Home » Penyakit Bayi » Mengenal Gejala & Mengatasi Alergi Susu Sapi Pada Bayi

Mengenal Gejala & Mengatasi Alergi Susu Sapi Pada Bayi

Sebenarnya setiap orang dapat mengalami alergi susu sapi, namun kasus ini sering ditemukan pada bayi. Karena seperti itu, penting mengenal gejala alergi susu sapi pada bayi agar dapat melakukan tindakan lebih cepat.

ASI adalah makanan terbaik untuk bayi. Kandungan nutrisi di dalam ASI tidak dapat tertandingi oleh susu formula sekalipun. Demi bayinya mendapatkan makanan terbaik, ibu tentunya akan menyusui bayinya dan menyediakan ASI yang berkualitas. Namun faktanya, tidak semua ibu dapat melakukan itu semua. Beberapa keadaan tertentu memaksa ibu untuk tidak menyusui bayinya, mulai dari ibu yang sibuk bekerja, hingga keadaan ibu yang tidak memperkenankan dirinya untuk memberikan ASI pada buah hati. Karena seperti itu, ibu terpaksa harus memberikan susu formula pada buah hatinya.

Namun, masalah lain muncul ketika bayi alergi susu sapi. Sebenarnya setiap orang dapat memiliki alergi terhadap susu sapi, namun masalah ini biasanya akan lebih banyak ditemui pada bayi. Berdasarkan data statistik, bahwa sekitar 2 sampai 3 % bayi alergi terhadap protein yang ada di dalam susu sapi, yang mana protein tersebut notabenenya adalah bahan dasar untuk susu formula.

Alergi Susu Sapi Pada Bayi

Apabila setelah mengkonsumsi susu formula atau susu sapi bayi menunjukan reaksi yang merujuk pada gejala alergi susu sapi, segera konsultasikan keadaan si kecil dengan dokter untuk menentukan jenis pemeriksaan yang tepat, serta alternatif susu formula yang diberikan.

Proses Terjadinya Alergi Susu Sapi Pada Bayi

Alergi susu sapi pada bayi terjadi pada saat sistem imun atau sistem kekebalan tubuh bayi salah menilai kandungan pada susu sapi, sehingga sistem imum bayi akan menganggap bahwa susu sapi yang masuk ke dalam tubuh bayi merupakan suatu yang membahayakan. Akibatnya, sistem imun tubuh bayi tersebut akan bereaksi untuk melawannya. Keadaan ini kemudian akan memicu munculnya reaksi alergi dan menyebabkan si kecil rewel, gelisah serta akan menimbulkan gejala alergi yang lainnya.

Biasanya hampir semua bayi yang mengalami alergi terhadap susu sapi juga mengalami alergi terhadap susu domba atau susu kambing. Bahkan sebagian kecil bayi akan alergi terhadap protein dalam susu kedelai.

Gejala Alergi Susu Sapi Pada Bayi

Gejala yang muncul karena alergi susu sapi biasanya hampir sama dengan gejala alergi makanan yang lainnya.Gejala yang muncul biasanya akan menyerang sistem pencernaan, kulit dan sistem pernafasan. Reaksi jangka pendek yang sering muncul dan dialami bayi biasanya gatal-gatal pada kulit. Sedangkan reaksi jangka panjang yaitu munculnya eksim pada kulit, asma, serta gangguan sistem pencernaan. Terdapat 3 pola respon terhadap alergi susu sapi yang dialami bayi seperti berikut:

Reaksi Cepat

Dikatakan sebagai reaksi cepat ketika gejala terlihat dalam waktu 45 menit setelah si kecil mengkonsumsi susu sapi. Apabila muncul bintik merah pada kulit si kecil yang menyerupai campak, serta gatal-gatal pada kulitnya, anda harus mewaspadai keadaan tersebut. Selain gejala tersebut, bayi juga bisa saja mengalami gangguan pada sistem pernafasannya seperti napasanya berbunyi, mengalami bersin-bersin, bayi mengalami gatal pada mata dan hidung, serta mata memerah.

Reaksi Sedang

Gejala yang terlihat yaitu sekitar 45 menit sampai 20 jam setelah si kecil mengkonsumsi susu sapi. Gejala yang biasanya sering ditunjukan yaitu bayi mengalami muntah-muntah dan diare.

Reaksi Lambat

Setelah bayi minum susu, gejala yang terlihat lebih dari 20 jam. Gejala yang muncul seperti diare, sembelit atau konstipasi (keadaan dimana bayi sulit buang air besar) dan bayi mengalami masalah pada kulitnya.

