika tidak diiringi oleh beberapa indikator perkembangan anak, tentu menjadi salah satu masalah yang harus Anda ketahui pula. Beberapa indikator tentunya menjadi salah satu pengaruh dimana anak tersebut dikatakan sebagai anak yang tumbuh dan berkembang.

Tidak dapat dipungkiri bahwa si kecil pada usia 15 bulan juga menampakkan emosi yang cukup matang. Pada umumnya akan timbul rasa emosional yang cenderung padd perasaan takut berpisah atau ditinggal oleh orangtunya. Tidak sedikit bagi ibu ataupun ayah yang bekerja akan merasa kesulitan ketika hendak berangkat kerja karena si kecil merengek ingin ikut atau bahkan menangis. Kondisi tersebut tentunya terbilang wajar karena sifat takutnya tersebut akan hilang pula dengan sendirinya ketika ia merasakan lingkungan baru yang nyaman.

Bayi yang berusia 15 bulan ini tentunya sudah mulai tumbuh dan berkembang meskipun terbilang lebih lambat dibandingkan saat mencapai usia 1 tahun. Untuk itu memang sangat penting bagi Anda mengetahui pertumbuhan si kecil agar dapat mengamati apakah pertumbuhan si kecil berjalan normal ataukah tidak. Lihat juga: Perkembangan Bayi 14 Bulan Yang Wajib Anda Ketahui

Pertumbuhan Bayi Usia 15 Bulan

Indikator pertama yang menjadi tanda bahwa bayi usia 15 bulan mengalami perkembangan ialah pertumbuhan secara fisik. Perlu Anda ketahui bahwa pada usia 15 bulan, bayi akan mengalami pertumbuhan yang tidak secepat dengan pertumbuhannya ketika akan menginjak 1 tahun. Akan tetapi, pada usia 15 bulan atau dibawah 2 tahun, otak si kecil akan terjadi pertumbuhan yang cukup banyak sehingga sekitar 70% otak orang dewasa terbentuk pada saat usia ini.

Pada usia 15 bulan, bayi akan mengalami pertumbuhan otak dengan cukup pesat sekitar 2 cm setiap tahunnya dan rata-rata akan mencapai 46 cm. Untuk pertumbuhan berat badan, bayi akan mencapai pertumbuhan badan sekitar 2-3 kali lipat dibandingkan dengan berat badan lahir. Pada anak perempuan tentunya akan mengalami pertumbuhan mencapai sekitar 10,5 kg sedangkan pada anak laki-laki sekitar 11 kg. Pada umumnya, penambahan berat badan ini akan mengalami penurunan sekitar 2-3 kg pertahunnya. Sementara untuk tinggi badan akan mencapai sekitar 50% dari tinggi badan ketika ia lahir dengan pencapaian rata-rata sekitar 79 cm untuk laki-laki dan 77cm untuk perempuan.

Perkembangan Bayi Usia 15 Bulan Secara fisik

Jika kita lihat perkembangan anak secara fisik, beberpa balita mungkin sudah mulai bisa berjalan ketika mencapai usia 15 bulan, namun tidak sedikit juga balita yang belum bisa berdiri dengan tegap dan berjalan. Akan tetapi, Anda jangan merasa khawatir jika bayi Anda belum bisa berjalan dengan tegak. Hal ini dikarenakan perkembangan fisik pada bayi tentunya berbeda-beda.

Pada bayi usia 15 bulan yang lebih aktif untuk bergerak tentunya ia akan menunjukkan tanda-tanda bahwa ia bisa meluncur turun dari tempat tidur atau sofa dengan sendirinya tanpa bantuan orang dewasa. Sesekali mungkin ia akan merangkak, berdiri dan juga berjalan, namun ketika ia susah atau lelah berjalan, ia akan merangkak kembali atau bahkan diam. Pada usia 15 bulan ini, rasa penasaran si kecil sangat tinggi. Tidak sedikit balita yang berusia 15 bulan ini akan membuka lemari dan mengobrak-ngabrik apa isi yang ada di dalamnya. Maka dari itu, Anda harus benar-benar menutup dan juga mengunci lemari pakaian Anda secara rapat untuk menghindari hal yang akan dilakukan oleh si kecil.

