Home » Penyakit Bayi » Mengenal Gangguan Saraf Pada Bayi

Mengenal Gangguan Saraf Pada Bayi

Gangguan saraf pada bayi – Beberapa gangguan saraf yang dapat terjadi pada bayi di antaranya yaitu autisme, kerusakan tabung saraf, cerebral palsy, dan hydrocephalus.

Otak merupakan bagian penting yang menjadi pusat sistem saraf. Otak itu sendiri memiliki fungsi untuk mengatur dan mengkordinir sebagian besar dari gerakan, fungsi tubuh dan perilaku. Otak manusia sudah berkembang ketika masih dalam kandungan atau ketika janin berusia kurang lebih 6 minggu dalam kandungan ibunya hingga bayi lahir berusia 4 sampai 5 tahun. Pada usia 0 hingga 2 tahun pekembangan otak anak dan pembentukan sel otak berkembang dengan pesat, sehingga masa ini disebut dengan masa emas.

Pada masa emas tersebut penting untuk selalu mendukung perkembangan bayi. Namun, dalam keadaan tertentu bisa saja bayi mengalami masalah atau gangguan pada sistem sarafnya. Jika pada masa tersebut bayi mengalami masalah pada sistem sarafnya, maka akan mempengaruhi perkembangan bayi. Dimana perkembangannya akan terhambat yang menyebabkan gangguan pada usia dewasa nanti.

Gangguan Saraf Pada Bayi

Beberapa gangguan saraf dapat terjadi pada bayi. Kenali gangguan saraf pada bayi seperti berikut ini:

Gangguan Saraf Pada Bayi

Autisme

Autisme adalah salah satu gangguan sistem saraf pada anak yang cukup sering dijumpai. Gangguan sistem saraf ini disebabkan karena terdapat gangguan pada sel purkinje. Gangguan saraf ini bersifat genetik, yang mana pada gangguan ini terjadi pembesaran pada otak secara abnormal.

Usia deteksi autisme yang terjadi pada anak yaitu pada usia 2,5 sampai 4 tahun. Namun, gejala dan tanda awal autisme pada bayi bisa diamati sejak dini yaitu ketika bayi berusia 6 sampai 18 bulan.

Anak yang menderita autisme memiliki tingkah laku yang berbeda dengan anak normal. Dimana ia akan bertingkah laku dengan tidak wajar, seperti misalkan takut pada suatu hal dengan berlebihan. Selain itu, anak yang mengalami autisme tidak dapat fokus terhadap lingkungan di sekitarnya, sering mengulang aktivitas yang sama, serta melakukan tingkah laku yang menyimpang lainnya. Gangguan saraf yang dapat menimpa bayi ini dapat diberikan terapi. Namun, kendalanya membutuhkan waktu yang cukup lama.

Kerusakan Pada Tabung Saraf

Kerusakan yang terjadi pada tabung saraf pada saat awal kehamilan menjadi faktor risiko terjadinya gangguan saraf pada bayi. Biasanya dengan keadaan ini bayi akan dilahirkan dalam kondisi meninggal. Meskipun begitu tidak semua bayi dengan kondisi seperti ini meninggal. Bagi bayi yang lahir hidup biasanya akan mengalami cacat saraf permanen, bahkan diketahui usia bayi tidak akan lama.

Hydrocephalus

Hydrocephalus merupakan gangguan yang terjadi ketika bayi masih berada dalam kandungan ibu. Dimana gangguan ini disebabkan karena parasit. Parasit yang menyebabkan gangguan pada bayi ini berada dalam tubuh ibu yang sedang hamil.

Beberapa jenis parasit yang menjadi penyebab gangguan ini di antaranya yaitu, Toxoplasma, Cytomegalovirus, Rubella, dan Herpes simplex Virus.

Hydrocephalus adalah keadaan dimana terjadi pembesaran pada rongga kepala yang berisi cairan. Gangguan saraf yang satu ini membuat sistem koordinasi bayi perkembangannya terhambat.

Cerebral Palsy

Gangguan saraf lainnya yang dapat terjadi pada bayi yaitu cerebral palsy. Cerebral palsy yaitu gangguan yang menyebabkan kelumpuhan otak pada bayi. Dengan keadaan ini bayi tidak mampu melakukan kegiatan seperti yang dilakukan oleh bayi normal.

Bayi yang mengalami gangguan saraf ini akan mengalami perkembangan yang lambat. Bahkan bayi dengan gangguan ini mengalami keterlamabatan dalam berbicara dan kesulitan melakukan gerakan motorik.

Berdasarkan penelitian, faktor risiko cerebral palsy terjadi pasa masa kehamilan, persalinan dan hingga anak berusia 2 tahun. Berikut ini faktor risiko cerebral palsy:

Faktor yang menyebabkan janin berisiko mengalami cerebral palsy ketika dalam masa kehamilan yaitu karena disebabkan oleh infeksi ketika berada dalam kandungan. Infeksi tersebut dapat menyerang janin seperti misalkan Toksoplasma, Rubella, Sitomegalovirus atau infeksi virus yang lainnya. Selain itu, paparan radiasi berlebihan saat kehamilan dapat menjadi penyebabnya.

Sedangkan saat persalinan, risiko yang dapat membuat bayi mengalami cerebral palsy yaitu bayi lahir kurang bulan atau prematur, kekurangan oksigen atau keracunan air ketuban ibu.

Sedangkan setelah kelahiran, faktor yang menjadi penyebab cerebral palsy di antaranya yaitu benturan yang terjadi pada saat bayi dalam kandungan atau setelah dilahirkan, infeksi otak, meningitis pada bayi, dan kejang berulang.

Cerebral palsy atau lumpuh otak pada bayi biasanya dapat terlihat ketika bayi berusia 3 sampai 6 bulan. Gejala utama pada anak yang menderita cerebral palsy yaitu mengalami gangguan pada fungsi gerak dan postur tubuhnya, tumbuh kembang anak mengalami hambatan yang dapat dilihat sejak bayi.

Gangguan pada fungsi gerak ini disertai dengan gangguan lainnya seperti gangguan kognisi, sensorik, tingkah laku, komunikasi dan epilepsi. Bayi dapat mengalami kelainan normal, seperti misalkan belum mampu duduk meskipun usianya sudah cukup untuk duduk. Bahkan bayi dapat mengalami kelainan berat yang dapat mengakibatkan lengan dan tungkai mengalami perubahan bentuk.
Demikian beberapa gangguan saraf yang dapat terjadi pada bayi. Semoga bermanfaat.