Cara Mengatasi Alergi Susu Sapi

Anda jangan menyepelekan gejala yang ditimbulkan karena alergi susu sapi. Apabila tidak ada tindakan cepat untuk mengatasi keadaan ini, maka akibatnya akan mempengaruhi organ tubuh bayi dan tumbuh kembang bayi.

Meskipun alergi susu sapi akan hilang seiring dengan bertambahnya usia bayi, akan tetapi penanganan yang tepat saat si kecil mengalaminya diperlukan.

  • Berdasarkan data statistik, bayi yang mendapatkan ASI eksklusif memiliki risiko lebih rendah mengalami alergi susu sapi dibandingkan dengan bayi yang mengkonsumsi susu formula. Oleh karena itu, jika keadaan memungkinkan anda tetap harus memberikan ASI pada bayi.
  • Apabila bayi masih mendapatkan ASI, maka penting bagi sang ibu untuk menghindari konsumsi produk susu sapi. Pasalnya, protein susu sapi dapat masuk ke dalam tubuh si kecil melalui ASI.
  • Akan tetapi jika bayi mengkonsumsi susu formula, dokter biasanya akan menyarankan untuk beralih ke susu yang terbuat dari kedelai. Namun, jika bayi alergi terhadap susu kedelai, maka bisa dicoba susu hipoalergenik. Dimana pada susu tersebut proteinnya sudah diuraikan hingga menjadi partikel-partikel dan tidak akan menyebabkan alergi pada bayi.
  • Setelah bayi beralih pada susu formula yang lebih aman, gejala akibat susu sapi biasanya akan menghilang dalam waktu 2 sampai 4 minggu.

Jenis Penolakan Terhadap Susu Sapi

Perlu diketahui, penolakan terhadap susu sapi sebenarnya dibedakan menjadi dua jenis, yaitu alergi dan intoleransi. Mengenai masalah ini seringkali terjadi salah persepsi, dimana banyak orang menganggap bahwa alergi susu sapi sama dengan intoleransi laktosa.

Laktosa merupakan gula yang diproduksi oleh kelenjar susu yang terdapat pada susu mamalia, seperti halnya sapi. Dalam mencerna laktosa, dibutuhkan sebuah enzim yang disebut dengan laktase. Bayi dapat memproduksi laktase lebih banyak dengan alami. Akan tetapi, bagi bayi yang menderita gangguan sistem pencernaan tidak dapat memproduksi laktase dalam jumlah yang cukup. Karena seperti itu, bayi tidak dapat mencerna laktosa pada susu sapi, akibatnya terjadilah intoleransi laktosa.

Ciri-Ciri Intoleransi Laktosa

  • Bayi yang mengalami intoleransi laktosa pada bayi akan mengalami diare dengan feses berbusa dan berair.
  • Perut bayi cenderung kembung.
  • Bayi mengeluarkan gas lebih sering, atau sekitar 30 menit hingga 2 jam setelah ia selesai menyusu.
  • Bayi mengalami kram perut yang ditandai dengan rewel dan mengangkat kaki ke arah perut.

Mengatasi Intoleransi Laktosa

Apabila bayi anda mengalami intoleransi laktosa, maka anda dapat melakukan langkah-langkah seperti di bawah ini untuk mengatasinya.

  • Anda harus selalu memperhatikan atau mengamati reaksi anak anda ketika diberi susu tambahan.
  • Apabila terlihat gejala intoleransi laktosa, segera hentikan pemberian susu tambahan pada si kecil.
    Sebaiknya berikan susu rendah laktosa atau bebas laktosa sama sekali.
  • Ketika membeli susu atau produk olahannya, anda harus selalu membaca label dari kemasannya.
  • Hindari membeli susu atau produk olahan susu yang terdapat tulisan laktosa.
  • Jika bayi anda sudah mengkonsumsi MPASI atau makanan pendamping ASI, berilah ia makanan yang mengandung kalsium seperti brokoli, tahu, tauge, sawi hijau dan lain sebagainya.

Mengenai jenis penolakan terhadap susu sapi ini, faktanya alergi susu sapi lebih berbahaya dibandingkan dengan intoleransi laktosa. Meskipun seperti itu, baik si kecil mengalami alergi susu sapi atau intoleransi laktosa, penting bagi anda untuk konsultasi pada dokter.