Perkembangan Fisik Sebagai Tanda Bayi Sehat

Tidak heran jika pada usia ini menjadi salah satu momen yang paling melelahkan bagi para orangtua yang memiliki anak usia 15 bulan. Dalam kondisi ini tentunya Anda harus lebih bergerak dan juga lebih lincah dibandingkan dengan si kecil. Karena tidak menutup kemungkinan si kecil akan menunjukkan rasa penasarannya itu terhadap hal-hal yang berbahaya. Agar bayi usia 15 bulan bisa tumbuh dengan sempurna dengan mengenal alam di sekitarnya, cobalah untuk mengajak si kecil berjalan-jalan di sekitar taman atau arena bermain. Pastikan pula Anda mengawasinya dengan sangat baik untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti terjatuh atau bahkan hilang di kerumunan banyak orang.

Perkembangan bayi usia 15 bulan ini tentunya menjadi tanda perkembangan bagian tubuh lainnya seperti gerakan berdiri, berjalan dan juga gerakan kepala. Pada usia 15 bulan ini tentunya bayi sudah dapat memegang sesuatu dan juga meraihnya. Ia juga akan berdiri dan juga berjalan dengan cara mencari pegangan yang dapat membantunya berdiri lalu berjalan bahkan juga memanjat tangga.

Ketika sehari-hari mengasuhnya, tentunya Anda harus benar-benar menyingkirkan benda-benda yang dapat membahayakannya. Jauhkan pula si kecil dari pensil, spidol, cat warna dan alat tulis lainnya. Karena ketika sudah memegang benda tersebut si kecil akan merasa penasaran dan secara otomatis akan langsung menuliskan dan mencoretnya pada benda yang ada disekitarnya seperti lantai dan juga tembok. Itulah perkembangan anak usia 15 secara fisik yang wajib Anda ketahui agar membuat Anda menjadi lebih mengerti si kecil.

Perkembangan Bayi Usia 15 Bulan Secara Kognitif

Selain secara fisik, perkembangan bayi juga dapat dilihat secara kognitif atau yang lebih dikenal dengan perkembangan motorik halus. Perkembangan ini ialah sebuah perkembangan yang mengkombinasikan gerakan fisik (motor) dengan kognitif (pengertian). Dalam hal ini tentunya si kecil sudah dapat mengerti perintah apa yang diberikan kepadanya. Pada fase ini si kecil sudah bisa menghubungkan antara yang ia pegang dengan apa yang akan ia lakukan. Gerakan motorik ini tentunya meliputi gerakan menggapai, menyusun balok, menggambar dan juga gerakan lainnya. Oleh karena itu, tidak heran jika si kecil sudah mampu menyusun 2-3 balok menjadi sebuah menara. Selain itu, jika juga sudah dapat menggambar dengan menggunakan alat tulis yang tersedia atau yang diberikan oleh orangtuanya.

Perkembangan Bayi Usia 15 Bulan Dalam Berbicara dan Berbahasa

Pada umumnya, bayi usia 15 bulan sudah memiliki perkembangan bahasa yang lebih luas meliputi pengertian anak akan sesuatu atau bahasa yang diutarakan oleh orang dewasa dan juga ekspresi anak ketika berbicara. Tidak heran jika pada usia ini si kecil sudah mulai menggunakan kata-kata jargon (kata yang ia dapat dari manapun dan mulai menunjukkan sesuatu). Si kecil juga sudah mampun berbicara 4-6 kata dengan benar dan jelas serta menjelaskan nama-nama orang dan juga barang yang ada di sekitarnya. Pada usia ini pula anak sudah dapat merespon jika ia dipanggil nama dan mengikuti perintah yang cukup sederhana.

Jika bayi usia 15 bulan sudah mampu menyebut nama-nama benda di sekitarnya seperti “kakak”, “ibu”, “ayah”, “kucing” dan lain-lain. Pastinya si kecil juga sudah mampu mengikuti bahasa dari lagu dan juga permainan. Tahap ini tentunya menjadi sebuah kolaborasi antara bahasa isyarat dengan bahasa cadel si kecil. Ia juga sudah mulai menunjukkan apa yang ia rasakan seperti ia akan mendorong piring ketika ia sudah kenyang atau melempar mainan ketika ia sudah bosan memainkannya.

Momen ini tentunya menjadi sebuah momen yang paling membahagiakan bagi para orangtua karena si kecil sudah mampu berbicara dan menghafal nama orangtuanya dengan suara cadelnya tersebut. Momen ini tentunya menjadi momen yang harus Anda nikmati karena perkembangan bahasa yang baru separuh dan membuat Anda tertawa ini hanya berjalan singkat.

