Home » Penyakit Bayi » Seputar Stroke Perinatal dan Epilepsi Pada Anak

Seputar Stroke Perinatal dan Epilepsi Pada Anak

Stroke perinatal dalam beberapa kasus dapat menyebabkan epilepsi pada anak. Dimana stroke perinatal itu sendiri memiliki hubungan dengan epilepsi. Ketahui penjelasan lainnya, mengenai penyebab stroke sebelum dan sesudah bayi lahir, serta ciri-ciri epilepsi pada bayi atau anak.

Stroke perinatal merupakan stroke yang menimpa bayi dan terjadi antara bayi masih berada di dalam kandungan dimana usia kehamilan 28 minggu, sampai usia kelahiran bayi 28 hari. Dalam beberapa kasus, stroke perinatal dapat menyebabkan epilepsi.

Lantas apa itu epilepsi? Epilepsi merupakan salah satu masalah kesehatan yang menimpa otak. Penyakit otak ini akan membuat penderitanya mengalami keadaan kejang yang jarang terjadi, serta akan terjadi tidak terduga, namun terjadi berulang. Banyak orang yang beranggapan bahwa kejang adalah keadaan tubuh bergetar atau bergerak-gerak tidak terkontrol. Akan tetapi, keadaan kejang itu sendiri sebenarnya bervariasi. Keadaan yang bisa disebut dengan kejang yaitu ketika mata menatap ke atas, dimana tatapan matanya kosong meskipun tubuhnya tidak bergetar atau bergerak, atau hanya bergetar sementara pada bagian tubuh tertentu namun tidak kehilangan kesadaran.

Stroke Perinatal

Epilepsi dapat terjadi tanpa penyebab yang diketahui. Namun, umumnya epilepsi itu sendiri dapat terjadi karena adanya kelainan dalam struktur otak, seperti misalkan adanya gangguan arteri.

Hubungan Stroke Perinatal Pada Bayi Dengan Epilepsi

Akibat stroke, cedera permanen pada otak dapat terjadi. Dimana cedera permanen ini dapat menjadi penyebab kejang yang berulang atau epilepsi. Stroke perinatal itu sendiri dianggap sebagai penyebab ke 2 kejang perinatal.

Sebanyak 17% bayi menderita kejang perinatal pernah mengalami stroke. Dimana stroke perinatal ini terjadi 1 dari 4.000 kelahiran bayi.

Penyebab Stroke Saat Bayi Dalam Kandungan

Stroke yang terjadi saat bayi berada di dalam kandungan disebabkan oleh beberapa keadaan tertentu. Beberapa penyebab stroke sebelum bayi lahir di antaranya:

Gumpalan darah

Pada saat dua bayi atau lebih berbagi rahim yang sama, dimana salah satu bayi meninggal sebelum dilahirkan, maka gumpalan darah akan terbentuk. Dimana gumpalan darah yang terbentuk ini akan menjadi jaringan yang mati, serta dapat diserap dan mengalir dalam plasenta. Keadaan ini akan menyebabkan stroke pada bayi yang masih hidup dan belum lahir.

Kista porencephalic

Kista porencephalic terjadi ketika terdapat cairan asing mengisi rongga dalam otak, dimana cairan tersebut akan mempengaruhi aliran darah dari otak ke bagian tertentu sehingga akan menyebabkan stroke.

Perdarahan

Perdarahan berat ketika persalinan dapat menjadi penyebab stroke pada bayi. Selama proses kelahiran, ibu yang mengalami kehilangan darah dalam volume yang cukup besar, maka tekanan darah sang ibu akan turun, akibatnya tidak akan ada darah cukup yang dialirkan ke otak bayi yang belum lahir. Keadaan ini akan menyebabkan stroke iskemik.

Penyebab Stroke Setelah Bayi Lahir

Umumnya, penyebab stroke pada bayi yang baru lahir adalah:

Infeksi Katup Jantung

Pada saat katup jantung bayi terinfeksi oleh bakteri, pelet kecil yang dihasilkan oleh bakteri akan berpindah ke otak dan akan menyebabkan stroke. Selain itu, infeksi jantung pada bayi dapat menyebabkan aritmia yang akhirnya akan menjadi penyebab stroke.

Kelainan Anatomi Jantung

Kelainan fungsi dan anatomi jantung akan menyebabkan terbentuknya gumpalan darah. Dimana gumpalan darah tersebut bisa mengalir ke otak, sehingga akan menyebabkan stroke.

Penyebab lainnya

Keadaan lainnya yang dapat menyebabkan stroke pada bayi baru lahir yaitu antifosfolipida, merupakan keadaan dimana orang tua dan antibodi tidak normal lainnya dapat menjadi pemicu terbentuknya gumpalan darah. Selain itu, trauma pada saat melahirkan, orangtua yang mengalami diabetes, bedah yang dilakukan untuk memperbaiki cacat lahir pada jantung bayi dapat menjadi penyebab kejang pada bayi baru lahir.

Umumnya, sekitar 70% bayi yang mengalami stroke perinatal akan berlanjut pada keadaan epilepsi pada anak.

Untuk mendeteksi epilepsi pada anak atau bayi, beberapa kondisi fisik dapat menjadi tanda epilepsi seperti berikut:

Ciri Epilepsi Pada Bayi atau Anak

  • Pada saat serangan terjadi, bayi atau anak seringkali akan hilang kesadarannya beberapa saat. Akibatnya, bayi tidak akan sensitif pada rangsangan suara, bau atau sentuhan.
  • Mengalami kejang otot. Berdasarkan The University of Iowa Children’s Hospital, kejang adalah gejala umum yang terjadi pada semua bayi atau anak penderita epilepsi. Kejang otot itu sendiri terjadi hanya beberapa saat dan akan mereda.
  • Bayi seringkali meremas bibirnya atau memukul-mukul.
  • Terdapat kelainan pada struktur otak. Untuk mendeteksi keadaan ini dokter akan menggunakan CT (computed tomography), MRI (magnetic resonance imaging), dan PET (positron emission tomography). Dengan metode ini maka aktifitas pada otak akan terdeteksi, serta mendeteksi berbagai kelainan struktur lainnya pada otak.
  • Terdapat ketidaknormalan pada gelombang otak bayi. Untuk mengetahui keadaan ini dokter akan melakukan tes dengan menggunakan electroencephalogram (EEG). Tes ini dilakukan oleh dokter untuk merekam aliran listrik atau gelombang di otak bayi.

Beberapa cara bisa dilakukan untuk mengobati epilepsi pada bayi, anak-anak atau orang dewasa. Metode yang bisa digunakan untuk mengobati epilepsi yaitu dengan terapi obat, diet makanan, stimulasi syaraf dan operasi.