Secara kognitif juga bayi sudah mulai mengenal lingkungan dimana ia berada. Ia juga sudah mulai mengeksplorasi lingkungan sekitarnya melalui panca indera. Anda juga bisa mengenalkan si kecil terhadap tekstur suatu benda baik padat ataupun kenyal. Lihatlah ekspresi dan reaksi si kecil ketika ia menyentuh benda-benda yang memiliki perbedaan tekstur ini. Tidak heran jika ia akan memasukkan segala sesuatu yang ia temuai ke dalam mulutnya dan memakannya. Untuk itu, jangan biarkan benda-benda kecil tergeletak di sembarang tempat terlebih benda yang berbahaya.

Perkembangan Emosi Bayi Usia 15 Bulan

Untuk perkembangan emosi bayi usia 15 bulan tentunya ia sudah mulai peka mengenal lingkungan dan orang-orang sekitarnya. Si kecil juga sudah mulai mengenali foto ibu, ayah, dan juga anggota keluarganya yang lain. Ia tentunya sudah bisa berpikir bahwa ia merupakan bagian dari dalam keluarga tersebut terlebih ketika mereka melihat fotonya sendiri.

Pada usia ini juga si kecil sudah mulai merasa cemas dan juga takut terhadap orang asing. Bagi si kecil menatap orang asing menjadi hal yang menakutkan dan mengganggu kenyamanannya. Meskipun memang tidak semua anak akan merasakan hal tersebut, namun tentu Anda harus mengetahui akan faktor emosinya tersebut. Ia juga kerap menunjukkan ekspresi tidak suka terhadap orang asing yang ia temuinya. Ia ingin kenal dan bersikap baik hanya kepada orang yang ia kenal. Kondisi ini tentunya menjadi salah satu hal yang harus Anda waspadai karena jika terlalu berlarut-larut, si kecil akan sangat sulit berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang lain. Selain itu, ia juga akan sangat ketergantungan kepada orangtua dan menarik diri dari lingkungan sosilnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, tentunya Anda harus sejak dini mengenalkan si kecil terhadap lingkungan baru yang lebih luas dan tunjukkan bahwa orang-orang di sekitarnya tidak akan menyakitinya. Setelah mengenalkan ia dengan lingkungan sekitar, beri si kecil waktu untuk mulai beradaptasi dengan lingkungan yang ia temui. Biarkan ia bermain sendiri atau bahkan dengan anak yang lainnya. Pastikan Anda selalu mengawasi si kecil dari kejauhan dan jika memungkinkan mintalah si kecil untuk memberi salam kepada orang-orang yang ia temui.

Inilah Alasan Mengapa Emosi Bayi Wajar

Selain rasa cemas dan juga takut terhadap orang asing, bayi usia 15 bulan juga sudah mulai mencari perhatian orang-orang di dekatnya. Tidak heran jika ia tiba-tiba menangis, menendang, menjerit-jerit, menarik-narik atau bahkan memukul. Sikap si kecil ini tentunya akan membuat Anda cemas dan tidak sedikit pula yang merasa jengkel. Tidak sedikit bayi yang merasa terganggu atau tidak nyaman akan mengamuk untuk mencari perhatian orang-orang terutama ibunya.

Kondisi ini tentunya terbilang wajar dimana bayi usia 15 bulan belum mampu mengontrol emosi dalam situasi apapun. Ia cenderung akan mengekspresikan kekesalannya dan menarik perhatian Anda sebagai orangtunya. Melihat kondisi ini tentunya Anda sebagai orangtua harus mengabaikan prilaku si kecil yang sedang mencari perhatian Anda. Alangkah baiknya jika Anda mengalihkan perhatian si kecil pada sesuatu yang lain. Jangan sampai emosi Anda terpancing oleh tangisan dan rengekan si kecil karena ia akan berpikir bahwa keinginannya pasti akan dikabulkan. Berilah pengertian pada si kecil bahwa Anda tidak akan memberi apa yang ia mau ketika menangis atau menjerit. Perlu Anda ingat untuk menghindari yang namanya mengomel atau memarahi si kecil yang justru akan membuat si kecil menjadi lebih rewel dan menangis. Jika si kecil melakukan sesuatu yang baik, jangan lupa untuk memberinya pujian dan juga motivasi.

Perkembangan Sosial Bayi Usia 15 Bulan

Pada tahap perkembangan sosial ini tentunya menjadi salah satu tahap yang merupakan reaksi anak berinteraksi dengan orang lain dan juga kemampuannya dalam melakukan kegiatan sehari-hari seperti berpakaian dan juga makan. Pada tahap ini, si kecil sudah mengerti dalam menggunakan gelas untuk minum dan juga sendok untuk makan. Perkembangan lainnya juga ia tunjukkan ketika berinteraksi dengan anak yang lainnya.

Si kecil akan mungkin mendorong dan juga menyerang temannya jika ia merasa diganggu atau bahkan ketika mainnanya di ambil. Karena perkembangan sosial si kecil belum sempurna, maka hal ini wajar jika si kecil berbuat semaunya. Bahkan tidak sedikit orangtua yang menganggap bahwa ini prilaku normal dan akan hilang dengan sendirinya. Namun perlu Anda tahu, jika prilaku si kecil sejak dini dibiarkan seperti itu, maka nantinya akan berpengaruh ketika ia tumbuh dewasa. Segeralah ambil tindakan Anda untuk mengalihkan perhatiannya pada hal yang lain agar ia tidak berlaku buruk terhadap temannya. Jika Anda membiarkan tentunya akan tertaman di otaknya bahwa apa yang ia lakukan akan Anda setujui.

Jenis Penyakit Rawan Pada Bayi Usia 15 Bulan

Ini tentunya menjadi sebuah keharusan bagi Anda dimana Anda harus benar-benar menjaga kesehatan si kecil dengan sangat baik. Bagaimanapun juga, bayi yang kurang dari 2 tahun memang sangat rentan terkena penyakit. Beberapa penyakit yang terbilang rawan dan juga rentan menyerang si kecil seperti batuk dan pilek, diare, muntah dan juga infeksi telinga. Penyakit tersebut tentunya dapat datang dengan sendirinya secara tiba-tiba. Beberapa tindakan tentunya bisa Anda lakukan seperti menjaga nutrisi dan makanan si kecil, asap rokok dan juag menjaga kebersihan lingkungan.

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia, bayi yang berusia 15 tahun harus diber vaksin MMR atau singkatan dari Measles(campak), mumps (radang kelenjar air liur) dan rubella (campak Jerman). Hal ini dikarenakan usia 15 bulan memang sangat rentan terkena penyakit dari virus-virus yang tidak diinginkan. Selain itu, Anda juga bisa memberi vaksin Hib (Haemophilus influenzae type b) dan PCV (Pneumococcal conjugate vaccine). Pneumococcal ini tentunya menjadi salah satu penyebab penyakit infeksi telinga dan sinus, radang paru-paru. Sedangkan Hib dapat menimbulkan beberapa penyakit lainnya seperti infeksi paru-paru, radang selaput otak (meningitis) dan juga radang tenggorokan.

Beberapa penyakit tentunya harus Anda periksakan ke dokter anak jika mendapati kondisi si kecil dengan:

– gejala pilek lebih dari 10 hari

– kejang-kejang

– adanya darah dan juga nanah yang keluar dari telinga

– serta suhu tubuh yang lebih dari 38oC.

Memberikan obat-obatan pada anak tentunya harus sesuai dengan resep dokter dan tidak boleh  sembarangan memberikannya obat.

Menjaga Kesehatan Bayi Usia 15 Bulan

Setelah kita mengetahui beberpa penyakit yang memang rawan menyerang si kecil. Tentunya, ini menjadi pendorong Anda untuk menjaga kesehatan si kecil. Untuk menjaga kesehatan si kecil tentunya dimulai dari memberinya nutrisi dan juga makanan yang seimbang. Pada tahap ini susu UHT menjadi salahs atu jenis susu yang paling direkomendasikan bagi si kecil. Hal ini dikarenakan bayi usia 15 bulan memang membutuhkan asupan kalori yang cukup sebagai bahan bakar tubuh bagi bayi yang sudah mulai aktif bergerak.

Akan tetapi, Anda juga harus membatasi untuk memberikan susu kepada si kecil. Anda juga bisa membiasakan si kecil untuk minum air putih untuk menghindari konstipasi. Berikanlah jenis minuman yang bervariasi bagi si kecil seperti jus buah segar setidaknya 2 gelas per hari. Hindari untuk memberikannya minuman dengan kadar gula yang tinggi dan juga minuman bersoda karena akan mengakibatkan gigi berlubang, nutrisi yang rendah dan juga menimbulkan rasa kenyang sehingga tidak heran jika ia tidak ingin makanan padat.

Anda juga harus menghindari jenis makanan yang dapat membuat bayi tersedak. Anda tentunya juga harus mempertimbangkan jenis makanan menurut ukuran, konsistensi dan juga teksturnya. Jangan sampai Anda memberikan makanan yang keras atau lengket yang justru dapat membuar bayi Anda tersedak. Bagaimanapun juga, makanan padat harus diberi minuman terlebih dahulu. Pastikan untuk memberinya air putih yang cukup, susu formula dan juga ASI.

Demikianlah beberapa faktor yang menjadi indikasi terhadap perkembangan bayi usia 15 bulan yang wajib Anda ketahui. Hal ini tentunya membuat Anda menjadi lebih sensitif dan juga mengerti akan perkembangan si kecil setiap bulannya. Semoga bermanfaat!

Kentut Bayi Bau Busuk – Mengenal bau kentut pada bayi tentunya menjadi hal yang harus Anda lakukan. Langkah ini tentunya bertujuan untuk mewaspadai dan juga dikhawatirkan ada beberapa pertanda yang kemungkinan terjadi di dalam tubuh si kecil. Untuk itu, ketahuilah beberapa jenis kentut bayi bau yang perlu diperiksa berikut ini!

Seperti yang kita tahu bahwa kentut ialah gas yang diproduksi oleh bakteri normal yang berada di dalam usus kecil dan juga empedu yang dikeluarkan oleh hati. Umumnya, bayi mengeluarkan gas sebanyak 13-21 kali sehari karena mereka memiliki peluang yang cukup besar dalam menelan udara. Hal ini sering terjadi dimana bayi tidak sengaja ketika sedang menyusu, menangis, minum dari dalam botol susu dan juga saat menghisap dot. Dalam hal ini gas yang didapatkan oleh bayi telah terjebak di dalam perut sehingga dikeluarkan dalam bentuk sendawa dan juga kentut.

Faktanya ketika bayi berusia 4 bulan memang sangat rentan mengalami kolik. Kondisi ini ditandai dengan bayi yang sering menangis lebih dari 3 jam dan terjadi selama lebih dari 3 hari di dalam seminggu. Kondisi ini tentunya sering diperparah dengan bayi yang banyak menelan udara ketika sering menangis dan dilanjutkan dengan membuang gas. Kentut memang menjadi kondisi dimana tubuh seseorang normal, akan tetapi Anda tetap harus mewaspadai jenis kentut bayi yang perlu diperiksakan. Berikut kami sajikan jenis kentut bayi seperti apa yang memerlukan penanganan lebih lanjut lagi! Baca juga: Ketahui Penyebab Berat Badan Bayi Kurang Yang Paling Umum Terjadi

Kentut Bayi Bau Busuk

kentut bayi bau busuk

Bau kentut yang dialami oleh bayi memang menjadi tanda yang paling utama dimana bayi mengalami gangguan di dalam ususnya. Kondisi ini tentunya mengindikasi bahwa berapa lama tinja yang ada di dalam perut bayi tidak keluar. Bau kentut yang berlebih tentunya dapat menjadi tanda bahwa adanya bakteri yang telah lama berkembang di dalam perut si kecil. Selain itu, bau kentut pada bayi dapat disebabkan oleh adanya alergi dan juga intoleransi makanan sehingga menyebabkan kentut menjadi sangat asam dan juga busuk.

Kentut bayi yang bau tentunya tidak jauh dari penyebab adanya beberapa jenis makanan yang dikonsumsi. Meskipun kondisi ini ialah kondisi yang cukup normal, namun tetap saja Anda harus mewaspadainya dikarenakan adanya kemungkinan gangguan dan juga masalah lain di dalam perut si kecil. Lihat juga: Susu Formula Menyebabkan Bayi Obesitas, Benarkah?

Ketika bayi lahir tentunya bayi akan lebih sering kentut dan menghasilkan kentut yang tidak berbau karena konsumsi ASI. Sementara itu, pada bayi yang mengonsumsi susu formula memang lebih sering mengalami kentut dengan bau yang sangat alami. Kentut bayi yang bau tentunya sering dialami oleh bayi yang telah menginjak usia 6 bulan ke atas. Kondisi inipun terjadi setelah ia mengonsumsi makanan padat. Terlebih lagi jika si kecil sudah mengonsumsi makanan yang banyak mengandung protein.

Jika Anda mencium kentut bayi yang sangat bau dan juga busuk tentunya hal ini dapat mengindikasi bahwa adanya masalah dan juga gangguan di dalam perut si kecil. Untuk itu ketika Anda mencium bau kentut si kecil yang sangat berbau busuk, tentunya langkah utama yang dapat Anda lakukan ialah dengan berkonsultasi kepada dokter untuk mengetahui dan juga menangani lebih lanjut lagi akan penyebab kentut bayi berbau busuk.

Jenis-Jenis Kentut Bayi

Kentut Bayi Tidak Berbau

Jenis kentut pertama yang sering dialami oleh bayi ialah kentut yang tidak berbau. Jenis kentut ini dapat disebabkan oleh adanya gas yang menumpuk di dalam perut bayi dikarenakan oleh adanya udara yang tertelan ketika makan dan saat menangis. Dan juga disebabkan oleh adanya hasil pemecahan makanan yang ada di dalam sisem pencernaan bayi. Dikarenakan proses tersebut, kentut bayi biasanya tidak berbau dan juga normal terjadi. Anda memang akan mendengar suara kentut bayi, namun tidak mencium bau apapun.

Kentut Bayi Bau Ringan

Jenis kentut bayi yang kedua ialah jenis kentut yang tergolong ringan dan berbau belerang karena disebabkan oleh makanan yang mengandung belerang yang memang dikonsumsi oleh bayi. Jenis makanan ini yakni sayuran terutama kembang kol dan brokoli serta kacang-kacangan. Jenis makanan ini mungkin saja tidak dikonsumsi langsung oleh bayi, namun dikonsumsi oleh ibu melalui ASI. Kondisi kentut bayi ini tentunya tergantung pula oleh makanan yang ibunya makan. Bau kentut bayi yang cukup ringan dan juga normal akan hilang denga sendirinya.

Kentut Bayi Bau Belerang

Jenis kentut bayi yang selanjutnya ialah kentut bayi yang kuat seperti bau belerang. Jenis kentut ini tentunya dapat disebabkan oleh beberapa jenis makanan yang dikonsumsi oleh bayi melalui ASI. Jenis makanan berupa sayuran tentunya memang sangat rentan mengalami bau gas pada bayi terutama yang banyak mengandung pati dan juga serat. Dalam hal ini jenis makanan berupa daging juga dapat menyebabkan kentut bayi menjadi lebih bau dibandingkan dengan sayuran. Hal ini dikarenakan daging merah mengandung senyawa belerang. Untuk itu, jika Anda mendapati kentut bayi yang sangat bau dan juga busuk, kenalikan apakah Anda memamng mengonsumsi makanan yang menghasilkan bau yang cukup busuk, ataukah tidak.

Kentut Bayi Bau Busuk

Jenis kentut bayi yang terakhir yakni kentut bayi yang berbau sangat busuk. Jika Anda mendapati jenis kentut pada bayi yang berbau busuk tentunya ini dapat menjadi suatu kondisi yang perlu Anda waspadai. Kondisi ini bisa saja menjadi penyebab bayi mengalami infeksi dan juga masalah yang terjadi pada sistem pencernaan dan juga beberapa penyerapan nutrisi seperti susu dan juga laktosa. Terlebih lagi jika kentut bayi yang busuk ini dihasilkan oleh bayi yang mengonsumsi produk susu yang kaya akan laktosa.

Penyebab Kentut Bayi Bau Busuk

Setelah kita mengetahui beberapa jenis kentut bayi yang perlu diperiksakan tentunya inilah saatnya bagi kita untuk mengetahui apa saja penyebab kentut bayi bau busuk. Berikut kami sajikan beberapa penyebab kentut bayi berbau busuk untu Anda, diantaranya:

Saluran Pencernaan Belum Matang

Penyebab utama dimana kentut bayi berbau bususk ialah karena adanya saluran pencernaan pada bayi yang belum matang. Faktanya memang bahwa sistem pencernaan bayi belum matang sepenuhnya dan masih akan terus berkembang. Inilah penyebab dimana kentut bayi mengalami bau yang cukup busuk. Bagaimanapun juga, kentut bayi dihasilkan oleh usus yang mencerna nutrisi, laktosa, dan juga protein yang ada di dalam makanan tersebut. Seiring dengan adanya perkembangan sistem pencernaan yang dihasilkan oleh bayi tentunya kentut bau akan berkurang frekuensinya.

Menelan Udara

Penyebab kedua yang menjadikan kentut bayi berbau busuk ialah bayi yang sering menelan udara. Udara yang ditelan tersebut tentunya mengandung gas dan telah menumouk di dalam tubuh bayi dan akan dikeluarkan melalui kentut. Kondisi ini biasanya sering terjadi pada bayi yang mengonsumsi botol susu sehingga menelan lebih banyak udara.

Makanan Mengandung Gas

Penyebab selanjutnya yang menjadi penyebab kentut bayi bau dikarenakan adanya makanan yang mengandung gas. Sama halnya dengan orang dewasa, jika kita mengonsumsi makanan yang mengandung gas, tentunya akan menghasilkan bau kentut yang sangat busuk. Ketika kita memakan sayuran dan juga kacang-kacangan tentunya akan menyebabkan perut menghasilkan kentut berbau busuk. Tentunya, bayi yang mendapatkan sumber makanan dari ibunya yang dapat menyebabkan perut bayi menghasilkan kentut yang berbau busuk pula. Selain itu, perut bayi juga akan menyebabkan perut bayi menjadi kembung sehingga kentut akan berbau sangat busuk.

Sering Menangis

Penyebab kentut bayi berbau busuk tentunya tidak bisa lepas dari bayi yang sering menangis. Pada bayi yang sering menangis tentunya akan memungkinkan lebih banyak udara yang masuk ke dalam tubuh sehingga menyebabkan gas menumpuk di dalam perut bayi. Kondisi inilah yang tentunya menyebabkan gas menumpuk di dalam saluran dan juga sistem pencernaan sehingga dapat menyebabkan kentut bayi bau busuk.

Bayi Baru Mulai Memakan Makanan Padat

Penyebab terakhir tentunya bayi yang baru mulai memakan makanan padat. Pada umumnya, bayi yang berusia 6 bulan mulai mengenal makanan padat sehingga tidak heran jika pada usia ini kentut bayi menjadi lebih bau. Dalam hal ini tentunya bayi membutuhkan waktu untuk terbiasa dalam mencerna makanan padat. Kondisi ini tentunya dapat menyebabkan adanya masalah pencernaan pada bayi dan juga perut bayi.

Gejala Kentut Bayi Busuk

Bau kentut bayi yang busuk tentunya menjadi tanda bahwa berapa lama tinja di dalam perut bayi sudah menumpuk dan berkembang di dalam usus bayi. Dalam hal ini tentunya menjadi tanda bahwa bakteri tersebut telah lama dan juga berkembang di dalam tinja. Tentunya, jika bayi mengalami gejala-gejala seperti yang akan kami sajikan di bawah sudah dipastikan bahwa bayi mengalami sistem pencernaan yang terganggu, diantaranya:

– Badan bayi yang mengalami demam tinggi

– Tidak buang air besar

– Buang air besar yang bercampur

– Mengalami muntah

– Bayi sering rewel

– Perut bayi menjadi kembung

– Adanya lendir yang menjadi tanda bahwa adanya intoleransi makanan dan juga infeksi

– Adanya perubahan kepadatan pada tinja bayi, bisa semakin cair dan juga keras

– Terlihat melengkungnya punggung dan jusa terlihat kesakitan ketika bayi menggeliat karena bayi merasa tidak nyaman

– perubahan warna juga terjadi pada tinja terutama setelah mengonsumsi makanan baru. Tinja yang berwarna hitam ini tentunya menjadi tanda bahwa adanya darah dari usus kecil maupun lambung. Sedangkan tinja putih tentunya menjadi tanda bahwa bayi tidak lagi  memproduksi cukup empedu. Sementara jika tinja berwarna merah dapat menjadi tanda bahwa adanya darah yang berasal dari usus besar dan juga dubur.

Perlu Anda tahu bahwa kentut bayi yang berbau busuk bukan menjadi tanda bahwa bayi mengalami gangguan kesehatan. Untuk itu, orangtua diharuskan untuk jangan terlalu panik dan alangkah lebih baik jika memantau si kecil baik makanan yang ia makan ataupun aktivitasnya. Jika bayi terlihat kurang bersemangat dan tidak menunjukkan gejala-gejala seperti yang sudah disebutkan di atas, tentunya ada kemungkinan itu menjadi kondisi yang cukup normal. Akan tetapi, jika kondisi pada bayi disertai dengan gejala-gejala dan disertai dengan bau busuk pada bayi. Anda sebagai orangtua tentunya segera memeriksakan si kecil ke dokter agar mendapatkan penanganan yang lebih serius.

Tips Cara Mengatasi Bau Kentut Pada Bayi

Setelah kita mengetahui akan penyebab dan juga gejala kentut bayi bau. Tentunya, ini menjadi tugas yang cukup besar bagi kita untuk mencari cara dalam mengatasi kentut bayi busuk. Ada beberapa metode yang tentunya memang terbukti mengatasi kentut bayi bau, diantaranya:

– Pada bayi yang minum susu botol tentunya harus dipilih ukuran yang paling tepat. Jika dot berukuran lebih besar, tentunya ini dapat menyebabkan bayi kehabisan susu dengan sangat cepat. Sedangkan untuk yang lebih kecil bayi akan mengarah pada asupan yang lebih banyak gas.

– Berbicara tentang kentut pada bayi tentunya dapat menepuk punggung setiap 3-5 menit. Cara yang dapat Anda gunakan ialah untuk mengurangi akumulasi gas yang ada pada saluran pencernaan.

– Anda juga tentunya dapat memijat lembut perut bayi dengan minyak pijat. Tentunya, ini tentunya dapat membantu menghilangkan adanya gelembung gas dari sistem pencernaan.

– Penyebab bayi kentut berbau busuk tentunya dapat disebabkan oleh adanya intoleransi yang ada di dalam makanan. Untuk itu ibu harus benar-benar ketat dalam mewaspadai pola makan si kecil.

– Bantulah bayi untuk dapat bersendawa. Ketika sedang menyusui bayi seringkali menelan udara yang cukup banyak. Untuk itu, berusahalah untuk membuat bayi bersendawa untuk mengurangi gas yang ada di dalam perut.

Cara Lain Mengatasi Kentut Bayi Bau Busuk

– Ketika Anda sedang menyusui bayi, pastikan untuk membuat kepala bayi menjadi lebih tinggi dari perutnya. Tentunya cara ini akan membuat susu bisa langsung masuk ke dalam perut bayi dan juga udara ke atas sehingga tidak akan adanya penumpukan gas di dalam perut bayi.

– Buatlah bayi bergerak lebih bebas agar bayi dapat mengeluarkan gas yang ada di dalam perutnya. Cara yang dapat Anda lakukan ialah dengan membuat si kecil terlentang, kemudian biarkan ia bergerak bebas dengan mengangkat kakinya dengan gerakan seperti mengayuh sepeda.

– Jika Anda terbiasa memberi makan susu botol, aturlah posisi botol sehingga puting botol akan terisi dengan susu bukan dengan udara. Hal ini tentunya untuk menghindari perut bayi akan kemasukan gas.

– Dengan makanan padat bayi juga bisa mengalami yang namanya penumpukan gas akibat makanan padat yang si kecil konsumsi.

– Ketika sedang memberikan ASI ekslusif, usahakan untuk tidak memberikan makanan yang banyak mengandung gas kepada si kecil. Hal ini dikarenakan sistem pencernaan bayi yang belum matang sehingga dapat menyebabkan bayi sering kentut dengan bau yang sangat busuk.

Bagaimanapun juga, bayi yang mengalami kelebihan gas di dalam perutnya sangat rewel dan juga akan terus menangis. Namun, Anda tidak perlu khawatir karena jika bayi kentut dan tidak mengeluarkan bau busuk karena akan itu tandanya bahwa bayi Anda sehat. Akan lebih baik jika Anda melakukan cara-cara untuk mengeluarkan penumpukan gas yang ada di dalam perut si kecil.

Bagaimanapun juga, bayi memang sangat rentan terkena perut kembung dan juga penumpukan gas. Hal ini tentunya dikarenakan beberapa faktor yang telah kami sebutkan di atas. Untuk itu, memang sangat penting bagi Anda untuk tetap menjaga perut bayi. Itulah beberapa hal yang perlu Anda ketahui mengenai kentut bayi bau busuk. Semoga bermanfaat!